Selepas salat Isya, Hadratusussyaikh sedang khusyuk menelaah kitab Tafsir ibn Katsir di masjid Tebuireng. Beberapa saat kemudian, suasana menjadi meredup, karena lampu minyak di hadapannya hampir padam. Di tengah remang itu, memori beliau melompat jauh ke Makkah (Syi’ib Ali), kepada gurunya, Syaikh Nawawi al-Bantani. Hadratussyaikh lantas bercerita; “Saat lampu minyak hampir padam, guru mulia Syaikh Nawawi menggosoknya sambil membaca:
اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌۙ (An-Nur : 35)
lantas bersinarlah lampu minyak Syaikh Nawawi“, ucap Hadratussyaikh.
Syaikh Nawawi bertabarruk dengan ayat ini, yang beliau jelaskan dalam tafsirnya bahwa Nur Allah memiliki sifat “al-faidl” yang cahaya-Nya mampu meluber pada benda-benda yang dijadikan sebagai media sumber cahaya (kinayah untuk Al-Qur’an). Syaikh Nawawi al-Bantani menjelaskan:
(مثل نوره) أي صفة النور الفائض من الله تعالى على الأشياء المستنيرة به وهو القرآن هو كمشكوة اي كصفة كوة غير نافذة في الجدار في الإضاءة والتنوير.
“(مثل نوره)” yakni sifat cahaya yang melimpah dari Allah Ta‘ala yang dipancarkan kepada segala sesuatu yang memperoleh penerangan dengannya. Cahaya itu—yaitu Al-Qur’an—diumpamakan seperti misykat, yakni seperti sebuah ceruk atau lubang pada dinding yang tidak tembus, dalam hal memberikan cahaya dan penerangan.
Namun, rupanya Syaikh Nawawi juga memakai makna haqiqi dalam ayat ini (lampu minyak) mishbah atau qindzil.
Kiai Hasyim menceritakan gurunya itu sambil menirukannya, menggosok lampu sambil membaca Surah Al-Nur ayat 35. Seketika lampu minyak milik Kiai Hasyim pun juga mulai berpendar lagi. Karuan saja, suasana hati Kiai Hasyim mengharu biru. Beliau menangis, teringat bagaimana sang guru seringkali mengajar dalam kondisi serupa, bahkan lebih sederhana.
Syaikh Nawawi sang pengulu ulama Hijaz itu mengajar dalam keterbatasan. Dalam catatan Snouck, Syaikh Nawawi tak berbakat dalam mencari uang, bahkan ia tidak menginginkan hidup mewah. Walaupun menerima banyak hadiah yang berharga dari orang-orang, ia hidup sangat sederhana. Sampai-sampai untuk menulis saja beliau menggunakan lampu minyak type kecil (misrajah), yang umumnya dipakai untuk penerangan portable, seperti mengantar orang ke luar rumah. Namun, siapa sangka karangan yang ditulis dari lampu redup itu kini menjadi mahakarya yang dipelajari di banyak pesantren & kajian di banyak kampus.
Kiai Hasyim tersedu haru bukan karena gelap, tapi karena rasa rindu yang membuncah pada sang murabbi ruh (pendidik jiwa), karena terkesan, juga merasa dirinya tak sebanding dengan ketaqwaan Syaikh Nawawi. Kiai Hasyim “mudah” mencari uang, Syaikh Nawawi tidak. Kiai Hasyim punya fasilitas lengkap, Syaikh Nawawi tidak. Namun dalam kondisi “serba tidak ada”, Syaikh Nawawi mampu mencapai kemuliaan melampaui mereka yang “serba ada”. Rasa inilah yang membuat Hadratussyaikh begitu kagum dan hormat kepada Syaikh Nawawi.
Kondisi tersebut bukan karena Syaikh Nawawi tak mampu, tapi itu memang pilihan hidup beliau. Kata Ibn Hajar al-‘Asqalany dalam Nasha’ihul ‘Ibad,
من ترك الغنى في الدنيا واختار الفقر بعثه الله يوم القيامة مع الوليين والنبيين.
“Siapa yang meninggalkan kekayaan dunia, dan memilih kefakiran, Allah akan membangkitkannya pada hari Kiamat bersama para kekasih Allah dan juga para Nabi.” Dalam kitabnya, Syaikh Nawawi men-syarahinya dengan hadis Nabi Muhammad Saw.
إنْ كنتَ تُحِبُّني فأَعِدَّ للفقرِ تِجْفافًا.
“Jika engkau mencintaiku, maka siapkanlah “tijfaf”/baju besi untuk menghadapi kefakiran.“
Dalam perspektif tasawuf yang dijelaskan Syekh Nawawi, “fakir” di sini bukan berarti malas bekerja atau tidak memiliki harta dalam dimensi material. Fakir di sini menunjuk pada arti suatu kondisi hati yang merasa selalu butuh kepada Allah dan tidak diperbudak oleh keinginan duniawi. Orang yang “meninggalkan kekayaan” adalah mereka yang mengeluarkan cinta dunia dari hatinya sehingga harta tidak lagi mengendalikan keputusan hidupnya.
Syekh Nawawi juga menjelaskan hadis ini sebagai peringatan (Indzar). Jika seseorang mencintai Nabi Muhammad Saw. dan mengikuti jalannya, maka ia harus siap menghadapi ujian hidup. Salah satunya tentu adalah kondisi keterbatasan material (duniawi). Kata Tijfaf secara harfiah adalah kain tebal atau baju besi yang melindungi kuda dalam peperangan. Artinya: Kesederhanaan dan ketidakterikatan pada dunia akan menjadi pelindung bagi seorang mukmin dari fitnah, kesombongan, dan hisab yang berat di akhirat kelak.
Dalam hadis tersebut, Nabi Muhammad Saw. menggunakan pendekatan retorik Majaz Isti’arah (Metafora Peminjaman), pada kata Tijfaf. Musyabbahnya (yang diserupakan) adalah sifat kesabaran, keteguhan hati, atau amal saleh. Sedangkan Musyabbah Bih (yang diserupakan) adalah Tijfaf (baju besi/kain pelapis tebal yang melindungi kuda dalam perang).
Retorika ini memiliki makna bahwa Rasulullah Saw. menyerupakan “kefakiran” dengan sebuah serangan dalam peperangan yang dahsyat. Untuk menghadapinya, seseorang butuh perlindungan mental dan spiritual (kesabaran) yang kuat layaknya baju besi (Tijfaf) yang menahan senjata musuh. Rasulullah Saw. menggunakan Isti’arah Tashrihiyyah untuk menggambarkan “kesiapan mental dan kesabaran”. Artinya kecintaan Rasulullah sangat dekat dengan rasa sabar pada kondisi serba terbatas (fakir).
Dari fragment ini, kita tau bahwa irtibath (koneksi) secara batin pada seorang guru menjadi hal yang penting. Cahaya keilmuan seorang guru akan selalu menyinari para muridnya meski melalui ingatan-ingatan sederhana. Ingatan itu mampu menjadi kompas moral bagi sang murid dalam kondisi-kondisi tertentu. Terkadang sebuah ingatan membuat hati terasa sesak, tiba-tiba air mata sudah penuh mengalir. Bukti bahwa diam-diam kita pun terkesan pada seorang kekasih.
Waallahu A’lam
Editor: Vigar Ramadhan D.M.D.










