المكتبة للمعهد العالي هاشم أشعري

Kategori: biografi (Page 1 of 2)

Peringatan 1 Abad NU, ini Pesan Hadratussyaikh

Penulis: Viki Junianto

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi masyarakat terbesar yang ada di Indonesia. Organisasi yang dirintis oleh Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan beberapa ulama terkemuka tersebut akan genap mencapai usia 100 tahun jika mengacu pada kalender Hijriah yakni, 16 Rajab 1444 Hijriah yang berarti bertepatan pada tanggal 7 Februari 2023 mendatang.

Peringatan satu abad ini mengusung tema besar “Mendigdayakan Nahdlatul Ulama Menjemput Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru”. Namun ditengah-tengah maraknya pembaruan yang ada di tubuh NU, sangat penting untuk menjaga hal-hal yang prinsipil yang tak boleh hilang dan terganti. Sehingga antara al-akhdu dan al-mukhafadhah dapat berimbang dan tak timpang.

Untuk menjaga agar NU tidak sampai keluar dari pondasi yang telah dicanangkan oleh para pendahulu, maka dianggap penting untuk 𝑛𝑔𝑢𝑟𝑖-𝑛𝑔𝑢𝑟𝑖 nasihat-nasihat yang pernah diberikan oleh segenap muassis organisasi besar ini.

Hadratussyaikh KH. M Hasyim Asy’ari selaku pendiri sekaligus Rais Akbar NU pernah berpesan dalam momen pembukaan Muktamar NU ke-lima di Surabaya,

فأولا: الوفاق والوئام، لأداء افتك ولا اقتل لأمة مثل داء التفرق والتخالف. فإن أمة مهما بلغت من وفرة العدد وكثرة المدد، وإذا أصابها هذا الداء لأبدلها أن تضعف وتفشل وتضمحل فى آخر الأمر. قال تعالى: وأطيعوا الله ورسوله ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم.

ثانيا: تقوية الشعور بالمسؤولية. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته. الإمام راع ومسؤول عن رعيته. والرجل راع فى أهله ومسؤول عن رعيته. والمرأة راعية بيت زوجها ومسؤولة عن رعيتها. والخادم راع فى مال سيده ومسؤول عن رعيته. كلكم راع ومسؤول عن رعيته. رواه البخاري عن عبد الله بن عمر

وسيقف كل واحد منا بين أحكم الحاكمين ويسأل عما قدمت يداه فى هذه الدار. وأن علينا أن نؤدي هذه الأمانة على وجهها الصحيح، لا نخشى فى الله لومة لائم.

لطف الله بنا وبكم. ووفقنا وإياكم لما فيه رضاه ورضا رسوله. (هذا بالتلخيص)

Dalam pidato Hadratussyaikh tersebut setidaknya, terdapat dua pesan yang ingin beliau sampaikan.

  1. Hendaknya seluruh warga Nahdliyin selalu mengedapankan kerukunan dan persatuan. Sebab sebesar apapun organisasi akan bisa hancur dan musnah bila anggotanya selalu berpecah belah dan bercerai berai. Perpecahan adalah racun yang paling mematikan bagi sebuah organisasi.
  2. Semua warga Nahdliyin diharapkan untuk meningkatkan kesadaran akan tanggung jawab yang sedang diemban. Sebab pasti semua manusia nanti akan menghadap kepada hakimnya hakim, yaitu Allah SWT. Dan pada saat itu semua manusia akan ditanya perihal segala tanggung jawab yang telah diamanatkan kepadanya. Dan juga hendaknya warga Nahdliyin menjalankan amanat yang sudah diberikan dengan tetap melalui koridor-koridor yang telah canangkan (khittah NU).

Kalau amanat tersebut sudah dilakukan dengan semestinya, maka jangan terlalu memikirkan cacian ataupun hinaan dari orang-orang yang memang sedari awal tidak suka dengan organisasi yang penuh dengan barakah ini.

Kemudian pada penghujung pidatonya, Hadratussyaikh mendoakan segenap warga Nahdliyin,

“Semoga Allah senatiasa mengasihi serta menolong saya dan kalian untuk mendownload rida-Nya dan rida rasul-Nya”

Jika Gurumu Killer

Penulis: Viki Junianto

Bagi pelajar hadis, nama Sulaiman bin Mihran al-A’masy (148 H) tentu bukanlah nama yang asing. Muhaddis yang lebih dikenal dengan Imam al-A’masy ini termasuk dalam jajaran tabiin yang banyak meriwayatkan dan menghafalkan hadis. Oleh sebab itu, bukanlah hal yang mengherankan jika Imam Syamsuddin ad-Dzahabi memberinya gelar sebagai, Syaikh al-Muhaddisin, guru para ahli hadis.

Namun dibalik nama besarnya itu, ternyata Imam al-A’masy merupakan sosok guru killer.

سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عُبَيْدٍ، قَالَ: كَانَ الْأَعْمَشُ لَا يَدَعُ أَحَدًا يَقْعُدُ بِجَنْبِهِ. فَإِنْ قَعَدَ إِنْسَانٌ، قَطَعَ الْحَدِيثَ وَقَامَ. وَكَانَ مَعَنَا رَجُلٌ، يَسْتَثْقُلُهُ. قَالَ: فَجَاءَ، فَجَلَسَ بِجَنْبِهِ، وَظَنَّ أَنَّ الْأَعْمَشَ لَا يَعْلَمُ. وَفَطِنَ الْأَعْمَشُ، فَجَعَلُ يَتَنَخَّمُ، وَيَبْزُقَ عَلَيْهِ، وَالرَّجُلُ سَاكِتٌ، مَخَافَةَ أَنْ يَقْطَعَ الْحَدِيثَ

Diriwayatkan oleh Muhammad bin Ubaid, saat pengajian Imam al-A’masy tidak menyukai santri yang duduk terlalu dekat dengan beliau. Saat ada santri yang mencoba duduk mendekat, beliau akan langsung berhenti ngaji hadis, lalu pulang. Pada suatu saat, ada seorang santri merasa kesulitan dalam mendengar hadis. Dia pun mendekat kearah Imam al-A’masy. Dia menyangka Imam al-A’masy tidak menyadarinya. Sialnya, ternyata sang Imam menyadari kehadiran santri tersebut di dekatnya. Apa yang dilakukan Imam al-A’masy? Beliau mengumpulkan dahaknya, lantas meludahkannya kearah santri tersebut. Si santri pun hanya diam tanpa protes, karena takut memotong hadis yang disampaikan sang Imam.[1]

Cerita kekileran Imam al-A’masy tidak berhenti di situ

سَأَلَ حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ الْأَعْمَشَ عَنْ إِسْنَادِ، حَدِيثٍ، فَأَخَذَ بِحَلْقَهِ، فَأَسْنَدَهُ إِلَى حَائِطٍ، وَقَالَ: هَذَا إِسْنَادُهُ

Pada suatu saat Hafs bin Ghiyas bertanya kepada Imam al-A’masy sanad sebuah hadis (sanad secara bahasa berarti sandaran). Lalu Imam al-A’masy pun memcekiknya dan menyeretnya ke tembok, seraya berkata: “Ini sanad (sandaran) hadis itu”[2].

Di balik kekileran Imam al-A’masy, Imam Abu Bakar menekankan sebuah pelajaran penting yang dapat kita ambil cerita tersebut.

قَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَأَخْبَارُ الْأَعْمَشِ فِي هَذَا الْمَعْنَى كَثِيرَةٌ جِدًّا. وَكَانَ مَعَ سُوءِ خُلُقِهِ، ثِقَةٌ فِي حَدِيثِهِ، عَدْلًا فِي رِوَايَتِهِ، ضَابِطًا لِمَا سَمِعَهُ، مُتْقِنًا لِمَا حِفْظَهُ , فَرَحَلَ النَّاسُ إِلَيْهِ، وَتَهَافَتُوا فِي السَّمَاعِ عَلَيْهِ. فَكَانَ أَصْحَابُ الْحَدِيثِ رُبَّمَا طَلَبُوا مِنْهُ أَنْ يُحَدِّثَهُمُ، فَيَمْتَنِعُ عَلَيْهِمْ، وَيُلِحُّونَ فِي الطَّلَبِ، وَيُبْرِمُونَهُ بِالْمَسْأَلَةِ، فَيَغْضَبُ وَيَسْتَقْبِلُهُمْ بِالذَّمِّ حَتَّى إِذَا سَكَنَتْ فَوْرَتُهُ، وَذَهَبَتْ ضَجْرَتُهُ، أَعْقَبَ الْغَضَبَ صُلْحًا، وَأَبْدَلَ الذَّمَّ مَدْحًا

“Cerita tentang kekileran Imam al-A’masy sangat banyak sekali. Dan walaupun Imam al-A’masy berperangai seperti itu, beliau merupakan sosok yang tsiqoh dalam hadisnya, adil dalam periwatannya, dhabith terhadap apa yang beliau dengar, serta kuat hafalannya. Banyak santri berbondong-bondong pergi kepada beliau untuk meriwayatkan hadis. Tak jarang saat mereka datang, Imam al-A’masy menolak untuk mengajar. Para santri itu pun tetap bersikeras untuk meminta ngaji. Mengetahui itu, Imam al-A’masy pun keluar dari rumahnya dengan marah dan mengucapkan kata kotor. Namun saat emosi Imam al-A’masy mereda, kemarahan akan bertukar dengan kebaikan dan cacian akan berganti dengan pujian”[3]

Dari kisah tersebut dapat kita tarik sebuah pelajaran penting, kekileran Imam al-A’masy sama sekali tidak mengurangi rasa semangat dan hormat santri-santrinya kepada beliau. Iniliah sebuah teladan indah yang diberikan oleh para santri hadis zaman dulu kepada kita. Lantas gimana kita sebagai santri hadis jaman now. Bisa menirunya?

