• Kontributor
  • Daftar
  • Login
  • Register
Upgrade
Nuskha
Advertisement
  • Home
  • Opini
  • Fikih
  • Hadis
    • Fiqhul Hadis
    • Hadis Tematik
    • Kualitas Hadis
      • musthalah & ulumul hadits
      • Sejarah Hadis
  • Tafsir
  • Aqidah
No Result
View All Result
  • Home
  • Opini
  • Fikih
  • Hadis
    • Fiqhul Hadis
    • Hadis Tematik
    • Kualitas Hadis
      • musthalah & ulumul hadits
      • Sejarah Hadis
  • Tafsir
  • Aqidah
No Result
View All Result
Nuskha
No Result
View All Result
Home Kajian Fikih Fikih Ibadah

Air yang Tak Ternajisi: Refleksi Hadis Dua Qullah dalam Dakwah Gus Miek di Dunia Malam

Ridwan GG by Ridwan GG
Maret 28, 2026
in Fikih Ibadah, Tasawuf & Riyadhah
0
Air yang Tak Ternajisi: Refleksi Hadis Dua Qullah dalam Dakwah Gus Miek di Dunia Malam

Ada hal menarik yang disampaikan oleh salah satu sahabat saya setelah pengajian kitab Minhāj al-Ṭālibīn. Malam itu, kiai mengajar dengan tenang, membahas bab tentang air mulai dari jenis-jenisnya, hukum-hukumnya, serta bagaimana air bisa tetap suci meski bersentuhan dengan sesuatu yang najis, selama tidak berubah warna, rasa, atau baunya. Awalnya kami mengira pembahasan ini hanya soal fikih dasar, tapi semakin lama mendengar, kami mulai merasakan ada makna lain di baliknya, tentang bagaimana seseorang menjaga kejernihan diri di tengah banyak hal yang bisa mengotori. Kajian malam itu sederhana, namun meninggalkan kesan yang mendalam.

Usai pengajian, penulis langsung teringat pada sosok ulama yang memilih berdakwah di tempat-tempat yang jarang tersentuh oleh kalam agama, KH. Chamim Jazuli atau yang lebih dikenal dengan Gus Miek. Masyhur di kalangan masyarakat bahwa beliau dikenal dengan metode dakwahnya yang unik. Tidak hanya berdakwah di masjid atau pesantren, beliau juga berdakwah di tempat-tempat yang dianggap maksiat seperti karaoke, diskotek, dan tempat hiburan malam lainnya. Gus Miek mampu merangkul siapa pun, berani memasuki lingkungan yang dihindari banyak orang, dan tetap bergaul tanpa kehilangan jernihnya hati.

Terbesit di hati penulis, beliau bukan hanya ulama besar, tetapi juga putra dari seorang kiai yang masyhur di kalangan santri. Namun, beliau justru memilih menapakkan langkah dakwahnya di medan yang tidak biasa. Karena dari situ, timbul satu pertanyaan dalam hati: bagaimana beliau bisa tetap bertahan dan menjaga kejernihan di medan dakwah yang begitu licin?

Pertanyaan itu membuat penulis teringat pada satu hadis yang baru saja kami pelajari malam itu, tentang air dua qullah. Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ

“Apabila air telah mencapai dua qullah, maka ia tidak menanggung najis.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya)

Hadis ini memang berbicara tentang hukum fikih, mengenai ukuran air yang tidak menjadi najis kecuali jika berubah sifatnya. Namun, dalam renungan penulis, hadis ini juga menyimpan makna batin yang dalam. Air dua qullah seolah menjadi simbol bagi hati seorang da’i sejati: begitu kuat dan luasnya kejernihan itu, hingga tidak mudah ternodai oleh lingkungan di sekitarnya. Mungkin di situlah rahasia keteguhan Gus Miek, hatinya sudah sebesar dua qullah, bahkan lebih. Beliau hadir di tengah kekeruhan, tapi tidak ikut keruh. Beliau mendatangi tempat-tempat maksiat bukan untuk menikmati gelapnya, melainkan untuk menyalakan cahaya kecil di dalamnya.

Jika dipikir-pikir, tidak mudah bagi seseorang untuk tetap kuat di tempat yang penuh godaan, terlebih di lingkungan yang orang lain saja enggan mendekat. Namun, dari cerita tentang Gus Miek, penulis melihat bahwa keberanian beliau bukan karena merasa paling benar, tapi karena rasa sayang kepada orang-orang yang jauh dari jalan kebaikan. Beliau datang bukan untuk menghakimi, tapi untuk menemani. Cara dakwahnya sederhana, lebih banyak dengan hadir, mendengar, dan mendoakan. Tidak semua orang bisa seperti itu, sebab perlu hati yang benar-benar bersih untuk tetap jernih di tempat yang kotor. Hal-hal tersebut juga menurun kepada putra-putra beliau yang selalu mengutamakan bersihnya hati dalam melakukan hal apapun, sehingga kami yang mendengar dawuh-dawuhnya merasa sejuk dan tenang. Itulah dakwah yang benar, “merangkul bukan memukul”.

Semakin dipikir, penulis menjadi sadar bahwa dakwah tidak harus selalu melalui mimbar dan pengeras suara. Terkadang, cukup dengan kehadiran yang tulus dan doa dalam diam. Tidak semua orang bisa memahami cara seperti itu, karena yang terlihat di luar sering kali menipu pandangan. Namun, mungkin di situlah makna sebenarnya dari ilmu yang kami pelajari malam itu: menjaga hati agar tetap bersih, apa pun dan di mana pun keadaannya. Sebab ketika hati sudah jernih, setiap langkah pun bisa menjadi bentuk dakwah, meski tanpa kata-kata.

