المكتبة للمعهد العالي هاشم أشعري

Kategori: Fikih

Rebo Wekasan, Last Wednesday on Safar

Penulis: Viki Junianto

Besok kita akan bertemu dengan hari rabu terakhir di bulan Safar. Masyarakat Jawa biasa menyebutnya dengan Rebo Wekasan (Rabu Penutup). Dalam kitabnya Mujarrabat ad-Dairabi Kabir, Imam Ahmad bin Umar ad- Dairabi menyampaikan bahwa pada setiap tahunnya Allah Swt akan menurunkan sekitar 320.000 bala’. Dan Hari rabu terakhir di bulan Safar itulah waktu dimana bala’ itu akan diturunkan.

Pada hari itu, Syekh ad-Dairabi menganjurkan untuk melaksanakan shalat 4 rakaat dengan surat yang telah ditentukan. Setelah shalat selesai dilaksanakan, kemudian dilanjutkan dengan doa dan wirid yang juga telah ditentukan.

Ritual ini menuai pebedaan pendapat di kalangan NU. Hadratussyaikh Hasyim Asyari menolak dan tidak menganjurkan untuk melaksanakan ritual ini. Dalam salah satu kitabnya beliau berpesan,

بسم الله الرحمن الرحيم وبه نستعين على امور الدنيا والدين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم. أورا وناع فيتواه, اجاء-اجاء لن علاكونى صلاة ربو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سوال, كرنا صلاة لورو ايكو ماهو دودو صلاة مشروعة فى الشرع لن اور انا اصلى فى الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها كيا كتاب تقريب, المنهاج القويم, فتح المعين, التحرير لن سأفندوكور. كيا كتاب النهاية, المهذب لن إحياء علوم الدين, كابيه ماهو اورا انا كع نوتور صلاة كع كاسبوت

“Tidak diperbolehkan untuk mengajak dan melaksanakan shalat Rebo Wekasan dan shalat Hadiyah di bulan Syawal. Karena dua shalat itu bukanlah shalat yang disyariatkan untuk dikerjakan dan tidak ada dalilnya sama sekali. Tidak ada satu kitab muktamad pun, seperti kitab Taqrib, Minhajul Qowim, Fathul Muin, at-Tahrir dan kitab yang besar lainnya seperti kitab an-Nihayah, Muhaddzab, dan Ihya Ulumiddin yang menjelaskan ritual ini”.

Atas dasar himbauan beliau ini, Pesantren Tebuireng tidak pernah melaksanakan shalat Rebo Wekasan dan juga tidak menganjurkan para santri untuk melaksanakannya.

Namun, walaupun shalat ini tidak mempunyai dalil sama sekali, terdapat sebagian kiai Nahdliyin yang menganjurkan untuk melaksanakan shalat ini dengan syarat meniatinya sebagai shalat mutlak atau shalat hajat, bukan niat shalat tolak bala’.

Pendapat mereka ini merujuk kepada Syekh Abdul Hamid bin Muhammad al-Quds yang menyatakan dalam kitabnya Kanzun Najah wa Surur bahwa memang shalat Rebo Wekasan tidak ada dalilnya sama sekali. Namun, sebagai orang Islam kita tetap dianjurkan untuk melaksanakannya dengan niatan ngalap berkah dan mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh para ulama salaf dan para pembesar ulama sufi.

فَاعْمَلْ بِهَا حِيْنَئِذٍ مُعْتَمِدًا عَلَى اللهِ، غَيْرَ مُلْتَفِتٍ إِلَى مَا سِوَاهُ، لَا عَلَى أَنَّهَا مَرْوِيَّةٌ يَقِيْنًا عَنِ النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَأَزْكَى التَّسْلِيْمِ،اِقْتِدَاءً بِالسَّلَفِ الصَّالِحِ الَّذِيْنَ كَانُواْ يَفْعَلُوْنَهَا، وَيَحُضُّوْنَ عَلَيْهَا، تَبَرُّكًا بِعَمَلِهِمْ النَّاجِحِ،وَتَأَسِّيًا بِالسَّادَةِ الصُّوْفِيَّةِ.

