المكتبة للمعهد العالي هاشم أشعري

Kategori: Kajian Hadis

Hadis Mu’an’an, Termasuk Muttashil atau Munqothi’ ?

Penulis: Athiyah Maziah

Secara istilah, hadis mu’an’an adalah hadis yang dalam periwayatannya menggunkan redaksi عن (dari) dengan tanpa menjelaskan bahwa ia mendengarkan langsung dari gurunya atau ia telah dikabarkan. Bentuk shigotut tahammulnya menggunakan lafadz عن.

(فلان عن فلانٍ عن فلانٍ)

Ulama’ berbeda pendapat mengenai hadis mu’an’an termasuk muttashil (bersambung sanadnya) ataukah munqothi’ (terputus sanadnya) ? karena dalam ketersambungan atau keterputusan sanad, dapat mempengaruhi derajat hukum suatu hadis.
Dalam kitab Taisir Musthalah Al-Hadis disebutkan, mengenai hal ini ulama’ berbeda pendapat :

  1. Pendapat pertama mengatakan, hadis mu’an’an termasuk munqothi’ (terputus) hingga terlihat jelas ketersambungannya.
  2. Sahih untuk diamalkan. Ulama’ Jumhur dari kalangan ahli hadis, ahli fiqh dan ushul mereka menyetujui bahwa hadis mu’an’an termasuk kategori hadis muttashil (bersambung sanadnya) dengan memenuhi beberapa syarat.

Mereka sepakat atas dua syarat dibawah ini, dan berbeda pendapat pada syarat lainnya :

  1. Al-Mu’an’in (perawi yang menyampaikan dengan shighot ‘an) bukanlah Mudallis.
  2.  Kemungkinan adanya pertemuan antara rawi mu’an’in dengan gurunya (orang yang ia riwayatkan hadisnya secara ‘an’anah)

Adapun syarat tambahan yang mereka berbeda pendapat didalamnya :

  1.  Kepastian pertemuan antara rawi mu’an’in dengan gurunya. (pendapat Imam Bukhari, Ibn al-Madini dan para Ahli Tahqiq).
  2. Lamanya persahabatan antara rawi mu’an’in dengan gurunya. (pendapat Abi al-Mudzoffar al-Sam’ani)

 Mengetahui terhadap apa yang diriwayatkan dari rawi yang ia riwayatkan secara ‘an’anah. (pendapat Abi ‘Amr al-Dani)

Contoh hadis mu’an’an (Sunan Ibnu Majah/212) adalah :

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفْضَلُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Terdeteksi dalam hadis diatas yang menjadi pelaku mu’an’an (Al-Mu’an’in) adalah; Sufyan, ‘Alqomah Ibn Martsad, dan ‘Abi ‘Abd al-Rahman al-Sulamy. Dalam penilitian takhrijnya, ketiganya mencapai pada derajat Tsiqqoh dan ketiganya bertemu dengan gurunya masing-masing, maka dalam kitab Mursyid Dzawi Al-Haja wa Al-Hajah disebutkan bahwa hadis diatas dihukumi sahih, dan adanya ketersambungan dalam sanad. Dan juga hadis diatas memiliki beberapa hadis tawabi’ yang salah satunya terdeteksi dalam kitab Sahih Bukhari. Wallahu a’lam.

Penulis merupakan mahasantri semester 5

Takhrij dengan Aplikasi, Ini Kata Dr. Abdul Aziz Sayi’

Penulis: Viki Junianto

Beriring dengan perkembangan sarana teknologi modern, dan penyebaran program komputer. Muncul banyak berbagai aplikasi takhrij hadis baik di PC ataupun android yang semakin memudahkan para peneliti untuk menakhrij hadis. Dengan pertimbangan efisiensi yang ditawarkan tersebut, sebagian besar penelitipun lebih memilih untuk menggunakan metode ini dan mulai meninggalkan metode takhrij kovensional, yaitu metode takhrij dengan merujuk kepada kitab-kitab takhrij.

Di antara aplikasi yang sering digunakan oleh para peneliti dalam mentakhrij hadis adalah: Maktabah as-Syamilah, Jawami al-Kalim, Khadim al-Kharamain, aj-Jami’ al-Kabir, dan al-Kutub at-Tis’ah atau yang lebih dikenal dengan Maushuah al-Hadis.

Dr. Abdul Aziz bin Abdullah Sayi’, dosen jurusan hadis Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud dalam kitabnya, Takhrijul Hadis, menjelaskan kelebihan dan kekurangan mentakhrij dengan aplikasi komputer.
Keuntungan yang paling menonjol:

  1. Mempersingkat waktu. Hadis yang biasanya ditakhrij menggunakan metode kovensional menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari, bahkan setelah menghabiskan waktu lama tak kunjung ditemukan, dengan aplikasi, hadis tersebut dapat ditemukan hanya dengan beberapa detik.
  2. Menghemat tenaga, karena tidak membutuhkan waktu yang lama.
  3. Dapat menemukan banyak hadis dengan tanpa bersusah payah membuka kitabnya secara langsung. Seperti kitab tarikh, jarh wa ta’dil, dan kitab ilmu-ilmu hadis.

