• Kontributor
  • Daftar
  • Login
  • Register
Upgrade
Nuskha
Advertisement
  • Home
  • Opini
  • Fikih
  • Hadis
    • Fiqhul Hadis
    • Hadis Tematik
    • Kualitas Hadis
      • musthalah & ulumul hadits
      • Sejarah Hadis
  • Tafsir
  • Aqidah
No Result
View All Result
  • Home
  • Opini
  • Fikih
  • Hadis
    • Fiqhul Hadis
    • Hadis Tematik
    • Kualitas Hadis
      • musthalah & ulumul hadits
      • Sejarah Hadis
  • Tafsir
  • Aqidah
No Result
View All Result
Nuskha
No Result
View All Result
Home Respon & Opini biografi & kisah

Investigasi Pondasi Hadis Syeikh Naquib Al-Attas dalam Falsafah Pendidikan Islam

YUNIAR INDRA by YUNIAR INDRA
Oktober 1, 2025
in biografi & kisah, Kajian Hadis, Respon & Opini
0
Investigasi Pondasi Hadis Syeikh Naquib Al-Attas dalam Falsafah Pendidikan Islam

Salah seorang cendikiawan masyhur dari tanah Melayu adalah Sayyid M. Naquib Al-Attas. Nama lengkapnya adalah Muhammad Naquib ibn Ali ibn Abdulllah ibn Muhsin Al-Attas. Ia lahir pada 5 September 1931 di Bogor, Jawa Barat. Jika ditarik ke atas, maka silsilah keluarganya terpaut dalam keluarga Ba’alawi di Hadramaut yang bersambung kepada Imam Hussein. Pada usia lima tahun ia dikirim ke Johor untuk belajar di Sekolah Dasar Ngee Heng (1936-1941). Saat pendudukan Jepang ia kembali ke Jawa, Sukabumi untuk meneruskan pendidikannya di Madrasah Al-‘Urwatu Al-Wuthqa (1941-1945). Setelahnya ia kembali lagi ke Johor dan menetap Georgetown, Pulau Pinang, Malaysia hingga kini.[1]

Ia merupakan pembaharu dalam dunia pendidikan Islam. Naquib Al-Attas memandang bahwa kesenjangan ekonomi, sains, dan teknologi dalam Islam bukan permasalahan inti dari pada umat Islam masa kini. Jika kebanyakan para pemimpin umat Islam hanya memperhatikan kulit luar dari pada inti permasalahan yang mengggiring umat ke dalam kancah ketidakberuntungan ini, maka Naquib Al-Attas melihat bahwa inti pokok permasalahan umat Islam yakni kehilangan adab (the loss of adab). Kehilangan adab tersebut disebabkan oleh kekeliruan dan kehilangan ilmu pengetahuan. Lebih rincinya:

  1. Kekeliruan dan kesilapan persepsi tentang ilmu pengetahuan, yang akan menciptakan:
  2. Kehilangan adab dalam masyarakat. Akibat yang timbul dari perkara pertama dan kedua yakni:
  3. Munculnya pemimpin yang bukan saja tidak layak memimpin umat, malah juga tidak memiliki akhlak yang luhur dan intelektual dan spiritual yang cukup.

Kekeliruan dan kesilapan dalam ilmu pengetahuan ini, bagi Al-Attas, adalah faktor paling bertanggungjawab.

Baginya, kebangkitan umat Islam tidak hanya diawali dengan memberikan perhatian besar terhadap penyediaan sarana pendidikan. Sesuatu yang lebih penting daripada itu adalah penyelesaian konsepsi ilmu yang benar.  Konsepsi keilmuan yang benar akan melahirkan adab yang baik. Sebagai contoh, adab terhadap diri sendiri bermula ketika seseorang mengakui bahwa dirinya terdiri dari dua unsur; ‘aqli dan hayawani. Adab dalam konteks hubungan antara sesama manusia berarti norma etika sepatutnya. Dalam hal ini kedudukan seseorang bukan ditentukan oleh kekuatan, kekayaan, atau keturunan melainkan ditentukan oleh ilmu, akal, dan perbuatan mulia. Pada konteks ilmu, adab berarti disiplin intelektual yang mengetahui hirarki keilmuan. Misal; bahwasannya fardu ‘ain lebih utama dari pada fard al-kifayah.