“Maka amalkanlah doa-doa tersebut, dengan bergantung kepada Allah, tanpa memperdulikan lain-Nya. Bukan karena doa-doa tersebut dari Nabi yang mulia tapi, karena mengikuti ulama salaf shalih yang mana mereka mengamalkannnya dan menganjurkannya. Dan juga dengan niat mengambil berkah dengan amal mereka. Juga dengan niat untuk meneladani para pembesar ulama sufi”

Ya intinya, yang tidak shalat jangan menyalahkan yang shalat. Dan yang shalat jangan bangga karena sudah merasa menyirnakan bala’.

Tutorial Melaksanakan Shalat Rebo Wekasan :
  1. Shalat Hajat dilaksanakan sebanyak empat rakat dua kali salam.
  2. Meniatinya sebagai shalat Mutlak.

اُصَلِّى سُنَّةً رَكْعَتَيْنِ ِللهِ تَعَالٰى

Atau shalat Hajat

أُصَلِّي سُنَّةَ الحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعاَلَى

Bukan niat shalat penepis bala’.

أُصَلِّي سُنَّةَ لدفع البلاء رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعاَلَى

Karena dengan niat tersebut, shalat ini akan dihukumi bid’ah. Berdasar dengan apa yang telah disepakati pada Muktamar NU ke-25 di Surabaya.

  1. Membaca al-Fatihah di setiap rakaat.
  2. Setelah al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat al-Kautsar sebanyak 17 kali, surat al-Ikhlas 5 kali, surat al-Falaq sekali, dan surat an-Nas sekali.

Kemudian setelah salam membaca doa:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا أَنْتَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اللهم بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ وَأُمِّهِ وَبَنِيْهِ اِكْفِنِيْ شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

 

Pandangan NU Terhadap Isbat Hisab

Penulis : Ilham Zihaq

Telah maklum, bahwasanya pandangan resmi keagamaan NU itu lahir dari musyawarah, atau yang biasa kita sebut dengan Bahsul Masail. Di NU sendiri banyak kegiatan Bahsul Masail, entah itu di tingkat pusat, wilayah, cabang, hingga anak ranting. Semua ada kegiatan Bahsul Masail. Namun yang jelas, hasil Bahsul Masail di tingkat Muktamar NU lebih mencerminkan pandangan resmi organisasi NU.

Diantara problematika yang menarik hingga dimusyawarahkan dalam Bahsul Masail di Muktamar NU adalah permasalahan Hisab atau perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah. Dan isu ini selalu hangat menjelang isbat awal bulan Ramadhan dan Syawal. Selain metode hisab dalam menentukan awal bulan, dalam Islam juga dikenal metode rukyah atau aktivitas mengamati visibilitas hilal (bulan), penampakan bulan sabit yang tampak pertama kali setelah terjadinya ijtima’.

Hal ini sudah dibahas oleh ulama’ salafan wa kholafan. Dan tentu ada perbedaan pendapat. Namun yang menjadi problematika adalah apakah metode hisab bisa/boleh dijadikan landasan isbat awal Ramadhan dengan mengajak masyarakat umum? Problematika ini sudah telah dibahas dalam muktamar NU Ke XX di Surabaya pada tanggal 10-15 Muharram 1374 atau 8-13 September 1954 M.

سؤال:
ماحكم اعلان أول رمضان أو شوال على عموم المسلمين بالحساب للحاسب أو من صدقہ ، قبل إثبات الحاكم، وقبل إعلان وزارة الدينية هل هو جائز أولا؟ ( فرع بايواغی)

Bagaimana hukumnya mengumumkan awal Ramadhan atau awal syawal untuk umum dengan hisab atau orang yang mempercayainya sebelum ada penetapan hakim atau pengumuman dari Departemen Agama ? Bolehkah atau tidak ?” (NU Cab. Banyuwangi).