Kelemahan paling menonjol:

  1. Terdapat banyak refrensi dari cetakan komersial yang tidak akurat dalam aplikasi tersebut.
  2. Dalam beberapa aplikasi takhrij, terdapat kesalahan dalam penginputan teks. Beberapa halaman kitab, bahkan juz kitab tersilap dan tidak tercantum dalam aplikasi. Oleh karena itu, para peneliti harus memperhatikan masalah ini saat menggunakan aplikasi takhrij, khususnya dalam aplikasi Mausuah Syamilah. Saat menggunakan aplikasi ini, dianjurkan bagi peneliti untuk tetap merujuk kepada kitab asal, baik kitab yang sudah dicetak ataupun yang masih dalam bentuk manuskrip.
  3. Setiap kesalahan ejaan dalam penulisan kata, baik dari peneliti atau programmer, akan merubah hasil pencarian. Misalnya dalam hal berikut.
  • Seperti kata (عبدالله), jika peneliti menuliskannya dengan spasi di antara dua kata (عبد الله), spasi tersebut akan berdampak besar pada hasil yang dicari.
  • Dalam kaidah imla’ lafadz (ابن) jika terletak diantara dua nama, maka huruf alifnya harus dihilangkan, seperti pada lafadz (سعيد بن سهير). Namun dalam beberapa aplikasi takhrij, mereka menerapkan kaidah imla’ yang salah, yaitu menetapkan huruf alif pada saat lafadz (ابن) berada di antara dua nama, (سعيد ابن سهير). Hal itu akan berdampak pada hasil pencarian. Jika peneliti menuliskannya tidak dengan mencantunkan alif, maka dapat dipastikan biografi dari rawi yang dicari tidak akan muncul.

Dengan mempertimbangkan kelemahan metode takhrij dengan aplikasi di atas, maka dianggap penting bagi para user aplikasi, untuk meninjau refrensi asal, baik berupa kitab yang sudah dicetak ataupun yang masih berupa manuskrip.

Merujuk kepada kitab asal dianggap penting, karena bertujuan untuk memverifikasi hasil temuan dari aplikasi tersebut dan menvalidasi informasi saat peneliti menemukan kesulitan ataupun masalah.

Dan termasuk penyebab pentingnya merujuk ke kitab asal adalah karena para programer, walaupun telah mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya, mereka tentu tidak terlepas dari yang namanya kesalahan. Terkadang para programer menginput status hadis dari hasil penelitian komentator kitab (muhaqqiq kitab) dan meletakkannya di tubuh teks kitab, tidak di catatan kaki. Sehingga seringkali para peneliti mengira bahwa hukum hadis tersebut murni pendapat pengarang kitab, bukan dari muhaqqiq kitab.

Sikap KH. M. Hasyim Asy’ari Terhadap Hadis Maudu’

Penulis: Ilham Zihaq

Setiap perkataan bisa ditolak kecuali sabdanya Nabi Muhammad. Sehingga banyak golongan tertentu untuk memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Seperti beberapa Hadist yang di buat oleh golongan Syiah. Hadis-hadis yang dibuat oleh para penguasa, dsb. Hadis seperti ini di namakan Hadist Maudu’.

Hadits Maudu’ adalah; Hadist yang di buat oleh pemalsu, yang di nisbatkan kepada Nabi Muhammad. Ulama sepakat haram hukumnya membuat hadis Maudu’ dan termasuk dosa besar. Karena ada riwayat dari nabi,

من كذب علي متعمدا فليتبواء مقعده من النار

Barang siapa yang berbohong atas nama saya (nabi Muhammad), maka tempatilah tempatnya di api neraka”

Ini adalah ancaman nabi Muhammad bagi orang yang berani membuat hadis palsu dan dinisbatkan kepada Nabi. Dan juga haram untuk meriwayatkan hadis Maudu kepada orang lain. Kecuali jika bertujuan menjelaskan tentang kepalsuam hadis ini. Walaupun yang di riwayatkan itu Hadist yang berkaitan dengan Halal & Haram, Fadoilul A’amal, Targib, Tarhib dan lain sebagainya.

Dan orang yang meriwayatkan Hadist Maudu’ tanpa di sertai keterangan, maka dia berdosa dan termasuk orang yang berbohong atas nama Nabi. Sebab Ada riwayat dari Imam Muslim, “bahwasanya orang yang meriwayatkan hadis Maudu’, dia termasuk orang-orang yang berbohong.

KH. Musta’in Syafi’i pernah menyampaikan bahwa Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sangat mewanti wanti terkait Hadist Maudu’ ini. Karena ancamannya yang sangat pedih dari Nabi. Dari itu, beliau melarang di pesantren Tebuireng mengadakan pengajian kitab-kitab yang di duga kebanyakan berisi Hadist-Hadist Maudu’. Seperti kitab Tanbihul Ghofilin, Durrotun Nasihin dll. Beliau tidak melarang 100% mengajarkan kitab-kitab tersebut, boleh diajarkan dengan syarat, sang Qori/pengajar bisa menjelaskan kualitas Hadist dalam kitab-kitab tersebut.

Khawatirnya jika tidak dijelaskan tentang kualitas hadis-hadisnya, banyak dari orang awam yang berpegangan dengan hadist palsu tersebut. Dan ini sangat membahayakan, sebab Hadist palsu tidak bisa di gunakan untuk Hujjah dalam hal apapun. Dari itu Hadratussyaikh melarang bagi Qori’ yang belum menguasai tentang Ilmu Hadist untuk mengajarkan kitab – kitab yang diduga berisi banyak Hadist-Hadist palsu atau Maudu’.

Perlu di perhatikan bahwa Hadratussyaikh tidak menafikan atau memusuhi kitab-kitab tersebut, tetapi hanya untuk berhati hati dalam mengamalkan hadis yang terkandung di dalamnya. Di takutkan bisa terjerumus dosa berbohong atas nama Nabi.

Guru penulis, Prof. Jamaluddin Miri pernah menyampaikan bahwa saat KH Abdurrahmsn Wahid (Gus Dur) masih menjabat menjadi ketum PBNU, beliau menginstruksikan kepada seluruh Kyai pesantren NU, untuk berhati hati dalam dalam menyampaikan hadis yang didapat dari kitab yang diduga kebanyakan hadisnya Maudhu’.

