Penulis: Ilham Zihaq

Pada saat panen ketéla, jagung atau lainnya, oleh hadratussyaikh hasil panen tersebut di taruh di depan ndalem kesepuhan, dan dibagikan kepada seluruh santri Tebuireng. Hingga semua santri Tebuireng telah mengambilnya, baru Hadratussyaikh Hasyim memasukkan panennya tersebut ke ndalem untuk dikonsumsi oleh keluarga. Cerita ini didapat dari KH. Kholid Aly, menantu KH. Syansuri Badawi.

Kedermawanan KH. Hasyim Asy’ari juga diceritakan oleh KH. Mahfudz Anwar yang ditulis dalam Majalah Tebuireng. Bahwa KH. Mahfudz Anwar Seblak ditugaskan oleh Hadratussyaikh untuk mendata seluruh santri Tebuireng. Dan dengan dasar data itu, Hadratussyaikh menyediakan bungkusan ketan serta minumannya, dibagikan ke kamar-kamar setiap menjelang maghrib untuk sebagai ta’jil buka puasa. Itu dilakukan se-bulan penuh dan setiap bulan Ramadhan.

Perhatian khusus Hadratussyaikh itu membuat hubungannya tidak saja sebagai Kyai dan santri, tetepi lebih dari itu sehingga menimbulkan rasa rela dalam artian yang sebenarnya. Santri merasa bahwa Hadratussyaikh itu lebih dari orang tuanya sendiri.

Ini adalah tindakan nyata dari Hadratussyaikh, dari pengalaman hadis ini;

حدثنا مُحَمَّدٍ الْوَرَّاقُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنْ النَّارِ وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنْ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنْ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنْ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنْ النَّارِ وَلَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَالِمٍ بَخِيلٍ. أخرج الترمذي

“Orang dermawan itu dekat dgn Allah, dekat dgn surga, dekat dgn manusia, & jauh dari neraka. Sedangkan orang yg bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari menusia, & dekat dgn neraka. Sesungguhnya orang bodoh yg dermawan lebih Allah cintai dari pada seorang ‘alim yg bakhil” HR. Tirmidzi

Semoga kita semua bisa meniru jejak langkah pendiri NU dan Pesantren Tebuireng.