جواب:
إن إثبات أول رمضان أو شوال بالحساب لايوجد من الأحاديث أو الآثار شيء. وإن رسول الله صلى الله علیہ وسلم ومن بعده من الخلفاء الراشدين لايثبتونه بالحساب، وإن أول من أجاز الإثبات بالحساب هو مطرف شيخ الإمام البخاري . وأما إعلان ثبوت رمضان أو شوال قبل إعلان وزارة الدينية الذي يؤدي إلى الإختلاف والتخاصم من بين مصدق ومكذب من المسلمين فقرر المؤتمر بعدم الجواز دفعا للمفسدة فينبغي بل يجب على الحكومة (الوزارة الدينية) منعه.اهـ

Jawab : sesungguhnya mengkhabarkan tetapnya awal Ramadhan atau awal Syawwal dengan hisab itu tidak terdapat pada zaman Rasulullah dan Khulafaur Rosyiddin. Sedang ulama pertama yang memperbolehkan “isbat” dengan hisab ialah Imam Muththorif guru Imam Bukhori. Adapun mengumumkan tetapnya awal Ramadhan/Syawwal berdasarkan hisab sebelum ada penetapan/siaran dari Departemen Agama, maka mu’tamar memutuskan tidak boleh, sebab untuk mengantisipasi terjadinya ada perbedaan yang mengakibatkan permusuhan dalam kalangan ummat Islam. Dan mu’tamar mengharap kepada pemerintah supaya melarangnya“.

Di sini ada koreksi, sebab ada typo (sabqu qolam). Bahwasanya Imam Muthorrif hanya memperbolehkan dengan hisab, bukan “isbat” dengan hisab.

وهذا سبق قلم. ولعله: إن أول من أجاز الصوم بالحساب؛ كما في الأصل. فإني سمعت من فم شيخنا المرحوم محمد هاشم أشعري قال في المجمع: “إن (لعله: أول من) أجاز صوم رمضان بالحساب الإمام مطرف شيخ البخاري؛ لا من أجاز إثبات رمضان، وإني إلى الأن ما وجدت أحدا من فقهاء الشافعية أجاز إثبات صوم رمضان بالحساب”.


Saya (kemungkinan, KH. Mahfudz Anwar) mendengar langsung dari lathi-nya (bhs Jawa untuk mulut) Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang disampaikan dalam satu perkumpulan (Majma’): “Sesungguhnya ulama yang pertama kali memperbolehkan puasa romadhon dengan metode hisab adalah Imam Muthorrif, -dia adalah gurunya Imam Bukhori-. Dan Imam Muthrif bukan yang memperbolehkan “isbat” Ramadhan dengan hisab. Dan saya (Hadratussyaikh) sampai sekarang belum menemukan seseorang dari fuqoha syafii yang memperbolehkan “itsbat” puasa romadlon dengan metode hisab“.

Siapakah Imam Muthorrif? Beliau memiliki nama lengkap Muthorrif bin Abdillah bin Syakir al-‘Amiri. Beliau termasuk Kibar Tabi’in yang lahir di zaman Rasulullah. Guru dari Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Dawud dan lainnya.

Isbat adalah Hak Pemerintah

Ada kisah menarik, mengutip Kiai Yusuf Suharto, bahwa Kiai Hasyim pernah beda pendapat dengan menantunya yang ahli falak, Kiai Ma’sum Ali. Ketika itu Kiai Hasyim menegur sang menantu,

“Soal keyakinan itu hanya bisa dipakai untuk diri sendiri, dan tabuh bedug itu artinya sudah mengajak dan mengumumkan kepada masyarakat, itu bukan hakmu. Untuk mengumumkan kepastian Idul Fitri itu haknya pemerintah yang sah,” tutur Kiai Hasyim.

Barang kali pendirian Kiai Hasyim Asy’ari ini yang kemudian ditetapkan secara formal dalam Muktamar ke XX di Surabaya ini. Menetapkan bahwa hak isbat (penetapan awal Ramadhan dan Syawal) diserahkan kepada pemerintah sebagai Waliyul Amri (Wali Negeri alias Pemerintah). Agar apa? Agar tidak adanya perbedaan yang menyebabkan permusuhan dan pertikaian, serta bersatu umat Islam. Dan muktamar juga memutuskan Pemerintah selaku Waliyul Amri melarang dan mencegah adanya perbedaan.