Hadratussyaikh pernah menulis artikel terkait landasan sebagian masyarakat awam dengan menggunakan hujjah hadis maudu’. Yaitu tentang hadis Sholat Hadiah yang dilakukan oleh keluarga ahli kubur agar siksanya diringankan. Hadits itu berbunyi, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bahwasanya tidak ada sesuatu kejadian yang menimpa mayyit yang lebih berat daripada malam pertama saat dia dikubur, maka kasihilah orang-orang yang telah meninggalkan kalian dengan cara bersedekah untuknya. Barangsiapa yang tidak menemukan barang yang bisa ia sedekahkan maka kerjakanlah sholat 2 rakaat dan disetiap rakaat membaca surat al-Fatihah, ayat kursi, al-Takatsur, dan al-Ikhlas 11 kali….. maka seketika itu Allah langsung mengirimkan 1000 malaikat, setiap malaikat membawa hadiah berupa cahaya yang dapat menenangkan dia dalam kuburnya sampai ditiupnya sangkakala, dan selama matahari masih terbit Allah akan memberi pahala kepada orang yang mengerjakan sholat itu seperti pahalanya 1000 orang mati syahid dan 1000 pakaian”’.

Hadratussyaikh mengomentari hadis tersebut, (Adapun hadits yang disebutkan dalam kitab Hasyiah al-Sittin itu merupakan hadits maudu’. Keterangan diambil dari kitab al-Qistholani ‘ala Al-Bukhari, [ Hadits Mukhtalaq juga dinamai dengan hadits Maudhu’, maka haram meriwayatkannya walaupun telah dijelaskan status hadisnya, dan haram pula beramal dengan berdasar kepadanya secara mutlak”. Sampai pada keterangan….. Bagi setiap orang tidak boleh berdalil dengan riwayat  yang shahih dari sabda Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam: sholat itu adalah sebaik-baiknya hal yang dikerjakan, barangsiapa yang ingin menambah maka perbanyaklah, dan barangsiapa yang ingin mengurangi maka kurangilah” Tidak boleh berdalil dengan hadits ini karena yang dimaksud dengan hadist ini yaitu hanya sholat-sholat yang telah dilegalkan oleh 
syariat.]

Maka sekiranya kesunnahan sholat Hadiah ini tidak bisa dihukumi dengan hadits  maudhu’, maka sholat rebo wekasan juga tidak bisa dihukumi hanya dengan perkataan atau penjelasan ulama yang ahli makrifat, bisa jadi nanti naik kepada hukum haram karena telah berani melakukan ibadah yang sifatnya rusak.

Kehati-hatian Hadratussyaikh mencerminkan bahwa beliau sangat menguasai tentang Hadist yang diperoleh ilmunya dari Syaikh Mahfudz Termas.
والله أعلم بالصواب

Alfaqir M. Ilham Zidal Haq

Dilema Riwayat bil Ma’na dalam Mukjizat Ilmiah Hadist

Oleh: Maulanida

Beberapa waktu silam, artikel tentang kesesuaian Al-Quran dan Sains kehilangan wibawa di mata Fulan. Orang-orang riuh dengan wacana bumi datar/bulat dan bumi dikelilingi oleh matahari/matahari dikelilingi bumi. Mereka memberikan dalil pembenar untuk pendapat mereka masing-masing dengan Al-Qur’an dan argumen lain. Padahal jauh sebelum itu, telah banyak beredar artikel tentang kesesuaian fakta-fakta ilmiah dengan Al-Qur’an. Rasa kagum Fulan pada i’jaz ilmi Al-Quran berubah menjadi keraguan. Apakah i’jaz ilmi itu hanya permainan kata-kata, spekulasi/cocokologi, fanatisme buta atau penyesatan dalam berfikir?

Entah bagaimana perdebatan ini berakhir. Fulan hanya melihat sekilas dalil-dalil mereka dan pergi. Saat itu, Fulan melihat dalil, “wa kullun fi falakin yasbahun” dipahami sebagai masing-masing matahari dan bulan mempunyai gasis edar mengelilingi bumi. Padahal ayatnya berbunyi “wa kullun” bukan “wa kilaahuma”.  Kalau “wa kullun”, berarti merujuk pada setiap benda langit yang disebut pada kalimat sebelum-sebelumnya (bumi, matahari dan bulan). Kalau “wa kilaahuma”, berarti masing-masing keduanya (hanya matahari dan bulan yang berevolusi/berkeliling). Karena ayatnya pakai ‘wa kullun“, seharusnya ayat-ayat ini tidak dapat dipakai sebagai dalil “bumi diam dikelilingi matahari dan bulan”.

Semenjak melihan inkompetensi mereka itu, Fulan menghindari pembahasan tentang mukjizat ilmiah Al-Qur’an maupun artikel yang mempromosikan kebenaran agama. Lalu Fulan merasa kehilangan sesuatu dalam dirinya. Aslinya, Fulan nggak perlu memerdulikan mereka, karena ia sudah tahu pokok masalahnya. Marwah i’jaz ilmi Al-Qur’an pudar karena orang yang membahasnya adalah orang yang tidak kompeten. Entah artikel itu ditulis oleh orang Islam sendiri atau non muslim, kalau tidak kompeten, tetap tidak begitu bagus.

