Dalam sejarah transmisi hadis, terdapat salah satu fenomena unik dan bisa dikatakan sebagai teori konspirasi paling kontroversial sekaligus berbahaya, yaitu munculnya individu yang mengaku berumur ratusan tahun, bahkan mengklaim pernah bertemu langsung dengan Nabi Muhammad Saw. atau para sahabat. Fenomena ini dikenal dalam literatur hadis dengan istilah mu‘ammarun (orang-orang yang diklaim berumur sangat panjang).
Sekilas, kisah-kisah ini tampak mengagumkan, namun para ulama hadis justru secara tegas menentangnya. Sebab, klaim tersebut sering kali disertai periwayatan hadis-hadis ganjil, sensasional dan tidak memiliki asal-usul yang jelas. Artikel ini mengulas bagaimana para ulama membongkar kebohongan di balik klaim para mu‘ammarun.
Mengapa klaim Mu‘ammarun ini bermasalah?
Secara teori, umur panjang memang mungkin terjadi, namun dalam ilmu hadis, persoalannya bukan sekadar usia, melainkan konsekuensinya dalam periwayatan sanad hadis. Jika seseorang mengaku hidup 200–400 tahun, dan menjadi penghubung langsung dengan Nabi Saw., maka klaim tersebut harus diuji dengan kesaksian ulama lintas generasi dan ijma’ ulama tentang batas akhir generasi sahabat.
Salah satu tokoh paling terkenal dalam kisah mu‘ammarun adalah Ratan al-Hindi, seorang warga asal India yang muncul sekitar abad ke-6 Hijriyah dan mengaku sebagai sahabat Nabi Saw., pernah terlibat langsung dalam perang khandaq, mengklaim dirinya ikut hadir saat prosesi pernikahan sayyidah Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib ra., bahkan juga meriwayatkan beberapa hadis yang ia dengar langsung dari Nabi Saw.[1]
Al-Dzahabi dalam kitabnya, al-Mughni fi al-Dhu’afa dengan sangat keras membantah klaim ini. Kisah-kisah semacam ini bagian dari cerita khurafat yang dibuat-buat. Cerita yang dirangkai oleh pihak yang mengada-ada seperti sosok Ratan al-Hindi pada hakikatnya hanyalah manusia fiktif yang tidak pernah ada, atau setan yang menjelma dalam wujud manusia.[2]
Lalu yang menjadi pertanyaan mendasar adalah jika benar-benar hidup ratusan tahun, di mana ia selama enam abad sebelumnya? Mengapa tidak ada catatan yang menyebut namanya pada abad keempat, kelima atau setelahnya? Seandainya ia benar-benar hidup sepanjang itu, tentu keberadaannya akan tercatat dalam buku para ahli sejarah yang hidup di wilayah India sejak abad-abad awal Hijriyah. Kenyataannya, tidak ada satu pun sumber kredibel yang menyebut namanya sebelum akhir abad ke enam.
Ibnu Hajar al-Asqalani juga menuliskan kasus serupa namun dari individu yang berbeda-beda, lengkap dengan riwayat hadis palsu yang mereka sebar. Seperti seorang tokoh bernama Mu’ammar bin Buraik. Kemudian di wilayah Maghrib dengan tokoh bernama Abu Abdillah Mu’ammar yang diklaim berusia empat ratus tahun. Tentu semua ini sungguh diluar akal sehat manusia.[3]
Klaim ini juga sangat bertentangan dengan ijma‘ ulama bahwa sahabat Nabi Saw. yang terakhir wafat adalah Abu al-Thufail Amir bin Watsilah, pada tahun 102 H. Pandangan ini diperkuat dengan hadis dalam Shahihain, Rasulullah Saw. bersabda:
فَإِنَّ عَلَى رَأْسِ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا لَا يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ أَحَدٌ
“Sesungguhnya pada penghujung seratus tahun, tidak akan tersisa seorang pun dari orang-orang yang hidup hari ini di muka bumi”[4]
Maksud dari hadis ini ialah berakhirnya satu generasi (qarn) setelah seratus tahun, yakni wafatnya seluruh orang yang hidup pada malam itu di muka bumi. Penafsiran inilah yang dijelaskan oleh para sahabat, seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, dan sahabat-sahabat lainnya.[5]
Maka dengan demikian, cerita tentang Mu’ammarun itu tidak benar adanya dan bisa dipastikan bahwa setiap klaim shuhbah dengan Nabi Saw. setelah masa itu adalah sebuah kebohongan belaka.
Lalu bagaimana status riwayat hadis mereka, termasuk salah satunya hadis musalsal al-mu’ammariyah yang sangat masyhur itu? Akan kami ulas di tulisan berikutnya, insyaallah.
Bersambung…
[1] (Mutadha al-Zabidi, Taju al-‘Arus min Jawahir al-Qamus, 35/75).
[2] (Syamsuddin al-Dzahabi, al-Mughni fi al-Dhu’afa, 1/230).
[3] (Ibnu Hajar al-Asqalani, Lisan al-Mizan, 6/69).
[4] (HR. al-Bukhari no. 601 dan Muslim no. 2537).
[5] (Ibnu Rajab al-Hanbali, Fath al-Bari Li ibni Rajab, 4/369).
Editor: Zian Setiawan