Hal ini sejalan dengan tulisan Hadratussyaikh KH Hasyim yang berjudul (التهنئة بالعيد ووداع شهر رمضان) yang dimuat dalam Majalah NU edisi No. 2 Th. ke 8, 23 Ramadlan 1357 / 15 November 1938 M. Tertulis dalamnya,


فنرجوا غاية الرجاء من اهل جمعيتنا نهضة العلماء ان يحافظوا على ما يحصل به اجتماع قلوبهم وان يتباعدوا عما يقع به بينهم التنازع الذي هو ذريعة الفشل وذهاب الريح والقوة المنهي عنه بقوله سبحانه وتعالى: ولاتنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم، وحينئذ تقوى شوكتهم و تحصل النتيجة من انتهاضهم وهي القيام بالامر بالمعروف والنهي عن المنكر.


Jadi kami (Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari) sangat mengaharap kepada anggota Jamiyyah NU untuk selalu melestarikan hal-hal yang menyebabkan menyatukan hati mereka, serta menjauhi hal-hal yang menyebabkan pertikaian atau konflik, hal itu akan membawa kegagalan, hilangnya wibawa, dan kekuatan. Sesuai dengan firman Allah: “Dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang“.


Jika hal ini dilaksanakan maka kekuatan NU akan tampak, sehingga hal ini memudahkan untuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

 

Polemik Kitab Syamsul Ma’arif (Bagian 2)

Saat kita membicarakan tentang ilmu thib, tentu kita akan bersepakat bahwa rujukan utamanya adalah kitab-kitab karangan Syekh Ahmad Ali al-Buni. Beliau banyak memiliki karangan-karangan yang membahas tentang ilmu thib, namun hanya dua kitab yang selama ini populer dan menjadi rujukan utama pengkajinya di pesantren-pesantren salaf, yaitu Syamsul Ma’arif Kubra dan Manba’ Ushul Hikmah.

Belakangan ini, nama kitab Syamsul Ma’arif ramai diperbicangkan khalayak luas karena diendors oleh Gus Udin. Beragam reaksi muncul. Tak sedikit pula para ustadz yang mengatakan bahwa kitab tersebut merupakan kitab sihir dan haram dipelajari. Dalam tulisan ini saya mengajak para pembaca untuk sedikit berkenalan dengan kitab tersebut.

Syamsul Ma’arif, Sebuah Kitab yang Eksklusif

Merupakan kebiaasan para ulama, yaitu mengkaji sebuah kitab secara utuh. Membaca kata demi kata, mulai halaman pertama hingga kitab berakhir. Dengan pembacaan serta penalaran secara utuh, kita akan mendapat pemahaman yang sempurna dan terselamatkan dari kesalahpahaman dan judgement yang tidak berdasar.

Berbicara kitab Syamsul Ma’arif, pengarangnya, Syekh Ali al-Buni dalam mukaddimah kitabnya telah memberi catatan penting bagi para pelajar yang ingin mempelajari kitab tersebut.

فَحَرَامٌ عَلَى مَنْ وَقَعَ كِتَابِيْ هَذَا فِيْ يَدَيْهِ أَنْ يُبْدِيَهُ لِغَيْرِ أَهْلِهِ أَوْ يُبَوِّحَ بِهِ فِيْ غَيْرِ مَحَلِّهِ فَإِنَّهُ مَهْمَا فَعَلَ ذَلِكَ أَحْرَمَهُ اللهُ تَعَالَى مَنَافِعَهُ وَمُنِعَتْ عَنْهُ فَوَائِدُهُ وَبَرَكَتُهُ. وَلَا تَمَسُّهُ إِلَّا وَأَنْتَ طَاهِرٌ وَلاَ تُقَرِّبهُ إِلَّا إِذَا كُنْتَ ذَاكِرًا لِتَفُوْزَ مِنْهُ بِمَا تُرِيْدُ وَلاَ تُصَرِّفهْ إِلَّا فِيْمَا يَرْضَى اللهُ تَعَالَى فَإِنَّهُ كِتَابُ اْلأَوْلِيَاءِ وَالصَالِحِيْنَ وَالتَابِعِيْنَ

“Haram bagi orang yang mengamalkan kitab ini untuk mengajarkan kepada orang yang tidak layak untuk mempelajarinya atau mengamalkannya pada hal yang bukan tempatnya. Karena sebab itu, Allah akan menutup dan mencegah faidah-faidah dan keberkahannya.”