Sampai pada suatu pagi, datanglah sebuah pertanyaan tentang bagaimana status hadits:

سمعت أبا هريرة رضي الله عنه ، يقول: قال النّبي صلى الله عليه وسلم: «إذا وقع الذباب في شراب أحدكم فليغمسه ثم لينزعه، فإن في إحدى جناحيه داء والأخرى شفاءه

Nabi bersabda, “Jika lalat terjatuh di minuman salah seorang dari kalian maka celupkanl.h lalat itu. Kemudi an ambillah. Sebab, sesungguhnya di salah satu sayapnya terdapat penyakit sedangkan yang lain terdapat obat”.

Seperti biasa, jawaban yang muncul adalah copy paste dari software kitab shamela dan sumber-sumber internet. Jawaban ditambah dengan diksi khusus untuk memunculkan rasa kagum atas kesesuaian Islam dan Sains. Mungkinkah ini spekulasi lagi? Fulan ingin mencari pembahasan dari sudut pandang lain.

 

Dari situs website kaskus, Fulan mendapatkan thread “sayap lalat dan antibiotika”. Artikel itu menerangkan dua penelitian tentang lalat. Satu penelitian di Australia menunjukkan ketika lalat dicelupkan, terlihat aksi antibiotika dari tubuh lalat pada serangan kuman. Satu penelitian di Saudi Arabia menun jukkan jika seluruh tubuh lalat dicelupkan, maka akan ditemukan antibakteri dalam larutan tersebut. Jika seluruh tubuh lalat tidak dicelupkan, maka akan tetap ada kuman dalam larutan tersebut.

Penulis thread kaskus tadi menganggap bahwa penelitian dari Saudi ini sering dibelokkan oleh orang Islam untuk membela dan menunjukkan kebenaran hadits “Salah satu sayap lalat mengandung penyakit sedangkan sayap lainya mengandung obat”. Seharusnya, kesimpulan penelitian dari Saudi adalah sayap lalat membawa bakteri penyakit sedangkan tubuh lalat mengandung antibakteri, bukan “di sayap lainnya” seperti kata hadits.

Fulan shock. la kecewa, “Tidak mungkin wahyu salah. Atau jangan-jangan, wahyunya tidak seperti itu?”

Fulan meraih maktabah shamela dan mencari hadits tentang lalat dari kutub sittah. Dia mendapati 18 hadits. Empat belas hadits dari jalur Sahabat Abu Hurairah sedangkan empat hadits dari Abu Said al-Khudri radhiya allahu anhuma. Empat hadits dari sekian hadis Abu Hurairah RA dhoif sedangkan sisanya shohih.

Jika matan hadits dipisah-pisah, maka akan menjadi tiga klausa dengan tiga topik: lalat jatuh ke minuman, perintah untuk mencelupkan seluruh tubuh lalat dan penjelasan tentang sayap mana yang berpenyakit. Tiga topik itu mempunyai versi yang berbeda-beda. Ada matan yang menyebutkan “lalat jatuh di minuman”, “di makanan” dan “di wadah”. Fulan tidak tertarik meneliti topik dimana jatuhnya lalat, la lebih tertarik pada topik kedua dan ketiga: “apa yang harus. dilakukan?” dan “bagian lalat mana yang membawa penyakit atau obat?”

Delapan belas hadits itu sepakat mencantumkan perintah mencelupkan lalat walaupun berbeda pilihan kata. Perbuatan ini terbukti manjur melawan bakteri yang dibawa oleh lalat sesuai dengan penelitian dari Australia dan Arab Saudi. Tiga belas hadits dari Abu Hurairah r.a. menggunakan kata

“فليغمسه”

sedangkan lima hadits sisanya menggu nakan kata

“فامقلوه”

Intinya sama walaupun lafalnya beda (riwayat bil ma’na). Dari sini telah jelas, wahyunya memang berisi perintah mencelupkan lalat. Hanya saja, bahasanya tidak sama persis. Fulan mulai yakin kembali tentang kebenaran wahyu.

Masalahnya di topik ketiga, sebagaimana penelitian di Australia, sayap lalat tidak membawa obat tapi hadisnya bilang ada obat di sayap lainnya. Apakah kalimat,

“فإن في إحدى جناحيه داء والأخرى شفاء”

hanya tambahan dari perawi hadits dan Nabi tidak pernah mengatakannya atau memang asli dari Nabi? Ah, ambil mudah saja. Agar hadits sesuai dengan sains, maka anggap saja kalimat ini hanya tambahan dari perawi hadits.

“Tidak bisa,” gumam akal sehat Fulan sambil melihat empat belas hadits dari Sahabat Abu Hurairah RA. Keempat belas hadits itu menyebutkan letak penyakit dan obat. Sedangkan empat hadits dari Sahabat Abu Said al-Khudri, tidak mempunyai kalimat tersebut kecuali satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad nomor 11643. Satu hadits itu shahih pula, seperti tiga hadits yang lain. Semua perawinya tsiqqah. Bahkan Imam Ibnu Hajar sampai mengklarifikasi keterangan adz-Dzahabi yang berkata bahwa Said bin Khalid (salahsatu rawi dalam sanad ini) di-dhaif-kan oleh Imam Nasa’i. Padahal, Imam Nasai sendiri berkata dalam kitab al-jarh wa at-ta’dil bahwa Said bin Khalid bersifat tsiqqah (jujur, shalih, dan akurat hafalannya). Jadi, kemungkinan besar, Nabi memang menyebutkan letak penyakit dan obat yang kelihatannya salah itu.

“Atau jangan-jangan saya yang salah memahami kalimat ini?” kata Fulan.

Mungkinkah kata “al-akhor” dalam hadis, bukan bermakna “sayap yang lain” tapi “bagian tubuh lalat yang lain [selain sayap]”. Otomatis, arti sebenarnya menjadi “karena sesungguhnya di salah satu sayap lalat terdapat penyakit dan (di) bagian tubuhnya yang lain terdapat obat”.

