Penulis : Viki Junianto

Dalam mengetahui otentitas hadis, ternyata instrumen kritik ahli hadis bukanlah satu-satunya metode. Dalam kitab al-Hadis as-Sahih wa Manhaju Ulama al-Muslimin fi at-Tashih, Syekh Abdul Karim Ismail as-Sabbah menjelaskan bahwa, selain metode hadis, terdapat metode lain yang digunakan oleh kaum muslimin untuk mengetahui otentitas sebuah hadis.

Tidak semua kaum muslimin sepakat dan mengamini instrumen yang dirumuskan oleh ahli hadis. Perbedaan metodologis tersebut disebabkan oleh latarbelakang diskursus keilmuan yang berbeda. Di antara banyak metode dalam mengetahui otentitas sebuah hadis, motode ahli sufi lah yang dipandang sebagai metode yang kontroversional. Metode ahli sufi dianggap tidak mempunyai dasar epistimologi yang kuat dan dapat dibenarkan secara rasional.

Perlu diketahui bahwa istilah ahli sufi di atas tidak dimaksudkan untuk keseluruhan ahli sufi. Para ahli sufi terklasifikasi menjadi tiga golongan: Pertama, sufi pengikut tasawuf akhlaki, yaitu tawasuf yang berfokus pada perbaikan moral, dan di antara tokohnya adalah Imam Ghazali. Kedua, sufi pengikut tasawuf amaly, sebuah aliran tasawuf yang berfokus pada amal kebajikan, Hasan al-Bashri adalah salah satu tokohnya. Dan yang ketika adalah sufi yang mengikuti tasawuf falsafi, aliran tasawuf yang menggabungkan sisi mistis dan nalar rasio, Ibnu Arabi didaulat sebagai tokohnya.

Dan yang sufi yang dimaksud dalam tulisan ini adalah sufi yang mengikuti aliran tasawuf falsafi.

Setelah meneliti beberapa kitab karangan sufi falsafi, setidaknya ada dua metode yang ditempuh oleh mereka untuk mengetahui otentitas sebuah hadis yaitu: kasf dan tajribah.

  1. Kasf

Kasf seperti yang dikatakan oleh al-Jurjani:

الإطلاع على ما وراء الحجاب  من المعانى الغيبة والأمور الحقيقة وجودا وشعورا.

“Melihat sesuatu yang berada dibelakang penghalang berupa esensi-esensi yang tersembunyi dan perkara hakikat, baik secara nyata ataupun intuitif”

Para sufi menganggap bahwa kasf merupakan metode yang pang worth it untuk memperoleh kebenaran. Atas dasar itulah, untuk mengetahui otentitas sebuah hadis, mereka menggunakan motode ini.

Dalam prakteknya, untuk mengetahui kualitas sebuah hadis, mereka akan menanyakannya langsung kepada Nabi Muhammad SAW, baik dalam keadaan terjaga ataupun dalam mimpi.

Abu Mawahib merupakan tokoh yang terlacak pernah menggunakan metode ini:

قال أبو المواهب الشاذلى :”رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فسألته عن أحاديث المشهور- اذكرو الله حتى يقولوا:مجنون-وفى صحيح ابن حبان- اكثروا من ذكر الله حتى يقولوا- مجنون فقال: صدق ابن حبان فى روايته وصدق راوي.

Abu Mawahib berkata as-Syadili berkata: “Aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah, kemudian aku bertanya kepada beliau tentang hadis masyhur riwayat ibnu Hibban. Lantas Nabi menjawab: ‘Benar apa yang dikatakan oleh Ibnu Hibban dan rawi hadis itu”.

Lebih jauh lagi, dalam kitabnya Futuhat al-Makkiyah, Ibnu Arabi mempertentangkan antara metode yang dipakai oleh ahli sufi dan ahli hadis. Beliau berpendapat bahwa jika ada pertentangan antara ahli sufi dan ahli hadis dalam menyikapi suatu hadis, maka yang harus dimenangkan adalah metode ahli sufi yaitu kasf, dikarenakan kasfh merupakan penjelasan langsung dari Tuhan.

ورب حديث يكون صحيحا من طرق رواته يحصل لهذا المكاشف الذى قد عاين هذا المظهر فسأل النبى صلى الله عليه وسلم عن هذا الحديث الصحيح فأنكر وقال صلى الله عليه وسلم لا أقله ولا جكمت به فيعلم ضعفه فيترك العمل به عن بينة من ربه وإن كان قد عمل به أهل النقل لصحة طريقه.

Banyak sekali hadis sahih dalam segi periwayatannya, namun setelah ditanyakan langsung kepada Nabi SAW melalui kasyf, beliau mengingkarinya seraya berkata “Aku tidak pernah mengatakannya dan aku tidak mengakuinya”. Pada akhirnya hadis itu pun diketahui kedaifannya dan ditinggalkan atas penjelasan dari Tuhan, walaupun hadis itu diamalkan oleh ahli hadis karena sahih riwayatnya.

  1. Tajribah

Metode kedua yang digunakan oleh ahli hadis dalam menilai suatu hadis adalah tajribah atau aplikatif. Tajribah dalam pengertian ahli sufi di sini adalah menguji isi kandungan hadis dengan mempraktekkannya. Jika kadungan hadis tersebut terbukti benar, maka hadis tersebut dianggap sahih. Namun jika tidak terbukti, maka akan hadis tersebut akan ditinggalkan.

Di antara contoh dari praktek metode ini adalah,

“ماء زمزم ملا شرب له” هذا حديث مختلف فى صحته بين المتقدمين والمتأخرين من المحدثين. قال السخاوي: وقد جربه جماعة من الصوفية فذكروا : أنه صحيح.

Hadis keutamaan air zam-zam merupakan hadis yang diperselisihkan oleh ahli hadis akan kesahihannya. Imam Sakhawi berkata: “Golongan ahli sufi telah mempraktekkan hadis ini, lantar mereka berkata bahwa hadis ini sahih.

Dari keterangan tersebut bisa diambil lesimpulan bahwa ahli sufi menyimpulkan kualitas sebuah sanad tidak melalui tinjaan kajian sanad, melainkan dari kebenaran konten dan kandungan hadis tersebut. contoh lain,

 حديث ابن عباس مرفوعا : من وسع على نفسه وعياله يوم عاشورا وسع الله عليه ورزقه ذلك العام. قال جابر وابن الزبير وشعبة بن الحجاج : جربناه فصح

Hadis Marfu Ibnu abbas tentang keutamaan bersedekah kepada keluarga pada hari Asyura. Jabir, Ibnu Zubair, dan Syu’bah bin hajjaj berkata: Kami telah mempraktekkannya dan hadis itu sahih.

Lantas, apakah metode sufi ini bisa dipertanggung jawabkan kredibilitasnya, bagaimana pendapatmu?

Bagi yang masih penasaran, bisa ngintip hasil penelitian penulis dalam masalah ini.

http://repository.tebuireng.ac.id/index.php?p=show_detail&id=151&keywords=