Itulah alasan Naquib Al-Attas menamakan pendidikan dengan istilah ta’dib. Ia mendasarinya dengan hadis:

أَدَّبَنِي ربِّي، فأَحْسَنَ تَأْدِيبِي

Al-Attas menerjemahkan dengan: “Tuhanku telah mendidikku, maka sangat baiklah mutu pendidikanku”

Lalu, bagaimana hasil investigasi dari hadis tersebut menurut ilmu hadis? Ini penting karena kita akan tahu proses living hadis yang berasal dari teks, hingga menjadi falsafah pendidikan Islam bagi Naquib Al-Attas. Sebelum itu, artikel ini memperkenalkan sumber hadis, kualitas, seta pemahaman para ulama’ terkait hadis tersebut. Hal ini diinvestigasi melalui perangkat ilmu hadis; takhrij, dirasah sanad dan matan, serta fiqh al-hadis.

Investigasi Pondasi Hadis Addabani Rabbi fa Ahsana Ta’dibi

Ibn Taimiyah menilai bahwa hadis Addabani Rabbi fa Ahsana Ta’dibi merupakan hadis hadis yang tidak diketahui sumber aslinya, meski demikian makna hadis tersebut sahih. Demikian disebutkan oleh Ibn Taimiyah dalam kitab Ahadis al-Qussas.[2] Sementara Al-Sakhawi menyebutkan dalam al-Maqashid al-Hasanah bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh Ali ibn Abi Thalib. Hanya saja hadis tersebut bersanad sangat dhaif (dhaif jiddan). Alasan kedaifannya disebabkan oleh sifat gharib daripada hadis tersebut. Riwayat teks:

عَنْ أَبِي عُمَارَةَ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَدِمَ بَنُو نَهْدِ بْنِ زَيْدٍ عَلَى النَّبِيِّ فَقَالُوا: أَتَيْنَاكَ مِنْ غَوْرَيْ تُهَامَةَ، وَذَكَرَ خُطْبَتَهُمْ، وَمَا أَجَابَهُمْ بِهِ النَّبِيُّ قَالَ: فَقُلْنَا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، نَحْنُ بَنُو أَبٍ وَاحِدٍ، وَنَشَأْنَا فِي بَلَدٍ وَاحِدٍ، وَإِنَّكَ لَتُكَلِّمُ الْعَرَبَ بِلِسَانٍ مَا نَفْهَمُ أَكْثَرَهُ، فَقَالَ: «إنَّ اللَّهَ أَدَّبَنِي فَأَحْسَنَ أَدَبِي، وَنَشَأْتُ فِي بَنِي سَعْدِ بْنِ بَكْرٍ»

Dari Abi ‘Umarah, dari Ali RA menceritakan: bahwa bani Nahd ibn Zaid mendatangi Nabi seraya berkata. “Kami mendatangimu dari lembah Tuhamah”. Lalu mereka menuturkan keperluannya, namun Nabi tidak menjawabnya. Kemudian mereka berkata, “Wahai Nabi Allah, kita ini satu turunan, hidup di daerah yang sama, tetapi engkau berbicara kepada orang-orang Arab dengan bahasa yang kebanyakan kami tidak memahaminya.” Lalu Nabi menjawab, “Sesungguhnya Allah mendidikku, sehingga baguslah pendidikanku. Dan aku hidup di bani Sa’ad ibn Bakr.”

Riwayat lain juga disebutkan oleh Abu Sa’ad ibn Al-Sam’ani dalam Adab al-Imla’ dengan sanad munqathi’.

قال رسول اللَّه: «إن اللَّه أدبني فأحسن تأديبي، ثم أمرني بمكارم الأخلاق

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mendidikku, sehingga baguslah pendidikanku. Sekaligus memerintahkanku untuk berakhlak baik.”