Apa bagian tubuh yang lain itu? Bagian yang membawa obat adalah permukaan tubuh lalat sehingga kita diperintah mencelupkan tubuh lalat semuanya. Daya antibakteri permukaan tubuh lalat juga sudah dibuktikan dalam penelitian di Australia.

Fulan berteriak dalam hati, “superr!!!” Rasanya mengalahkan kesenangan menemukan uang asli limapuluh ribu di saku celana lama.

Fulan mengernyitkan dahi lagi karena mendapati lima versi untuk topik bagian lalat yang membawa racun atau obat. Namun intinya hanya dua versi. Versi pertama menyatakan bahwa salah satu sayap lalat membawa racun sedangkan yang lain membawa obat. Versi ini sudah dibahas dan cocok dengan sains.

Kemudian Versi kedua justru kebalikan versi pertama. Versi kedua menyatakan bahwa salah satu sayap lalat membawa obat sedangkan yang lain membawa racun. Mafhumnya jadi sayap lalat membawa obat sedangkan permukaan tubuhnya membawa penyakit. Versi kedua bertentangan dengan hasil penelitian.

Fulan bingung. Versi kedua yang aneh ini, diriwayatkan oleh imam Ahmad pada hadits nomor 7359. Dari lima belas hadits yang membahas topik letak penyakit dan obat pada lalat, hanya hadits ini yang berbeda dan terbalik. Dalam kajian ilmu hadits, hadits ini adalah hadits maqlub dan tergolong dhaif. Hadits maqlub itu pastinya tidak sesuai dengan yang dikatakan Nabi sholla Allahu ‘alaihi wa sallam. Karena hadis kebalik ini tidak sesuai dengan aslinya, maka bisa salah. Alhamdulillah, selesai.

Dewasa ini, banyak orang yang mengatakan bahwa kebenaran agama bersifat mutlak, sedangkan kebenaran ilmiah bersifat nisbi, periodik dan historis atau terus berkembang dan berubah. Karena itu, tidak selayaknya menyandingkan yang nisbi dengan yang mutlak. Menurut Prof. Dr. Zaghlul Raghib an-Najjar, al-Qur’an dan sunnah diturunkan agar kita memahaminya sesuai dengan batas ke mampuan akal dan spiritual. Selain itu, ilmu pengetahuan yang dicapai manusia tidak semuanya berupa asumsi dan teori yang bersifat nisbi, periodik dan historis.

Fase-fase perkembangan ilmu pengetahuan manusia, pada akhirnya, akan mengantarkan kita pada pencapaian beberapa kebenaran atau hukum yang pasti dan tidak bisa diubah lagi. Jika telah sampai pada fase kebenaran atau hukum, maka ilmu pengetahuan manusia tidak mungkin mundur kembali; yang mungkin terjadi adalah berkembang atau bertambah.

Sayangnya, terlalu banyak hal yang membuat kita salah faham dengan Tuhan sehingga kita tidak mengindahkan firman Tuhan dan sabda Nabi. Jalan paling aman adalah menempuh jalan orang yang mendalam ilmunya seperti Sahabat Abdullah bin Salam dan orang yang beriman seperti para muhajirin dan anshor. Tetap beriman pada Allah, wahyu dan hari akhir, tetap sholat dan tetap menunaikan zakat.

لكن الراسخون في العلم منهم والمؤمنون يؤمنون بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك والمقيمين الصلاة والمؤتون الزكاة – والمؤمنون بالله واليوم الآخر أولئك ستؤتيهم أجرا عظيما (النساء : 162)

 

Dikutip dari Maha Media Edisi 35 Tahun 2017 dengan perbaikan diksi

Otentitas Hadis Menurut Ahli Sufi

Penulis : Viki Junianto

Dalam mengetahui otentitas hadis, ternyata instrumen kritik ahli hadis bukanlah satu-satunya metode. Dalam kitab al-Hadis as-Sahih wa Manhaju Ulama al-Muslimin fi at-Tashih, Syekh Abdul Karim Ismail as-Sabbah menjelaskan bahwa, selain metode hadis, terdapat metode lain yang digunakan oleh kaum muslimin untuk mengetahui otentitas sebuah hadis.

Tidak semua kaum muslimin sepakat dan mengamini instrumen yang dirumuskan oleh ahli hadis. Perbedaan metodologis tersebut disebabkan oleh latarbelakang diskursus keilmuan yang berbeda. Di antara banyak metode dalam mengetahui otentitas sebuah hadis, motode ahli sufi lah yang dipandang sebagai metode yang kontroversional. Metode ahli sufi dianggap tidak mempunyai dasar epistimologi yang kuat dan dapat dibenarkan secara rasional.

Perlu diketahui bahwa istilah ahli sufi di atas tidak dimaksudkan untuk keseluruhan ahli sufi. Para ahli sufi terklasifikasi menjadi tiga golongan: Pertama, sufi pengikut tasawuf akhlaki, yaitu tawasuf yang berfokus pada perbaikan moral, dan di antara tokohnya adalah Imam Ghazali. Kedua, sufi pengikut tasawuf amaly, sebuah aliran tasawuf yang berfokus pada amal kebajikan, Hasan al-Bashri adalah salah satu tokohnya. Dan yang ketika adalah sufi yang mengikuti tasawuf falsafi, aliran tasawuf yang menggabungkan sisi mistis dan nalar rasio, Ibnu Arabi didaulat sebagai tokohnya.

Dan yang sufi yang dimaksud dalam tulisan ini adalah sufi yang mengikuti aliran tasawuf falsafi.