Jangan memegang kitab ini kecuali dalam keadaan suci. Dan jangan kau tela’ah kitab ini kecuali dalam keadaan mengingat Allah, agar engkau mendapatkan apa yang diharapkan. Pun, jangan sampai mengamalkan isi kitab ini kecuali untuk hal-hal yang dirdai oleh Allah. Sebab kitab ini merupakan kitab para wali, orang salih, dan para tabi’in.”

Dari catatan muallif kitab, dapat kita simpulkan bahwa kitab Syamsul Ma’arif merupakan kitab yang eksklusif, tidak diperuntukkan untuk semua orang. Secara garis besar, ada beberapa yang syarat yang harus dipenuhi untuk dapat mempelajari kitab tersebut.

  1. Orang ingin belajar kitab tersebut paham betul dengan syariat dan seorang yang disiplin akan rambu-rambu syariat. Oleh karena itu, biasanya, di pesantren-pesantren salaf, kitab ini hanya diperuntukkan bagi santri pilihan, yang minimal sudah hatam kitab Alfiyah, dalam bidang bahasanya dan hatam kitab Fathu al-Muin, dalam bidang fikihnya.
  2. Selalu ingat kepada Allah dan meyakini bahwa apapun yang terjadi di dunia ini, semuanya atas izin-Nya. Meyakini bahwa doa-doa dan wifik dalam kitab tersebut tidak akan bekerja, kecuali atas izin Allah SWT.
  3. Mengamalkan kitab ini pada hal-hal yang diridai oleh Allah dan tidak mengamalkannya untuk hal-hal yang diharamkan oleh-Nya. Mengamalkannya untuk amar ma’ruf nahi munkar dan untuk membantu sesama, bukan untuk hal-hal yang mencelakakan dan merugikan orang lain.

 

Wallahu A’lam.

Polemik Kitab Syamsul Ma’arif (Bagian 1)

Konflik yang terjadi antara Gus Syamsudin dan pesulap merah menjadi berbuntut panjang. Seorang ustad muncul, berniat menjadi penguat atas hal-hal yang telah disampaikan oleh pesulap merah kepada khalayak luas.

Namun sayangnya, di tengah pembelaanya itu, sang ustadz mengeluatkan statement yang cukup membuat kaget banyak orang. Beliau mengtakan bahwa kitab-kitab karangan Syech Ahmad Ali al-Buni: Syamsul Ma;arif, Manba; Ushulul Hikmah yang notabene merupakan kitab thihb (kitab pengobatan) dan telah umum dikaji di pesantren-pesantren salaf adalah kitab sihir dan haram dipelajari.

lantas benarkah demikian?

Klaim hukum haram dalam mempelajari ilmu thib terkesan sangat terburu-buru. Kalaupun dipaksa untuk dihukumi haram, maka bisa dikatakan bahwa hukum haram tidaklah mutlak, namun patut diperinci (tafsil).

Menurut hemat kami mempelajari ilmu thib tidaklah haram, tentu dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi.

1. Pengamal Ilmu thib haruslah orang yang paham dan ahli syariat.

ومن أقسام السحر الإستعانة بالأرواح الأرضية بواسطة الرياضة وقراءة العزائم إلى حيث يخلق الله تعالى عقب ذلك على سبيل جري العادة بعض خوارق إلى أن قال – ثم التحقيق أن يقال إن كان من يتعاطى ذلك خيرا متشرعا في كامل ما يأتي وبدر وكان من يستعين به من الارواح الخيرة وكانت عزائمه لا تخالف الشرع وليس فيما يظهر على يده من الخوارق ضرر شرعي على أحد فليس ذلك من السحر بل من الاسرار والمعونة . إه

Dalam Kitab Sab’ah Kutub Mufidah dijelaskan bahwa, jika pengamal wifiq, azimat dan doa-doa merupakan sosok yang baik serta taat dengan syariat maka ilmu itu bukanlah ilmu sihir, melainkan ilmu asrar dan maunah yang tentunya akan membawa maslahat kepada banyak orang.