Tentu dapat dipahami bahwa apa yang dinilai oleh Ibn Taimiyah terhadap hadis di atas adalah tepat. Sebab tidak ada sumber utama yang menyebutkan sanadnya secara jelas dan tersambung. Meski demikian ia tidak menafikan bahwa makna daripada hadisnya ialah sahih. Sehingga pada kasus ini kita harus memegang nasihat Al-Sakhawi yakni “kami harap kita dapat membedakan antara kesahihan ungkapan dari segi maknanya dan penisbatannya kepada Rasulullah.”[3]

Pada ranah pemahaman penulis menukil hasil fiqh al-hadis dari ulama’ tafsir isyari. Usai dilakukan pelacakan teks hadis tersebut, penulis menjumpai hadis tersebut banyak terkutip dalam tafsir-tafsir isyari. Di antaranya terdapat dalam Ghara’ib al-Qur’an karya Nidzamuddin Al-Naisaburi ketika menafsiri surah Al-Najm ayat 3-5; wa ma yanthiqu ‘an al-hawa, in huwa illa wahyun yuha, ‘allamahu syadid al-quwa. Ayat tersebut dipahami oleh mufasir sebagai argumen bahwa Nabi Saw. tidak mungkin diajari oleh manusia. Hal tersebut dikuatkan oleh mufasir dengan hadis Addabani Rabbi fa Ahsana Ta’dibi.[4]

Selain itu Ismail Haqqi dalam Ruh al-Bayan juga mengutip hadis tersebut untuk menguatkan argumentasi dalam ayat 53 surah Al-Ahzab tentang aturan masuk rumah seseorang hingga pemilik rumah mengizinkan. Menurutnya adab itu puncak dari pengamalan dan permulaan dari sebuah hal (keadaan batin) dalam sisi Allah Swt. Sehingga setiap anggota zahir itu wajib memiliki adab, begitu pun anggota batin.[5]

Dari sini dapat dipahami bahwa apa yang dipahami oleh Naquib Al-Attas terhadap hadis tersebut selaras dengan pemahaman para ulama. Keduanya; baik Naquib dan para ulama’ tafsir yang disebutkan di atas tidak mengomentari tentang kesahihan penisbatan hadis tersebut kepada Nabi Saw. Mereka hanya menggunakan hadis tersebut untuk mengambil maknanya. Artinya, hadis Addabani Rabbi fa Ahsana Ta’dibi masih banyak digunakan sebagai argumentasi oleh para ahli dari segi makna, meski penisbatannya kepada Nabi Saw. tidak sah.


[1] Wan Mohd Nor Wan Daud, Falsafah dan Amalan Pendidikan Islam S. M. Naquib Al-Attas, (Penerbit Universiti Malaya, Kuala Lumpur: 2023).

[2] ابن تيمية, أحاديث القصاص تحقيق: محمد بن لطفي الصباغ. 92-93
[3] السخاوي, المقاصد الحسنة في بيان كثير من الأحاديث المشتهرة على الألسنة.
[4] نظام الدين الحسن بن محمد بن حسين القمي النيسابوري, غرائب القرآن ورغائب الفرقان تحقيق: زكريا عميرات (بيروت: دار الكتب العلمية, 1996) 6/199
[5] إسماعيل حقي بن مصطفى الحنفي الخلوتي البروسي, روح البيان في تفسير القرآن تحقيق: عبد اللطيف حسن عبد الرحمن (بيروت: دار الكتب العلمية، 2018) 7/215

Editor: Vigar Ramadhan Dano Muhamad Daeng

Tags: hadisNaquib Al-AttasPendidikan
Previous Post

Laku Menulis adalah Laku Merawat Ilmu; Sebuah Refleksi dan Motivasi

Next Post

Meluruskan Kesalahpahaman Hadis “Salat Orang Mabuk Tidak Diterima 40 Hari”