Setelah meneliti beberapa kitab karangan sufi falsafi, setidaknya ada dua metode yang ditempuh oleh mereka untuk mengetahui otentitas sebuah hadis yaitu: kasf dan tajribah.

  1. Kasf

Kasf seperti yang dikatakan oleh al-Jurjani:

الإطلاع على ما وراء الحجاب  من المعانى الغيبة والأمور الحقيقة وجودا وشعورا.

“Melihat sesuatu yang berada dibelakang penghalang berupa esensi-esensi yang tersembunyi dan perkara hakikat, baik secara nyata ataupun intuitif”

Para sufi menganggap bahwa kasf merupakan metode yang pang worth it untuk memperoleh kebenaran. Atas dasar itulah, untuk mengetahui otentitas sebuah hadis, mereka menggunakan motode ini.

Dalam prakteknya, untuk mengetahui kualitas sebuah hadis, mereka akan menanyakannya langsung kepada Nabi Muhammad SAW, baik dalam keadaan terjaga ataupun dalam mimpi.

Abu Mawahib merupakan tokoh yang terlacak pernah menggunakan metode ini:

قال أبو المواهب الشاذلى :”رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فسألته عن أحاديث المشهور- اذكرو الله حتى يقولوا:مجنون-وفى صحيح ابن حبان- اكثروا من ذكر الله حتى يقولوا- مجنون فقال: صدق ابن حبان فى روايته وصدق راوي.

Abu Mawahib berkata as-Syadili berkata: “Aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah, kemudian aku bertanya kepada beliau tentang hadis masyhur riwayat ibnu Hibban. Lantas Nabi menjawab: ‘Benar apa yang dikatakan oleh Ibnu Hibban dan rawi hadis itu”.

Lebih jauh lagi, dalam kitabnya Futuhat al-Makkiyah, Ibnu Arabi mempertentangkan antara metode yang dipakai oleh ahli sufi dan ahli hadis. Beliau berpendapat bahwa jika ada pertentangan antara ahli sufi dan ahli hadis dalam menyikapi suatu hadis, maka yang harus dimenangkan adalah metode ahli sufi yaitu kasf, dikarenakan kasfh merupakan penjelasan langsung dari Tuhan.

ورب حديث يكون صحيحا من طرق رواته يحصل لهذا المكاشف الذى قد عاين هذا المظهر فسأل النبى صلى الله عليه وسلم عن هذا الحديث الصحيح فأنكر وقال صلى الله عليه وسلم لا أقله ولا جكمت به فيعلم ضعفه فيترك العمل به عن بينة من ربه وإن كان قد عمل به أهل النقل لصحة طريقه.

Banyak sekali hadis sahih dalam segi periwayatannya, namun setelah ditanyakan langsung kepada Nabi SAW melalui kasyf, beliau mengingkarinya seraya berkata “Aku tidak pernah mengatakannya dan aku tidak mengakuinya”. Pada akhirnya hadis itu pun diketahui kedaifannya dan ditinggalkan atas penjelasan dari Tuhan, walaupun hadis itu diamalkan oleh ahli hadis karena sahih riwayatnya.

  1. Tajribah

Metode kedua yang digunakan oleh ahli hadis dalam menilai suatu hadis adalah tajribah atau aplikatif. Tajribah dalam pengertian ahli sufi di sini adalah menguji isi kandungan hadis dengan mempraktekkannya. Jika kadungan hadis tersebut terbukti benar, maka hadis tersebut dianggap sahih. Namun jika tidak terbukti, maka akan hadis tersebut akan ditinggalkan.

Di antara contoh dari praktek metode ini adalah,

“ماء زمزم ملا شرب له” هذا حديث مختلف فى صحته بين المتقدمين والمتأخرين من المحدثين. قال السخاوي: وقد جربه جماعة من الصوفية فذكروا : أنه صحيح.

Hadis keutamaan air zam-zam merupakan hadis yang diperselisihkan oleh ahli hadis akan kesahihannya. Imam Sakhawi berkata: “Golongan ahli sufi telah mempraktekkan hadis ini, lantar mereka berkata bahwa hadis ini sahih.

Dari keterangan tersebut bisa diambil lesimpulan bahwa ahli sufi menyimpulkan kualitas sebuah sanad tidak melalui tinjaan kajian sanad, melainkan dari kebenaran konten dan kandungan hadis tersebut. contoh lain,

 حديث ابن عباس مرفوعا : من وسع على نفسه وعياله يوم عاشورا وسع الله عليه ورزقه ذلك العام. قال جابر وابن الزبير وشعبة بن الحجاج : جربناه فصح

Hadis Marfu Ibnu abbas tentang keutamaan bersedekah kepada keluarga pada hari Asyura. Jabir, Ibnu Zubair, dan Syu’bah bin hajjaj berkata: Kami telah mempraktekkannya dan hadis itu sahih.

Lantas, apakah metode sufi ini bisa dipertanggung jawabkan kredibilitasnya, bagaimana pendapatmu?

Bagi yang masih penasaran, bisa ngintip hasil penelitian penulis dalam masalah ini.

http://repository.tebuireng.ac.id/index.php?p=show_detail&id=151&keywords=

 

 

 

Benarkah Sawad al-A’dham itu Mayoritas? Telaah pendapat Ust. Ubaidy Hasbillah

Penulis : Yuniar Indra

Kalangan pesantren pasti tidak asing lagi dengan ungkapan Sawad al-A’dham dan Ghuraba’. Makna keduanya secara teks boleh dibilang adalah mayoritas dan minoritas. Tentu mayoritas dan minoritas yang kaitannya dengan kuantitas. Tapi apakah hal tersebut memang demikian adanya?