Dari pengajian malam itu, penulis menjadi paham bahwa pelajaran fikih tidak selalu berhenti pada persoalan hukum saja. Terkadang, di balik pembahasan yang tampak sederhana, tersimpan pesan yang lebih dalam. Seperti halnya dengan permaslahan air yang tidak menjadi najis kecuali jika berubah sifatnya, di dalamnya juga mengandung makna tentang bagaimana kita menjaga diri agar tetap bersih meski berada di lingkungan yang kotor. Tentang bagaimana seseorang bisa tetap jernih di tengah banyak hal yang bisa mengotori. Penulis teringat lagi pada kisah Gus Miek, yang berani berdakwah di tempat-tempat yang jarang tersentuh. Mungkin hati beliau sudah seperti air yang banyak tidak mudah berubah, meski bersentuhan dengan apa pun. Dan dari situ penulis belajar, bahwa menjadi bersih bukan berarti harus menjauh, tapi mampu tetap jernih di mana pun berada.

Editor: Mawil Hasanah Almusaddadah

Tags: gus miekhadismahad aly hasyim asyariMahasantriTebuireng
Previous Post

Meluruskan Kesalahpahaman Hadis “Salat Orang Mabuk Tidak Diterima 40 Hari”

Next Post

Memahami Pemikiran Prof. Ali Musthafa Ya’kub secara Metodologis

Ridwan GG

Ridwan GG

Mahasiswa gantengggg pol Anak Syalmahat

Related Posts

Menggali Kepalsuan Hadis: Shalat Kafarah di Jumat Terakhir Ramadhan Sebagai Pengganti Shalat yang Telah Ditinggalkan
Fikih Ibadah

Menggali Kepalsuan Hadis: Shalat Kafarah di Jumat Terakhir Ramadhan Sebagai Pengganti Shalat yang Telah Ditinggalkan

by Ilham Arifin
Maret 28, 2025
Kisah Sahabat yang Buta dan Keutamaan Tawasul
biografi & kisah

Kisah Sahabat yang Buta dan Keutamaan Tawasul

by Maha santri
Maret 28, 2026
‘Ataqoh Kubro Ijazah dari Hadratussyaikh
Tasawuf & Riyadhah

‘Ataqoh Kubro Ijazah dari Hadratussyaikh

by IlHAM ZIDALHAQ
Agustus 29, 2023
Oknum Guru Tarekat dalam Pandangan KH. Hasyim Asy’ari
Tasawuf & Riyadhah

Oknum Guru Tarekat dalam Pandangan KH. Hasyim Asy’ari

by IlHAM ZIDALHAQ
Agustus 29, 2023
Next Post
Memahami Pemikiran Prof. Ali Musthafa Ya’kub secara Metodologis

Memahami Pemikiran Prof. Ali Musthafa Ya'kub secara Metodologis

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

register akun perpus maha

Premium Content

Sinergi Muhaddisin dan Fuqaha: Harmoni dalam Pengembangan Keilmuan Islam

Sinergi Muhaddisin dan Fuqaha: Harmoni dalam Pengembangan Keilmuan Islam

Maret 23, 2025
Jangan Sembarangan Bernadzar

Jangan Sembarangan Bernadzar

September 23, 2023
Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan Sang Istri.

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan Sang Istri.

Agustus 29, 2023

Browse by Category

  • Berita
  • biografi & kisah
  • Feminisme
  • Fikih Ibadah
  • Fikih Muamalah
  • Fiqhul Hadis
  • Hadis Tematik
  • Hasyimian
  • Kajian Fikih
  • Kajian Hadis
  • Kualitas Hadis
  • musthalah & ulumul hadits
  • Opini
  • Psikologi, Akhlaq & Adab
  • Resensi
  • Respon & Opini
  • Review Literatur
  • Sejarah Hadis
  • Tafsir dan Ulum al-Qur'an
  • Tarikh Tasyri'
  • Tasawuf & Riyadhah
  • Tekno
  • tidak tahu

Browse by Tags

ahli fiqih Alam artikel bumi demonstrasi dermawan dirasat asanid fikih hadis hadist Hasyim Asy'ari ilmu hadis islam jurnal Kajianhadis kajian hadis kajianhadist kritik hadis lingkungan ma'hadaly ma'had aly ma'hadalyhasyimasy'ari mahad aly mahad aly hasyim asyari Mahasantri masyayikh Tebuireng Metodelogi Muhaddis musthalah hadits Nabi Nabi Muhammad Nuskha OJS orientalis Puasa qur'an Ramadhan sanad sejarah Shalat takhrij Tarawih Tasawuf Tebuireng ulama
Nuskha

© 2023 Nuskha - powered by Perpustakaan Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng.

Navigate Site

  • Kontributor NUSKHA
  • Login
  • Logout
  • Register
  • Kirim tulisan (via whatsapp)
  • Katalog Perpustakaan MAHA
  • Risalah bakalurius (skripsi) MAHA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Login/menulis
  • Buat akun
  • Opini
  • Tafsir
  • Kajian Aqidah
  • Kajian Fikih
  • Kajian Hadis
  • Psikologi, Akhlaq & Adab
  • Tasawuf & Riyadhah

© 2023 Nuskha - powered by Perpustakaan Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Mau mengirim tulisan?
Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?