YUNIAR INDRA

YUNIAR INDRA

Related Posts

Berbuka dengan yang Manis, Bukan Berlebihan
Fiqhul Hadis

Berbuka dengan yang Manis, Bukan Berlebihan

by Vigar Ramadhan
Maret 16, 2026
Antara Al-Qur’an dan Kitab Kuning: Mana yang Harus Diutamakan di Bulan Ramadhan?
Kajian Hadis

Antara Al-Qur’an dan Kitab Kuning: Mana yang Harus Diutamakan di Bulan Ramadhan?

by Ma’sum
April 4, 2026
Peperangan Bukanlah Pembunuhan: Bantahan atas Gugatan terhadap Keadilan Seluruh Sahabat
Kajian Hadis

Peperangan Bukanlah Pembunuhan: Bantahan atas Gugatan terhadap Keadilan Seluruh Sahabat

by Irma Nurdin
April 4, 2026
Membongkar Kebohongan Fenomena Mu’ammarun dan Distorsi Sanad Hadis
Kajian Hadis

Membongkar Kebohongan Fenomena Mu’ammarun dan Distorsi Sanad Hadis

by Husnu Widadi
Februari 19, 2026
Isak Rindu Hadratussyaikh pada Syaikh Nawawi Al-Bantani
biografi & kisah

Isak Rindu Hadratussyaikh pada Syaikh Nawawi Al-Bantani

by Mohamad Anang Firdaus
Februari 13, 2026
Next Post
Meluruskan Kesalahpahaman Hadis “Salat Orang Mabuk Tidak Diterima 40 Hari”

Meluruskan Kesalahpahaman Hadis "Salat Orang Mabuk Tidak Diterima 40 Hari"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

register akun perpus maha

Premium Content

Jangan Sembarangan Bernadzar

Jangan Sembarangan Bernadzar

September 23, 2023
Ke‘adalahan Sahabat Itu Mutlak, Tidak Bisa Diganggu Gugat

Ke‘adalahan Sahabat Itu Mutlak, Tidak Bisa Diganggu Gugat

Februari 13, 2024
Relasi Gender dengan Kisah-Kisah al-Quran

Relasi Gender dengan Kisah-Kisah al-Quran

Agustus 29, 2023

Browse by Category

  • Berita
  • biografi & kisah
  • Feminisme
  • Fikih Ibadah
  • Fikih Muamalah
  • Fiqhul Hadis
  • Hadis Tematik
  • Hasyimian
  • Kajian Fikih
  • Kajian Hadis
  • Kualitas Hadis
  • musthalah & ulumul hadits
  • Opini
  • Psikologi, Akhlaq & Adab
  • Resensi
  • Respon & Opini
  • Review Literatur
  • Sejarah Hadis
  • Tafsir dan Ulum al-Qur'an
  • Tarikh Tasyri'
  • Tasawuf & Riyadhah
  • Tekno
  • tidak tahu

Browse by Tags

ahli fiqih Alam artikel bumi demonstrasi dermawan dirasat asanid fikih hadis hadist Hasyim Asy'ari ilmu hadis islam jurnal Kajianhadis kajian hadis kajianhadist kritik hadis lingkungan ma'hadaly ma'had aly ma'hadalyhasyimasy'ari mahad aly mahad aly hasyim asyari Mahasantri masyayikh Tebuireng Metodelogi Muhaddis musthalah hadits Nabi Nabi Muhammad Nuskha OJS orientalis Puasa qur'an Ramadhan sanad sejarah Shalat takhrij Tarawih Tasawuf Tebuireng ulama
Nuskha

© 2023 Nuskha - powered by Perpustakaan Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng.

Navigate Site

  • Kontributor NUSKHA
  • Login
  • Logout
  • Register
  • Kirim tulisan (via whatsapp)
  • Katalog Perpustakaan MAHA
  • Risalah bakalurius (skripsi) MAHA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Login/menulis
  • Buat akun
  • Opini
  • Tafsir
  • Kajian Aqidah
  • Kajian Fikih
  • Kajian Hadis
  • Psikologi, Akhlaq & Adab
  • Tasawuf & Riyadhah

© 2023 Nuskha - powered by Perpustakaan Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Mau mengirim tulisan?
Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?