Kedua hadis itu sering kali digunakan sebagai modal pembentukan opini publik. Hadis Sawad al-A’dam dipakai mereka yang punya masa banyak. Karena yang seharusnya mereka ikuti adalah kaum muslim yang berjumlah mayoritas. Sementara hadis ghuraba’ digunakan oleh kelompok yang merasa minoritas untuk membentuk opini publik agar tidak merasa kalah dengan yang mayoritas.

Redaksi pertama sawad al-a’dham ditemukan dalam hadis berikut:

أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ، فَإِذَا رَأَيْتُمُ اخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ بالسواد الأعظم

“Umatku tidak akan berkumpul-sepakat dalam kesesatan. Karena itu, jika kslian melihat ada perbedaan (dalam beragama ini), maka kalian harus tetap pada al-sawad al-a’dham”.

Istilah-istilah yang digunakan dalam hadis tersebut memang sepintas dapat dimaknai “mayoritas” , jika dilihat dari aspek lahiriah teksnya saja.

Kedua, redaksi al-ghuraba’ ditemukan pada hadis berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

“Islam itu muncul pertama kali secara asing, dan akan kembali asing lagi. Sangat beruntung bagi para ghuraba”.

Secara teks orang Islam yang beruntung menurut hadis di atas adalah mereka yang merasa terasing. Lebih-lebih merasa terasing dalam jumlah. Artinya mereka merasa jumlahnya minoritas.

Lalu, apakah mayoritas dan minoritas itu benar-benar dapat mewakili kedua hadis tersebut? Ustaz Ubaidy Hasbillah menggunakan metode ikhtilaf al-hadis dalam memahami kedua hadis tersebut. Secara sederhana ada dua langkah untuk menyelesaikan perbedaan dalam hadis itu.

Uji Keberadaan dan Keadaan Hadis

Berdasar takhrij syamil, hadis pertama tentang sawad al-a’dham ini sedikitnya menurunkan 16 sanad turunan (mutabi’). Hadis ini juga memiliki populasi syawahid sebanyak 64 sanad yang bermuara kepada 9 orang sahabat Nabi. Total ada 80 sanad yang membawa hadis ini. Ia tergolong hadis masyhur jika melihat banyaknya sanad.

Terkait, kesahihan dari 80 sanad itu, hanya ada 3 sanad sahih, 12 hasan, 20 hasan lighairihi. Dengan demikian jumlah populasi periwayatan yang maqbul dari hadis ini adalah 35 sanad atau setara 43,75%.

Sementara hadis kedua secara turunan terdapat 43 sanad turunan (mutabi’) dari Abi Hurairah. Secara menyeluruh populasi hadis ini mencapai 233 sanad syahid. Praktis, hadis ini dapat dinyatakan mutawatir, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Kattani.

Kesahihannya pun tidak diragukan, didapati ada 26 sanad sahih, 103 sanad hasan, 66 sanad hasan li ghairihi, 81 mardud. Tingkat ke-maqbul-annya mencapai 70,7%.

Uji Makna Hadis dan Keberadaan Ikhtilaf

Setelah dikumpulkan seluruh versi matannya, hadis sawad al-a’zham memiliki makna, setia pada komunitas umat Islam yang ada pada masa Nabi (ma ana ‘alaihi wa ashabih al-yaum). Tidak menyimpang dari ajaran Islam, itulah al-sawad al-a’zham.

Lebih jelas lagi, Rasulullah langsung menafsirkan makna al-sawad al-a’zham dengan makna, “kebenaran dan pada pengamalnya.” (fa ‘alaikum bi al-sawad al-a’zham, al-haqqi wa ahlih). Riwayat ini ditemukan dalam kitab Al-Sunnah karya Ibn Abu Ashim (w. 287 H)

Dengan demikian, al-sawad al-a’zham bukanlah mayoritas. Kata a’zham  di ini tidak bermakna besar secara kuantitas, melainkan besar dalam arti kualitas, yakni jamaah umat Islam teragung. Jamaah teragung itu jamaah Nabi dan para sahabat-nya yang selalu bertahan dalam kebenaran.

Bagaimana dengan makna ghuraba’?. Setelah pengumpulan versi riwayat dijumpai makna ghuraba’ sesuai dengan penjelasan Rasul adalah:

  1. Orang-orang yang berani berhijrah, menjauh, dan meninggalkan sukunya yang penuh kezaliman
  2. Orang yang senantiasa berbuat baik saat orang-orang berbuat kerusakan
  3. Orang yang berpegang teguh pada sunah

Dari sini jelas sekali bahwa yang dimaksud ghuraba’ itu bukanlah asing dalam arti jarang atau sedikit jumlahnya. Melainkan asing dalam arti kualitasnya, alias dianggap aneh.

Alhasil, tidak ada tanaqudh (kontradiksi) dalam hadis-hadis di atas. Dugaan kontradiksi tersebut hanya berada pada tataran pemaknaan teksnya saja. Namun, makna sebenarnya tidak seperti itu.

Lalu, jika kembali pada masalah mana yang harus diikuti, mayoritas atau minoritas? Jawabannya tidak keduanya. Yang harus diikuti adalah kebenaran sesuai petunjuk Nabi.

Menentukan Sampel untuk Penelitian Hadis

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memilih sampel penelitian hadis. Berbagai cara tersebut tidak selalu cocok untuk dipakai dalam setiap penelitian hadis. Metode yang salah, dapat menjurus pada hasil yang salah. Disamping itu, setiap metode sampling mempunyai karakteristik dan prasyarat tertentu.