Ada sebuah kutipan menarik dari Imam Syafii

اِصبِر عَلى مُرِّ الجَفا مِن مُعَلِّمٍ  فَإِنَّ رُسوبَ العِلمِ في نَفَراتِهِ

Bersabarlah terhadap kekerasan seorang guru
karena kegagalan mencari ilmu terletak pada ketidak sanggupan menghadapi hal itu

Lihat:

[1] Khatib al-Baghdadi, Syarufu Ashab al-Hadis, hlm 133.

[2] Ibid; hlm 134

[3] Ibid; hlm 135

Kedermawanan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari (2)

Oleh: Ilham Zihaq

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari memiliki jiwa Ketulusan dan keikhlasan yang tidak dapat diragukan lagi. Tulisan ini akan mengurai kedermawanan dan keikhlasan Hadratussyaikh sebagai panutan kita bersama. Dengan semangat berkorban dan pengabdian, Hadratussyaikh sejak mendirikan pesantren Tebuireng, beliau mengembangkan dan mengelola Pesantren Tebuireng dengan harta pribadinya. Jadi, Hadratussyaikh lebih banyak memberi daripada mengambil keuntungan material dari lembaga pendidikan yang diasuhnya. Beliau ikhlas lillahi ta’ala, tanpa mengharap upah di dunia. Beliau hanya mengharap upah atau balasan dari Allah Swt.  Sebagaimana pendirian yang dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul, firman Allah swt.

وَمَا أَسْلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِى إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Kenyataan keikhlasan dalam berkorban kiai disaksikan oleh Akarhanaf dalam tulisannya, bahwa Hadratussyaikh sering mengeluarkan harta pribadinya untuk kepentingan umat dan rakyat. Jika ada rombongan dari Masyumi, Hizbullah, DMPII, GPII, dan lain-lainnya datang sowan ke Tebuireng, Hadratussyaikh selalu menyambutnya dengan hangat, serta memberinya uang untuk bekal dalam pertempuran untuk menghadapi musuh dan untuk kepentingan umat yang lain.

Dalam tulisan lainnya, Akarhanaf menceritakan konon sewaktu ketika istri Hadratussyaikh yang ke-7 masih hidup, setiap harinya disediakan nasi beserta lauk-pauknya, untuk persedian menghormati tamu yang datang di Pesantren Tebuireng, paling sedikit cukup guna menjamu 50 orang tamu dalam tiap harinya.

Keterangan lain dari Kiai Shobari Mbogem, saat pengajian Sahih Bukhari dan Muslim pada bulan Ramadhan di Pesantren Tebuireng kira-kira mencapai jumlah 3000 santri dari seluruh penjuru tanah air. Dan jaminan makan untuk mereka semua telah ditanggung oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Subhanallah.

Oleh karenanya, Hadratussyaikh itu orang yang sangat berkecukupan atau kaya raya; kaya perbekalan dunia dan lebih kaya perbekalan akhirat, kaya pengaruh dan kaya pula pengikut. Hadratussyaikh merupakan sosok yang Shaleh spiritual sekaligus sosial. Dan tentu Allah lebih suka menyukai orang yang saleh secara sosial daripada ahli ibadah yang bersifat ritual.

Dalam hadis yang dinukil oleh Imam Qusyairi dalam kitabnya,

عن عائشة رضي الله عنهما قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم السخيّ قريب من الله تعالى، قريب من الناس، قريب من الجنة، بعيد عن النار. والبخيل بعيد من الله تعالى، بعيد من الناس، بعيد من الجنة، قريب من النار. والجاهل السخيّ أحب إلى الله تعالى من العابد البخيل.

Dari Aisyah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Sebaliknya, orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang dermawan lebih disukai oleh Allah daripada ahli ibadah yang kikir,”.

اللهم اجعلنا من الاغنياء الأسخياء
Sumber:
Heru Sukadri, Kiai Haji Hasyim Asy’ari Riwayat Hidup dan Pengabdiannya, (Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1985).

Akarhanaf, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari Bapak Umat Islam Indonesia, (Jombang: Pustaka Tebuireng, 2018),

Muhammad Mustafa al-A’zami, Nasir as-Sunnah Era Modern

Penulis: Viki Junianto

Prof. Dr. Muhammad Mustafa al-A’zami, atau yang biasa disebut dengan M. M al-A’zami (dalam versi Arab; محمد مصطفى الأعظمي ) lahir di kota Mano India Utara pada tahun 1932 M. al-A’zami kecil hidup di bawah kekuasaan kolonial Inggris, ia pun mengenyam pendidikan SLTA-nya di sekolah Islam yang menggunakan bahasa Arab atas arahan ayahnya, hal ini dikarenakan ayahnya sangat membenci kolonial Inggris dan juga bahasa Inggris.

Di sekolah ini al-A’zami sudah mulai mempelajari Hadis. Setelah itu al-A’zami melanjutkan rihlah ilmiahnya sampai tahun 1952 di Colledge of Science di Deoband, sebuah perguruan tinggi terbesar di India yang juga mengajarkan Studi Islam. Masih haus akan ilmu Islam, ia pun melanjutkan studinya di Universitas al-Azhar Cairo Fakultas Bahasa Arab Jurusan Tadris (pengajaran). Setelah tamat pada tahun 1955 dengan membawa ijazah al-Alimiyyah ia pun kembali ke tanah airnya.

Bertepatan pada tahun 1956, ia mulai meritis karir akademisnya dengan menjadi dosen Bahasa Arab untuk orang-orang non Arab di Qatar. Setelah itu, tahun 1957 ia ditunjuk menjabat sebagai Sekretaris Perpustakaan Nasional (Dār al-Kutub al-Qatariyyah) di Qatar. Kemudian tahun 1964 ia melanjutkan jenjang pendidikan doktoralnya di Universitas Cambridge Inggris. Dan tahun 1966 ia lulus dengan judul disertasi “Studies in Early Hadith Literature with A Critical Edition of Some Early Text” (kajian tentang literature hadis masa dini dengan Kritikal –Edit sejumlah Naskah Kuno).

Tahun 1968, ia mengundurkan diri dari jabatannya di Qatar dan pindah ke Makkah al-Mukarramah untuk mengajar di Fakultas Pasca Sarjana Universitas King ‘Abd al-‘Azīz (kini Universitas Umm al-Qura). Bahkan ia adalah termasuk yang ikut andil mendirikan fakultas tersebut bersama dengan Dr. Amin al-Mishri. Dan di tahun 1973 ia pindah ke Riyadh untuk mengajar di Pasca Sarjana Jurusan Studi Islam Universitas Riyadh (kini Universitas King Saud). Bapak dari tiga orang anak ini juga diangkat menjadi Guru Besar Hadis dan Ilmu Hadis di Univesitas Riyadh tersebut.

Peran dalam Membela Sunnah Nabi

M al-A’zami tidak hanya mengenyam pendidikannya di timur tengah akan tetapi beliau juga pernah merasakan belajar di Universitas Cambridge Inggris yang notabene dosen pengajarnya adalah seorang orientalis. Bukannya terpengaruh dengan pemikiran dosen-dosennya, M.M al-A’zami malah banyak menolak dan membantah pemikiran dari dosen-dosennya yang meragukan validitas hadis dan mendakwa bahwa hadis tidak bersumber dari nabi Muhammad SAW langsung, melainkan hasil dari karangan ulama-ulama abad kedua dan ketiga dengan tendensi politik, memperbanyak pengikut dan lain-lain.

Sudah banyak orientalis yang pendapatnya diruntuhkan oleh M. M al-A’zami di antara mereka adalah Ignác Goldziher, David Margoliouth, dan Joseph Schacht. Namun walau demikian M. M al-A’zami lebih gencar dalam memerangi pemikiran-pemikiran dari Joseph Schacht yang mencetuskan teori projecting back (proyeksi kebelakang).

Schacht mendakwa bahwa sanad hadis sebagian besar adalah palsu. Schacht menulis dalam bukunya “we shall not meet any legal tradition from the prophet which can be considered authentic“ (kami tidak menemukan hadis hukum dari Nabi yang dapat dipertimbangkan kesahihannya). Dia juga bependapat bahwa asal mula terbentuknya sanad hadis adalah ulah dari qadhi-qadhi (para pemutus perkara) yang menisbatkan pendapatnya kepada generasi sebelumnya.

Di abad kedua dan ketiga banyak qadhi yang menisbatkan keputusan-keputusan mereka kepada para tokoh-tokoh sebelum mereka untuk melegitimasi dan memperkuat hasil keputusan tersebut. Penisbatan putusan tersebut tidak berhenti pada generasi sebelum mereka saja, penisbatan putusan tersebut juga sampai pada para sahabat dan akhirnya sampai dengan Nabi SAW. Inilah dakwaan Schacht tentang asal mula terbentuknya sanad hadis yang dikenal dengan teori projecting back atau proyeksi kebelakang.

