المكتبة للمعهد العالي هاشم أشعري

Tag: dermawan

Kedermawanan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari (2)

Oleh: Ilham Zihaq

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari memiliki jiwa Ketulusan dan keikhlasan yang tidak dapat diragukan lagi. Tulisan ini akan mengurai kedermawanan dan keikhlasan Hadratussyaikh sebagai panutan kita bersama. Dengan semangat berkorban dan pengabdian, Hadratussyaikh sejak mendirikan pesantren Tebuireng, beliau mengembangkan dan mengelola Pesantren Tebuireng dengan harta pribadinya. Jadi, Hadratussyaikh lebih banyak memberi daripada mengambil keuntungan material dari lembaga pendidikan yang diasuhnya. Beliau ikhlas lillahi ta’ala, tanpa mengharap upah di dunia. Beliau hanya mengharap upah atau balasan dari Allah Swt.  Sebagaimana pendirian yang dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul, firman Allah swt.

وَمَا أَسْلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِى إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Kenyataan keikhlasan dalam berkorban kiai disaksikan oleh Akarhanaf dalam tulisannya, bahwa Hadratussyaikh sering mengeluarkan harta pribadinya untuk kepentingan umat dan rakyat. Jika ada rombongan dari Masyumi, Hizbullah, DMPII, GPII, dan lain-lainnya datang sowan ke Tebuireng, Hadratussyaikh selalu menyambutnya dengan hangat, serta memberinya uang untuk bekal dalam pertempuran untuk menghadapi musuh dan untuk kepentingan umat yang lain.

Dalam tulisan lainnya, Akarhanaf menceritakan konon sewaktu ketika istri Hadratussyaikh yang ke-7 masih hidup, setiap harinya disediakan nasi beserta lauk-pauknya, untuk persedian menghormati tamu yang datang di Pesantren Tebuireng, paling sedikit cukup guna menjamu 50 orang tamu dalam tiap harinya.

Keterangan lain dari Kiai Shobari Mbogem, saat pengajian Sahih Bukhari dan Muslim pada bulan Ramadhan di Pesantren Tebuireng kira-kira mencapai jumlah 3000 santri dari seluruh penjuru tanah air. Dan jaminan makan untuk mereka semua telah ditanggung oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Subhanallah.

Oleh karenanya, Hadratussyaikh itu orang yang sangat berkecukupan atau kaya raya; kaya perbekalan dunia dan lebih kaya perbekalan akhirat, kaya pengaruh dan kaya pula pengikut. Hadratussyaikh merupakan sosok yang Shaleh spiritual sekaligus sosial. Dan tentu Allah lebih suka menyukai orang yang saleh secara sosial daripada ahli ibadah yang bersifat ritual.

Dalam hadis yang dinukil oleh Imam Qusyairi dalam kitabnya,

عن عائشة رضي الله عنهما قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم السخيّ قريب من الله تعالى، قريب من الناس، قريب من الجنة، بعيد عن النار. والبخيل بعيد من الله تعالى، بعيد من الناس، بعيد من الجنة، قريب من النار. والجاهل السخيّ أحب إلى الله تعالى من العابد البخيل.

Dari Aisyah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Sebaliknya, orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang dermawan lebih disukai oleh Allah daripada ahli ibadah yang kikir,”.

اللهم اجعلنا من الاغنياء الأسخياء
Sumber:
Heru Sukadri, Kiai Haji Hasyim Asy’ari Riwayat Hidup dan Pengabdiannya, (Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1985).

Akarhanaf, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari Bapak Umat Islam Indonesia, (Jombang: Pustaka Tebuireng, 2018),

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sosok yang dermawan

Penulis: Ilham Zihaq

Pada saat panen ketéla, jagung atau lainnya, oleh hadratussyaikh hasil panen tersebut di taruh di depan ndalem kesepuhan, dan dibagikan kepada seluruh santri Tebuireng. Hingga semua santri Tebuireng telah mengambilnya, baru Hadratussyaikh Hasyim memasukkan panennya tersebut ke ndalem untuk dikonsumsi oleh keluarga. Cerita ini didapat dari KH. Kholid Aly, menantu KH. Syansuri Badawi.

Kedermawanan KH. Hasyim Asy’ari juga diceritakan oleh KH. Mahfudz Anwar yang ditulis dalam Majalah Tebuireng. Bahwa KH. Mahfudz Anwar Seblak ditugaskan oleh Hadratussyaikh untuk mendata seluruh santri Tebuireng. Dan dengan dasar data itu, Hadratussyaikh menyediakan bungkusan ketan serta minumannya, dibagikan ke kamar-kamar setiap menjelang maghrib untuk sebagai ta’jil buka puasa. Itu dilakukan se-bulan penuh dan setiap bulan Ramadhan.

Perhatian khusus Hadratussyaikh itu membuat hubungannya tidak saja sebagai Kyai dan santri, tetepi lebih dari itu sehingga menimbulkan rasa rela dalam artian yang sebenarnya. Santri merasa bahwa Hadratussyaikh itu lebih dari orang tuanya sendiri.

Ini adalah tindakan nyata dari Hadratussyaikh, dari pengalaman hadis ini;

حدثنا مُحَمَّدٍ الْوَرَّاقُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنْ النَّارِ وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنْ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنْ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنْ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنْ النَّارِ وَلَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَالِمٍ بَخِيلٍ. أخرج الترمذي

“Orang dermawan itu dekat dgn Allah, dekat dgn surga, dekat dgn manusia, & jauh dari neraka. Sedangkan orang yg bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari menusia, & dekat dgn neraka. Sesungguhnya orang bodoh yg dermawan lebih Allah cintai dari pada seorang ‘alim yg bakhil” HR. Tirmidzi

Semoga kita semua bisa meniru jejak langkah pendiri NU dan Pesantren Tebuireng.