Sampel hadis yang diambil secara tidak benar, mungkin saja tidak dapat merepresentasikan keseluruhan hadis yang relevan untuk diteliti. Misalnya sepuluh sampel takhrij hadis digunakan untuk menilai keseluruhan metode takhrij yang digunakan oleh ulama X. Kebetulan ulama’ itu hanya menggunakan metode Z pada sepuluh takhrij tersebut tapi ia menggunakan metode P, Q, R, dan S di takhrij hadis lain. Lalu apakah kesimpulannya, dia hanya memakai metode Z dalam mentakhrij hadis? Tentu saja tidak. Ini adalah contoh sampel tidak representatif atau tidak mewakili populasi.

Akan lain ceritanya, bila sepuluh sampel tersebut tidak digeneralisir untuk semua takhrij dari ulama itu. Misalnya, sampel tersebut digunakan untuk mengetahui penerapan takhrij dengan metode Z dan gaya penyampaiannya. Tipe pengambilan sampel seperti ini disebut non-probability sampling. Hal ini menunjukkan pentingnya mengetahui dan membedakan penggunaan non-probability sampling dan probability sampling.

jenis samplingcontohkesimpulan generalisasi
Haphazard Samplingmengambil hadis secara serampangan tanpa kriteria khusus dan tanpa mengetahui jumlah hadis yang bisa ditelititidak untuk generalisasi
Accidental Samplingkebetulan bertemu hadis yang mengandung illat pada matan kemudian menjadikannya penelitian illat hadistidak untuk generalisasi
Snowball Samplingmencari hadis-hadis yang satu bab dengan hadis yang mengandung kata anak usia dini/shabi untuk mencari konsep pendidikan anak usia dini dalam hadis nabawitidak untuk generalisasi
Purposive Samplingmencari hadis yang mengandung kriteria tertentu (kata zuhud) untuk mendapatkan gambara konsep zuhud dalam hadis Nabitidak untuk generalisasi
Simple Random Samplingmengambil sampel takhrij dari kitab X secara acak dengan jumlah tertentu sesuai aturan statistik untuk memprediksi macam-macam metode takhrij yang digunakan pentakhrij dan presentase kekerapannya.Bisa untuk generalisir
Systematic random samplingmengambil sampel takhrij dari kitab X dengan pola urutan tertentu dalam jumlah tertentu sesuai aturan statistik untuk memprediksi macam-macam metode takhrij yang digunakan pentakhrij dan presentase kekerapannya.Bisa untuk generalisir
Stratified Random Samplingmengelompokkan takhrij hadis kitab X pada empat kategori (sahih, hasan, dhaif, palsu); lalu mengambil beberapa sampel dari tiap kategori dengan jumlah tertentu sesuai aturan statistik untuk memprediksi macam-macam metode takhrij yang digunakan pentakhrij dan presentase kekerapannya.Bisa untuk generalisir
Cluster Random Samplingmengambil beberapa sampel takhrij dari tiap bab dengan jumlah tertentu sesuai aturan statistik untuk memprediksi macam-macam metode takhrij yang digunakan pentakhrij dan presentase kekerapannya.Bisa untuk generalisir
tabel teknik sampling hadis

Terdapat cara khusus untuk nmenentukan jumlah sampel penelitian. Cara mudahnya dapat menggunakan aplikasi android Sample Size Calculator. Aplikasi tersebut mampu meringankan kita dari perhitungan statistika yang asing. Kita cukup memasukkan jumlah populasi (keseluruhan hadis dalam kitab), tingkat kepercayaan, dan tingkat signifikansinya. Misalnya kita ingin kemungkinan benarnya 80% dan 0.05 (5%) untuk kemungkinan salahnya maka masukkan angka 80% untuk convidence level dan 0.05 untuk relative standar error-nya. Kemudian jumlah sampel yang harus kita teliti, akan muncul.

contoh hasil systematic random sampling dari 14587 hadis kitab al-jaami’ al-shagiir dengan tingkat kepercayaan 80% dan tingkat signifikansi 0.05

statusjumlahpersentase
صحيح9351.66667
حسن105.555556
ضعيف5631.11111
ضعيف جدا95
موضوع126.666667
total180100
tabel jumlah hadis sampel sesuai derajat kesahihannya

Peneliti mengambil 180 hadis dari kitab al-Jaami’ al-Shagiir dengan nomor urut 81 [karena total hadis dibagi jumlah sampel adalah 81] dan kelipatannya. Kemudian peneliti menghitung jumlah hadis yang sahih dan dhaifnya menurut syekh Albani (hanya contoh). Setelah itu, penulis menampilkan jumlahnya pada tabel di atas. Dari tabel diatas, perkiraan presentase hadis sahih, hasan, dhaif, matruk, dan palsu dalam kitab al-Jaami’ al-Shagiir dapat diketahui. Jika hadis dhaif, dhaif jiddan, dan palsu digabung, maka totalnya 42,7%. Mari kita bandingkan dengan jumlah jumlah asli populasinya (diambil dari kitab Shahiih al-Jami’ al-Shagiir dan Dhaif al-Jami’ al-Shagiir), sebagai berikut:

statuspersen sampeljumlah populasipersen populasiselisih/meleset
صحيح51.66667%820055.96506%4.2983893%
حسن5.555556%
ضعيف42.777777%645244.03494%1.25716626%
total100%14652100%5.55555556%
tabel pembuktian

Perkiraan presentase hasil sampling dan presentase keseluruhan populasi tidak terpaut jauh, hanya lima angka. Ini sesuai dengan tingkat signifikansi yang dipilih dalam penentuan jumlah sampel. Dalam percoban ini, pemilihan teknik sampling yang baik dapat menghasilkan kesimpulan yang merepresentasikan populasi aslinya.

Sumber bacaan lebih lanjut: