المكتبة للمعهد العالي هاشم أشعري

Kategori: Tasawuf dan Tarekat

‘Ataqoh Kubro Ijazah dari Hadratussyaikh

Penulis: Ilham Zihaq

Dalam dunia tasawuf terdapat ritual yang biasa disebut dengan “Fida‘” atau “‘Ataqoh“. Ritual ini dilakukan untuk menebus dirinya dari api neraka dan melepaskan jiwa dari perbudakan makhluk. ‘Ataqoh ini ada dua macam:

1)’ Ataqoh Sughro atau Fida’ Shugro, yaitu dengan membaca kalimat Tahlil sebanyak 70.000 kali. Menurut guru kami, KH. Taufiqur Rahman Mukhit Jombang, ‘Ataqoh Kubro ini harus dibaca dalam satu majlis. Mereka beragumen dengan hadis yang berbunyi:

من قال لا إله إلا الله سبعين ألف مرة حرم الله عليه النار وفي رواية فقد اشترى نفسه من الله.

Barang siapa yang mengucapkan “لا إله إلا الله” sebanyak tujuh puluh ribu kali, maka Allah mengharamkan neraka untuknya”. sebagaian riwayat “maka sesungguhnya ia telah membeli dirinya dari Allah”.

2) ‘Ataqoh Kubro atau Fida’ Kubro, yaitu dengan membaca surat Al-Ikhlas beserta basmalahnya sebanyak 100 ribu kali. Menurut Kyai Taufiq, ‘Ataqoh Kubro ini membacanya boleh dicicil. Berdasar hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik:

من قرأ قل هو الله أحد أي مع البسملة مأىة ألف مرة فقد اشترى نفسه من الله. ونادى مناد من قبل الله: الله في سمواته وفي أرضه ألا ان فلانا عتيق الله فمن له قبلة تبعه فليأخذ من الله.

Barang siapa yang mengucapkan Qul Huwa Allahhu Ahad beserta basmalahnya sebanyak 100 ribu kali, maka sesungguhnya ia telah membeli dirinya dari Allah. Kemudian, ada yang memanggil dari sisiNya: Demi Allah di langit dan bumi-Nya, ketahuilah bahwa fulan telah dimerdekakan (dari api neraka) oleh Allah dan bila ada orang yang masih memiliki urusan dengannya (jika si fulan masih punya kesalahan kepada seseorang) maka hendaklah dianmengambil dari sisi Allah”.

Al-Maghfurlah KH. Shiddiq As-Sholihi telah mendapatkan ijazah ‘Ataqoh Kubro ini dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pada 15 Sya’ban 1354 H. Seperti yang dikatakannya dalam kitab karyanya yang berjudul, “Kasyf al-Mudmarot fi Dzikr Bayan ma Yunfa’ lil Amwat”.

وهذه العتاقة بقرأة سورة الإخلاص مأىة ألف مرة المذكورة قد أجازني وأذنني بها شيخنا الأكبر راما كياهي هاشم أشعري بمنزلته تبوإيرع الجمباني الجاوي الشرقي بعد المغرب بعد أن أستفيه منه- ذلك في ١٥ شعبان سنة ١٣٥٤ هـ. ثم بعد الفراغ من قرأة سورة الإخلاص مع البسملة مأىة ألف مرة بنية عتق وفداء نفسه وروحه أو روح أهاليه دعا بدعاء العتاقة الصمدانية

Ataqoh dengan membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 100 ribu kali ini, telah diijazahkan dan diijinkan kepadaku oleh Syaikhuna Al-Akbar Romo KH. Hasyim Asy’ari, fi rumah beliau Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, sehabis Magrib, setelah saya meminta fatwa kepada beliau, tepatnya pada tanggal 15 Sya’ban 1354 H. Setelah membaca surat Al-Ikhlas dengan Basmalah sebanyak 100 ribu kali, disertai niat untuk memerdekakan dan menebus dirinya dan ruhnya, atau ruh-ruh keluarganya; kemudian berdoa dengan do’a Ataqoh Shomadiyah”

Kitab Kasyf al-Mudmirot itu kitab yang menjelaskan argumen amaliyah-amaliyah yang biasa dilakukan oleh orang masyarakat muslim Indonesia khususnya orang NU. Seperti Ataqoh, Hadiah pahala dapat sampai kepada orang yang telah meninggal, Haji badal, acara 7 hari setelah kematian, Talqin dan lain-lain. Kitab ini saya temukan di perpustakaan pribadi Kakek, yang mana beliau termasuk salah satu murid dari KH. Shiddiq. KH. Shiddiq termasuk salah satu santri kesayangan Hadratussyaikh, terbukti beliau pernah ditawari untuk menikahi salah satu keluarga Hadratussyaikh.