Oleh karena itu di pesatren salaf, walaupun marak pengajian ilmu thib, tidak semua santri diperbolehkan untuk mengikuti pengajian. Hanya santri yang dianggap sudah layaklah yang dapat mengikuti pengajian. Tentu dengan berbagai klasifikasinya.

2. Digunakan untuk kemaslahatan

والسحر يقع به تغییر احوال كتغيير حال الشخص من الصحة للمرض وصفات وقلب حقائق كقلب الإنسان حمارا ار تمساحار فإن وقع ماذكر بأيات قرأنية أو اسماء الهية فظاهر أن ذلك ليس بكفر لأنه ليس بسحر وإن حصل بها مايحصل بالسحر لكنه يحرم إن أدى إلى عداوة أي بين الزوجين االصديقين مثلا وفرقة بينهما أو ضرر في نفس, (قوله إن أدى إلى عداوة) أنه إن أدي العطف أو محبة بين الزوجين ونحوهما فلاحرمة فيه . إه

Dijelaskan dalam Khasiah Dasuqi bahwa, status keharaman Ilmu thib bergantung pada digunakan untuk apa ilmu tersebut.

karena ilmu ini hanyalah sebuah washilah (perantara dari sebuah tujuan). Kita sering mendengar kaidah, “lil wasail hukmul maqasid” hukum sebuah perantara adalah hukum dari tujuannya”.

Jika ilmu Thib digunakan untuk hal-hal yang baik seperti memisahkan pelakor dan selingkuhannya maka tentu hukumnya mubah bahkan dianggap ibadah. Namun jika sebaliknya, jika digunakan untuk memisahkan antara keluarga yang lagi sayang-sayangnya, tentu sangat diharamkan.

Istilah kata nih, ilmu thib itu seperti pisau. Kalau dipegang penjual daging akan jadi maslahat, kalau dipegang begal, akan jadi madharat.

3. Azimat atau Doa yang digunakan berasal dari sumber yang tidak berlawanan dengan syariat.

وكل عزيمة مقروة أو مكتوبة إن كان فيه إسم لايعرف معناه فهي محرمة الكتابة والقراءة سواء في ذلك المصروع أوغيره, وإن كانت العزيمة أو الرقيا مشتملة على أسماء الله تعالى وأياته والأقسام به وبأنبيائه وملائكته جازت قراءتها على المصروع وغيره وكتابتها كذلك . إه

Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawanya mengatakan bahwa, jika azimat (mantra) diambil dari nama-nama Allah, atau qosam yang diambil dari nama-nama Nabi dan Malaikat maka boleh hukumnya untuk diamalkan.

Jika ilmu thib tidak memenuhi syarat-syarat tersebut maka tentu hukum mempelajarinya akan dihukumi haram, karena akan menyebabkan darar (resiko).

Demonstrasi adalah Jihad yang Paling Utama.

Penulis : Viki Junianto

Dalam konteks kenegeraaan, demonstrasi bukanlah hal yang asing. Demostrasi merupakan sebuah kosekwensi atas dipilihnya demokrasi sebagai asas negara ini. Dewasa ini, tampaknya masyarakat memandang bahwa demonstrasi menjadi opsi yang dianggap paling tepat dalam menyampaikan aspirasi dan kritik mereka. Terlebih, akhiri-akhir ini, banyak bermunculan isu tentang kebijakan-kebijakan yang dianggap memberatkan masyarakat, seperti naiknya harga BBM dan kebijakan lainnya.

Lantas, sekarang, bagaimana Islam memandang aksi demonstrasi?

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ، أَنَّ رَجُلاً، سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَىُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ قَالَ ‏ “‏ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ ‏”‏ ‏.

‏Diriwatkan dari Thoriq bin Syihab, ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi, “Jihad mana yang paling utama”. Nabi menjawab, “Menyuarakan kebenaran kepada pemerintah yang dzalim” (HR. Nasai).

Menurut hadis tersebut, menyuarakan kebenaran (demonstrasi) di hadapan pemerintahan yang dzalim adalah bentuk jihad yang paling utama. Karena hasil dari demontrasi tersebut tidak hanya kembali kepada individu tertentu atau golongan tertentu, melainkan akan kembali kepada seluruh masyarakat. Imam al-Mad’har mengatakan.

وإنما كان أفضل لأن ظلم السلطان يسري في جميع من تحت سياسته فإذا نهاه عن الظلم فقد أوصل النفع إلى جميع الخ

“Demontrasi diposisikan sebagai jihad yang paling utama dikarenakan kedzaliman pemerintah akan berdampak buruk terhadap semua masyarakat yang berada di bawah kekuasaanya. Dan jika ada orang yang berani mencegah kedzaliman tersebut, maka dia telah memberikan manfaat kepada seluruh masyarakat”

Dalam kitabnya yang bertajuk “Min Fiqhi ad-Daulah Fil Islam”, Yusuf al-Qardhawi mencela bangsa yang tunduk terhadap kedzaliman penguasa. Beliau menceritakan tentang alasan Fir’aun berbuat semena-mena dan banyak menyakiti rakyatnya.

Pada suatu saat Fir’aun pernah ditanya, “Wahai Fir’aun, kenapa kau berbuat semena-mena. Ayah angkat Nabi Musa itu pun menjawab “Aku tidak menemukan orang yang menentangku dan meluruskan tindakanku”. Di sini kita dapat menyimpulkan bahwa ketundukan dan kepatuhan terhadap kedzaliman hanya akan melahirkan kediktatoran.

Untuk mendapatkan gelar jihad yang paling utama, demontrasi tidak terlepas dari syarat-syarat yang harus dipenuhi. Dalam kitab yang sama, Yusuf al-Qardhawi menjelaskan tentang syarat yang harus dipenuhi dalam berdemonstrasi.

  1. Kemungkaran yang dilakukan merupakan hal yang diharamkan oleh syara.
  2. Kemungkaran tersebut tampak nyata dan bukan asumsi belaka.
  3. Ada massa untuk menyuarakan suara.
  4. Demontrasi yang dilakukan tidak mendatangkan madharat yang lebih besar (tidak anarkis dan destruktif).

Dalam kitab Tasri’ al-Jana’i, Syekh Abdul Qodir Audah juga memberikan syarat yang harus dipenuhi dalam aksi demonstrasi.

إن الشريعة الإسلامية تبيح لكل إنسان أن يقول ما يشاء دون عدوان؛ فلا يكون شتاماً ولا عياباً ولا قاذفاً ولا كاذباً، وأن يدعو إلى رأيه بالحكمة والموعظة الحسنة، وأن يجادل بالتي هي أحسن، وأن لا يجهر بالسوء من القول، ولا يبدأ به، وأن يعرض عن الجاهلين.

Dari ibarah tersebut bisa saya simpulkan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan demonstrasi,

  1. Tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas.
  2. Mempunyai bukti yang kuat atas gugatan terhadap pemerintah.
  3. Menggunakan attitude yang baik dalam menyuarakan suara.
  4. Tidak memprovokasi orang-orang yang pada dasarnya tidak mengerti masalah tersebut.

Nah, sekarang dapat kita simpulkan, demonstrasi adalah lebih utamanya jihad. Karena demonstrasi adalah aksi untuk membela dan memperjuangkan kepentingan orang banyak.

Namun, walau begitu, agama tetap memberikan rambu-rambu dalam berdemonstrasi. Jika para demonstran mengabaikan rambu-rambu tersebut, maka aksi itu tidak lebih hanya akan dianggap sebagai tindakan yang malah menggangu dan merusak stabilitas negara.