Teori ini pun langsung dibantah oleh M.M al-A’zami, Menurut al-A’zami teori ini adalah teori yang tidak berdasar dan sangat mudah untuk dibantahkan, al-A’zami mengemukakan dua argumen untuk membantahkan teori tersebut :

  1. Dalam dunia ilmu pengetahuan citra seorang guru tidaklah sama. Setiap pelajar selalu cenderung untuk berguru kepada guru yang paling baik dan populer. Sementara pada abad kedua hijri, sudah terdapat kaidah-kaidah kritik baik secara lisan maupun tulisan. Dari kaidah tersebut dapat diketahui bahwa ada guru yang memiliki reputasi ilmiah yang tinggi dan sebaliknya. Jika demikian adanya, mengapa para pelajar itu tidak membuat sanad dengan memasukkan nama-nama guru yang memiliki reputasi tinggi. Sebaliknya mereka justru memilih orang-orang yang dipercaya hadisnya.
  2. Materi-materi hadis kebanyakan mempunyai persamaan di kalangan kelompok-kelompok Islam seperti Khawarij, Mu’tazilah, Zaidiyah dan imamiyah, di mana mereka mereka memisahkan diri dari kelompok Ahlussunnah kurang lebih 25 tahun setelah Nabi wafat. Maka, apabila pemalsuan hadis yang berkaitan dengan masalah fikih itu, pemalsuannya terjadi pada abad kedua dan ketiga hijrisebagaimana dikatakan Schacht, maka tentunya tidak ada satu hadis pun yang secara bersamaan terdapat dalam kelompok Islam tersebut. Padahal, kenyataannya, dalam kitab tersebut banyak terdapat Hadis yang materinya berkaitan satu dengan yang lainnya.

Dengan kegemilangannya dalam memerangi pemikiran-pemikiran orientalis tersebut, maka bukanlah hal yang berlebihan jika gelar Nashirus Sunnah (Pembela Sunnah) era modern disematkan pada tokoh ahli hadis yang satu ini.

Jika Imam Syafi’i diberi gelar Nashirus Sunnah pada pertengahan abad ke-2 karena bantahannya terhadap kaum Munkirus Sunnah (orang-orang yang ingkar terhadap hadis) atas pendapat mereka yang menolak untuk berhujjah dengan hadis ahad, sama halnya dengan M. M Al-A’zami di era modern ini yang gencar untuk membantah kaum orientalis yang berusaha mengkaburkan kepercayaan umat Islam terhadap hadis Nabi.

Berkat disertasinya juga yang berhasil membabat habis pemikiran-pemikiran para orientalis, dunia Islam pun mengakui kepakaran keilmuannya dalam bidang Ilmu Hadis. Bahkan ia mendapatkan hadiah International King Faisal dalam Studi Islam pada tahun 1400 H / 1980 M. Sementara dari pihak orientalis pun mengakui kehebatannya juga, diantaranya adalah AJ. Arberry, seorang Professor di kalangan orientalis dari Universitas Cambridge Inggris. Dengan ini, al-A’zami adalah tokoh yang tidak hanya ditakuti oleh lawannya akan tetapi sekaligus tokoh yang di segani oleh lawannya.

Mulai Dikenal di Indonesia

Menurut KH. Ali Mustafa Ya’qub, orang yang pertama kali memperkenalkan nama al-A’zami di Indonesia adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan ceramahnya dengan judul “Sumbangan MM al-A’zami dalam Penyelidikan Hadis”.

Ceramah itu disampaikan ketika dalam acara Dies Natalis Universitas Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang pada tahun 1972 yang dihadiri oleh para ulama dan dua orang menteri, waktu itu, Mentri Agama H. A Mukti Ali dan mentri Penerangan H. Budiarjo. Namun menurut Gus Dur sendiri orang-orang pada waktu itu kurang mengerti apa yang disampaikannya. Oleh karena itu, Gus Dur mendukung penuh kepada Ali Mustafa untuk menerjemahkan karya-karya al-A’zami.

Melalui tangan Ali Mustafa Ya’qublah kemudian nama al-A’zami dikenal luas di Indonesia sebagai pakar Hadis dan Ilmu Hadis dunia. Salah satu usahanya adalah dengan terbitnya buku “Hadis Nabi dan Sejarah Kodifikasinya” terjemahan dari disertasi al-A’zami yang berjudul “Studies Hadith Literature”. Selain itu, Ali Mustafa juga menulis buku “MM. al-A’zami Pembela Eksistensi Hadis” yang terbit pada tahun 2002. Terbit pula buku “Kritik Hadis” yang memuat artikel-artikel yang diantaranya membahas khusus tentang peran al-A’zami dalam meruntuhkan teori Hadis Orientalis, yaitu Josept Scahct.

 

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan Sang Istri.