غفر الله لهم ونفعنا بعلومهم

Oknum Guru Tarekat dalam Pandangan KH. Hasyim Asy’ari

Penulis : Ilham Zihaq

Hadratussyaikh pernah menulis dalam majalah “Suara Nahdlatul Ulama” edisi 8, Sya’ban 1347/1929. Tulisan itu berjudul, Risalah at-Tanbih al-wajib Liawami al-Muslimin fi Amri  Dinihim (Peringatan bagi masyarakat awam dalam hal guru agama)

Di antara substansi isinya sebagai berikut ini:
Saya (Hadratussyaikh) memperingatkan Anda semua, saudara-saudara saya! Untuk tidak menjadi pengikut syaikh/guru yang tidak memiliki himmah kecuali untuk mengumpulkan harta benda yang fana‘. Beberapa dari mereka orang yang mengikuti thariqoh, serta dia mampu untuk mengarang dongeng, khotbah, dan kata mutiara, kemudian mencetaknya dan mendistribusikannya kepada para murid-muridnya dengan harga yang tinggi, dengan tujuan agar berangkas uangnya terisi dirham dan dinar.

Dan beberapa dari mereka mengklaim pernah bermimpi bertemu Nabi, dia mengaku bahwa Nabi mendekati, menyapa dan memerintahkannya untuk melakukan hal ini dan melarangnya dari hal itu. Juga ada yang mengaku melihat nabi saat dalam keadaan terjaga. Hal semacam ini sangat-sangat langka sekali, apalagi di zaman ini. Meskipun saya sendiri (Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari) tidak mengingkari akan terjadinya hal tersebut pada beberapa ulama sholihin, yang dipelihara Allah lahiriah dan batiniah mereka.

Dan di antara mereka adalah orang yang menjadikan tasbeh besar dan panjang, dan menggantungkannya di leher mereka serta menabuh rebana di pasar. Mereka juga memerintahkan pada murid-muridnya untuk melakukan hal semacam itu, dan meminta murid-muridnya untuk meminta-minta pada orang lain.

Mereka membuat hal semacam ini sebagi ladang pekerjaan, serta mengumpulkan pria dan wanita (ikhtilath) dan mengatakan, “bahwa mereka semua bersaudara“. Ada juga dari golongan ini yang mengatakan kepada murid-muridnya, “Harta ini adalah harta Allah dan kami adalah hamba-hamba Allah, maka tidak ada perbedaan antara kami dan pemilik harta itu, Kita boleh menikmati hartanya bersama mereka”.

Ini adalah kerusakan dan pelanggaran terhadap syariat yang murni, dan itu adalah fitnah yang besar. Ada berita yang mengejutkan dan aneh bahwa sebagian besar syaikh yang pernah memberikan baiat kepada murid-muridnya, kabarnya mereka sekarang tidak sempurna dalam melakukan wudhu, shalat atau kewajiban dan hal sunah lainya. Olehnya orang yang tidak bisa dipercaya dalam adab syariat maka dia jauh dan tidak bisa dipercaya dalam hal rahasia/sir atau hal gaib.

Inilah yang disebutkan dalam hadis:
“Ada yang lebih aku takutkan pada kalian dari pada Dajjal”. Mereka bertanya, siapa dia? Dijawab: “Para pemimpin yang menyesatkan. Mereka diangkat menjadi pemimpin oleh Allah menjelang hari kiamat. Mereka ditanya tentang hakikat dan syariat, maka mereka berfatwa tanpa dasar ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan”.

Saya serukan pada kalian semua, wahai saudaraku! ikutilah petunjuk Nabimu, cukuplah kalian berpegang pada Kitab Allah dan Sunah Nabi, selaku pemimpin keturunan Adnan, sebagaimana dijelaskan oleh ulama salafus saleh dan ulama yang konsisten mengamalkan ilmunya. Diantaranya seperti yang dijelaskan oleh sayid Abdullah bin Thohir dalam kitab Sullam Taufiq, maupun oleh Hujjatul Islam Al Ghazali dalam Kitab Bidayatul Hidayah. Berpeganglah kalian pada kedua kitab itu atau yang sejenis. Sebab kedua kitab tersebut, bila kalian mengamalkannya, akan mengantarkan kalian untuk berjumpa Allah, dan kenikmatan yang kekal di dekat Tuhan semesta alam)

Hadratussyaikh dalam masalah Thoriqoh ini sangat ketat sekali, ada beberapa tulisan Hadratussyaikh yang menyinggung tentang hal tersebut:

  1. Bab terakhir dalam kitab “Jamiatul Maqosid” disana dijelaskan mengenai pokok ajaran tasawuf.
  2. Kitab Durorul Muntasiroh, kitab ini berbentuk tanya jawab yang menghimpun 19 pertanyaan terkait dengan taswuf dan thoriqoh. Seperti siapa itu wali? dan apa saja syaratnya.
  3. Tamyizul Haq min al-Bathil, kitab ini berisi tenggapan atas ajaran salah satu thoriqoh di Kediri.
  4. Risalah fi Tasawuf, tulisan ini hanya berjumlah satu lembar saja. Namun sangat penting untuk diketahui.