Penulis : Ilham Zihaq

Menurut data yang ditulis oleh Gus Ishom, Kiai Hasyim pernah menikah hingga 7 kali. Yang namanya terlacak hanya 5 orang saja. Namun yang mempunyai keturunan untuk meneruskan perjuangan Kiai hasyim hanya dari dua isteri. Nyai Nafiqoh dari Sewulan, dan Nyai Masruroh dari Kapurejo. Kiai Hasyim Asy’ari sangat mencintai dan menghormati istri-istrinya. Beliau sangat menjaga hak dan kewajibannya sebagai suami terhadap sang istri, serta ber-muasyaroh dengan makruf. Tercatat, beliau tidak pernah mufaroqoh dengan istrinya. Ini menunjukan bahwa beliau sebagai kepala keluarga sangat menjaga kelangsungan nikah yang merupakan mitsaqon gholidzon (Ikatan suci).

Kiai Hasyim juga mengarang kitab yang membahas tentang nikah, berjudul “Dhoul Misbah fi Ahkam Nikah”. Kitab ini berisi tiga pembahasan, Bagian pertama menjelaskan tentang hukum-hukum pernikahan. Bagian kedua, kiai Hasyim menjelaskan perihal rukun-rukun nikah sebagaimana yang ada di dalam literatur fikih klasik lainnya. Sedangkan bagian ketiga menjelaskan tentang hak-hak istri yang wajib dipenuhi oleh suami dan begitu pula sebaliknya.

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, sebagai pendiri dan pengasuh Pesantren Tebuireng. Beliau memimpin langsung pengajaran kitab kuning di pesantren. Kitab yang dikaji pun bermacam macam, dari kitab tipis hingga yang berjilid-jilid. Namun walaupun begitu,Hadratussyaikh juga suka guyon atau humor. Mungkin agar para santri tidak jenuh dan bosan.

Kiai Kholid Ali pernah menceritakan kepada kami, beliau mendapat cerita ini saat mengaji kepada Kiai Syansuri Badawi yang merupakan santri kesayangan Hadratussyaikh. Dikisahkan disaat Hadratussyaikh mengajar kitab kuning di masjid. Beliau ketika melihat santri-santrinya yang sudah merasa bosan, jenuh, dan ngantuk ketika ngaji. Dan diantara guyonan beliau membahas mengenai perempuan (Mungkin bahas perawan atau janda😁). Disaat beliau guyonan tentang perempuan, dan ibu Nyai atau Istri Hadratussyaikh mendengar hal itu. Maka tak segan bu nyai melempar semua bakiak/terompah ke depan masjid. Ketika Hadratussyaikh mendengar lemparan bakiak, beliau langsung menghentikan guyonan tentang perempuan itu.

Ada kisah menarik yang pernah disampaikan oleh Gus Sholah saat acara Mata Najwa, (Belajar dari KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan). Suatu saat Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari duduk istirahat di kursi, tiba-tiba oleh bu Nyai Hadratussyaikh diikat dengan stagen. Dan respon Hadratussyaikh sungguh mankjubkan, beliau hanya sabar dan tidak memarahi sang istri. Setelah beberapa saat, tali dari stagen itu dilepas oleh putri tertuanya, Nyai Khoiriyah Hasyim. Ini merupakan bentuk kesabaran, ketulusan sikap, dan menghormatinya kepada perempuan.

Hujjatul Islam Imam Ghozali dalam Ihya Ulum al-Din mengatakan:
الصبر على لسان النساء مما يمتحن به الأولياء
Sabar menghadapi omongan istri termasuk ujian para wali”

Untuk Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari Alfatihah.

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sosok yang dermawan

Penulis: Ilham Zihaq

Pada saat panen ketéla, jagung atau lainnya, oleh hadratussyaikh hasil panen tersebut di taruh di depan ndalem kesepuhan, dan dibagikan kepada seluruh santri Tebuireng. Hingga semua santri Tebuireng telah mengambilnya, baru Hadratussyaikh Hasyim memasukkan panennya tersebut ke ndalem untuk dikonsumsi oleh keluarga. Cerita ini didapat dari KH. Kholid Aly, menantu KH. Syansuri Badawi.

Kedermawanan KH. Hasyim Asy’ari juga diceritakan oleh KH. Mahfudz Anwar yang ditulis dalam Majalah Tebuireng. Bahwa KH. Mahfudz Anwar Seblak ditugaskan oleh Hadratussyaikh untuk mendata seluruh santri Tebuireng. Dan dengan dasar data itu, Hadratussyaikh menyediakan bungkusan ketan serta minumannya, dibagikan ke kamar-kamar setiap menjelang maghrib untuk sebagai ta’jil buka puasa. Itu dilakukan se-bulan penuh dan setiap bulan Ramadhan.

Perhatian khusus Hadratussyaikh itu membuat hubungannya tidak saja sebagai Kyai dan santri, tetepi lebih dari itu sehingga menimbulkan rasa rela dalam artian yang sebenarnya. Santri merasa bahwa Hadratussyaikh itu lebih dari orang tuanya sendiri.

Ini adalah tindakan nyata dari Hadratussyaikh, dari pengalaman hadis ini;

حدثنا مُحَمَّدٍ الْوَرَّاقُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنْ النَّارِ وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنْ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنْ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنْ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنْ النَّارِ وَلَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَالِمٍ بَخِيلٍ. أخرج الترمذي

“Orang dermawan itu dekat dgn Allah, dekat dgn surga, dekat dgn manusia, & jauh dari neraka. Sedangkan orang yg bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari menusia, & dekat dgn neraka. Sesungguhnya orang bodoh yg dermawan lebih Allah cintai dari pada seorang ‘alim yg bakhil” HR. Tirmidzi

Semoga kita semua bisa meniru jejak langkah pendiri NU dan Pesantren Tebuireng.

 

Koleksi Kitab Hadrotussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari

Penulis : Ilham Zihaq

Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, menurut Sayyid Muhammad Asad Shahab, bukan hanya sosok yang memiliki perhatian besar terhadap dunia perkembangan dakwah Islam dan perjuangan, tetapi juga sosok yang memiliki kecintaan tinggi terhadap dunia literatur dan pustaka.

Terkait perpustakaan pribadi hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, Muhammad Asad Shahab menuliskan:

تعد مكتبة الحاج محمد هاشم أشعري من أغنى المكتبات لاحتوائها على أنفس الكتب العلمية الإسلامية من مطبوعات ومخطوطات أثرية قديمة. وتضم هذه المكتبة جل الكتب المؤلفة باللغة العربية والإندونيسية والجاوية والماليزية وبعض اللغات الأجنبية الأخرى. وهي تضاهي مكتبة هيئة البحوث الإسلامية.

(Perpustakaan pribadi Haji Muhammad Hasyim As’ari terhitung sebagai salah satu perpustakaan terkaya dan terlengkap, karena menghimpun koleksi kitab-kitab ilmiyah Islam yang langka, baik itu kitab cetak atau manuskrip kuno. Perpustakaan tersebut menghimpun koleksi literatur ditulis dalam bahasa Arab, Indonesia, Jawa, dan Melayu, serta sebagian bahasa asing lainnya. Perpustakaan ini bisa dikatakan menandingi koleksi perpustakaan Dewan Kajian Islam di Jakarta)

Hal ini bisa dibuktikan dengan salah satu rujukan Kiai Hasyim Asy’ari dalam menulis kitab “Ziyadat Ta’liqot” :

1- تعريف طريقة التيقظ والانتباه لما يقع في مسائل الكفاة
Karya Syeikh Afifuddin Abdulloh bin Muhammad Basudan
2- مطلب اﻹيقاظ في الكلام على شيء من غرر اﻷلفاظ
Karya Habib Abdulloh bin Husein Balfaqih.

Menurut Ust. Asep Jaelani, kitab yang pertama belum dicetak sampai sekarang atau masih berupa manuskrip, sedangkan kitab yang kedua baru dicetak tahun 2005 di Hadromaut.

Artinya, kiai Hasyim -kemungkinan besar- pulang ke Jawa dari Mekkah membawa manuskrip kedua kitab tersebut. Luar biasa, benar apa yang dikatakan oleh Sayyid Asad Syihab bahwa Kiai Hasyim sangat gemar mengumpulkan kitab-kitab langka.

Muhammad Asad Shahab menulis:

يهتم العلامة محمد هاشم أشعري بجمع الكتب العلمية وينفق الأموال الكثيرة لاقتناء وشراء الكتب، بل قد يضطر الى دفع مبالغ باهظة للحصول على كتاب واحد أثري قديم. ولذلك فإن لديه مجموعة كبيرة من هذه الكتب

(KH. Hasyim Asy’ari memiliki perhatian yang besar untuk mengoleksi kitab-kitab ilmiah dan mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk membeli dan merawat kitab-kitab tersebut. Bahkan, beliau tak segan-segan untuk mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk bisa mendapatkan sebuah kitab kuno yang dipandang penting. Karena itulah, tidak mengherankan jika beliau memiliki koleksi kitab yang sangat besar)

Ini salah satu bukti, hadratussyaikh memiliki jaringan dengan ulama Hadromaut. Sebab, di antara gurunya adalah Sayyid Alawi bin Ahmad As-seggaf dan Sayyid Husein bin Muhammad Al-Habsyi, begitu juga Habib Ahmad bin Hasan Al-attos. Jadi tidak aneh jika Kiai Hasyim sering merujuk ke kitab-kitab ulama Hadromaut.

Tabik,
Alfaqir Ilham Zihaq

Hubungan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dan KH. Ihsan Jampes

Penulis: Ilham Zihaq

Siapa yang tidak kenal kenal dengan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Beliau merupakan ulama, pejuang, figur masyarakat dan pengusaha. Beliau memiliki sahabat sangat alim yang memiliki karya monumental, yaitu KH. Ihsan Jampes Kediri. “Siraj At-Thalibin” merupakan buah pena dari Kiai Ihsan yang dikaji di berbagai belahan dunia.

Kitab itu merupakan komentar atas kitab terakhir yang dikarang oleh Imam Ghazali, kitab “Minhajul Abidin“. Kitab itu terdiri atas dua jilid, halamannya berjumlah lebih dari seribu. Kitab yang pernah dicetak di mesir itu, telah ditashih dan diberi taqridh (sambutan) oleh ulama-ulama pemangku tanah jawa.

Sebut saja, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Karim Lirboyo, KH. Khozin Benda Pare Kediri serta KH. Ma’ruf Kedunglo dan lain-lain. Mereka semua memuji dan mengapresiasi atas runtut dan bagusnya susunan, diksi, dan isi dari kitab Siraj At-Thalibin tersebut.

Ada kisah menarik disaat Kiai Ihsan menyowankan kitab Sirah At-Tholibin tersebut kepada hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Kisah ini kami dapat dari Kiai Said Ridwan disaat belajar kitab Ibnu Aqil di Aliyah Tebuireng.

Suatu hari, KH Ihsan Jampes memohon kepada hadratussyaikh Hasyim Asy’ari untuk mengoreksi kitab yang baru ditulisnya. Kiai Ihsan melepaskan sandalnya di pintu gerbang pesantren Tebuireng sebagai tata krama kepada hadratussyaikh. Ketika hadratussyekh menemuinya, Kiai Ihsan menyampaikan permohonannya untuk mengoreksi dan meminta sambutan atas kitab tersebut. Kitabnya yang masih tertulis tangan dan berupa lembara diajukan kepada hadratussyaikh.

Dengan sengaja, Hadratussyaikh mengambil beberapa lembar di tengah tanpa sepengetahuan Kiai Ihsan, dengan tujuan untuk menguji. Di hadapan Kiai Ihsan, hadratussyaikh membuka lembar demi selembar. Akhirnya, hadratussyaikh menunjukkan halaman yang hilang itu. Seketika itu, hadratussyaikh meminta Kiai Ihsan untuk menuliskan kembali beberapa halaman yang hilang itu di hadapannya. Kiai Ihsan pun menulisnya dengan lancar, seolah-olah hapal diluar kepala kitab yang ditulisnya. Setelah selesai, hadratussyaikh pun mengeluarkan lembaran yang disembunyikan dan mengoreksi hasil tulisan Kiai Ihsan. Subhanallah, Ternyata, kedua tulisan ini sama persis. Akhirnya, hadratussyaikh mendoakan keberkahan untuk kitab Sirajut Thalibin.

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pun takjub atas kecerdasan Kiai Ihsan. Hingga beliau menjuluki Kiai Ihsan dalam pengantarnya dengan:
(العالم العلامة، الحبر البحر الفهامة، الأديب الألمعي، واللبيب اللوذعي الشيخ ).

“Sosok yang sangat alim, memiliki wawasan luas (alhabr), ilmunya yang luas bagaikan lautan (al-bahr), memiliki pemahaman yang utuh dan benar (al-fahhamah), ahli sastra yang cakap dan cerdas (al-adib al-ma’iy), memiliki kebijaksanaan serta tajam pikirannya (al-Labib al-laudza’i)”

Konon, disaat hadratussyaikh memuji Kiai Ihsan, Kiai Wahid Hasyim mendengarnya. Saat itu Kiai Wahid Hasyim masih remaja, sekitar berumur 18 tahun. Lantas, Kiai Wahid Hasyim iri (ghibtoh) pada Kiai Ihsan. Kemudian Kiai Wahid Hasyim bertekad kuat untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar alim allamah seperti Kiai Ihsan yang mampu menulis kitab yang menjadi rujukan ulama dunia hingga saat ini. Waqila, setelah itu Kiai Wahid Hasyim menyendiri di kamar hingga berhari-hari hanya untuk belajar, muthola’ah dan tirakat. Wallohu A’lam bis Showab.

Alhamdulillah, alfaqir mangangkat judul skripsi tentang sisi muhaddis-nya Kiai Ihsan Jampes yang mana kebanyakan orang menganggap beliau Shufi atau ahli Tasawuf. Namun di sisi lain, beliau merupakan ahli hadis. Terbukti beliau merupakan tokoh Nusantara yang mencurahkan perhatiannya terhadap Takhrij hadis. Judul Skripsi Alfaqir:

منهج الشيخ إحسان بن دحلان الجمفسي في تخريج الأحاديث المذكورة في منهاج العابدين للإمام الغزالي من خلال كتابه سراج الطالبين


Alhamdulillah, skripsi ini telah diujikan dihadapan Dr. Amrullah, Dr. Hamim, dan Ust. Hamza Fauriz, M.H di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.

Alfatihah untuk Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan KH. Ihsan Jampes.

« Older posts