المكتبة للمعهد العالي هاشم أشعري

Tag: Hasyim Asy’ari (Page 1 of 2)

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari Ahli Fikih (Faqih)?

Penulis: Ilham Zihaq

Judul yang agak aneh, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari adalah Ahli fiqih (Faqih). Tentu ini asing di telinga kita, seringnya kita dengar beliau adalah seorang ahli Hadis (Muhaddist) ternama dan tersohor. Buktinya, setiap bulan Hadratussyaikh selalu membaca kitab Kitab Bukhari dan Muslim, serta terkadang diselingi dengan membaca kitab-kitab kutub sittah yang lain. Bahkan yang menakjubkan, guru yang dihormatinya ikut dalam pengajian tersebut. Hal ini menandakan kealiman dan kepakaran beliau tentang Hadist.

Ada juga yang mengatakan bahwa Hadratussyaikh Hapal Kutubus sittah. Pengakuan Ulama Internasional tentang kepakaran dan keahliannya terhadap hadis, pernah diutarakan oleh Syaikh Yasin Al Fadani dalam kitabnya, yang berjudul:

أربعون حديثا من اربعين شيخا من أربعين بلدا

Di dalam kitab itu disebutkan bahwa Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari seorang Al Muhaddist.

Namun tidak bisa dipungkiri, bahwa Hadratussyaikh juga Ahli Fiqh (Faqih). Terbukti mayoritas karya tulisnya bertemakan fiqh, sebut saja diantaranya kitab Jami’atul Al-Maqosid, At-Tanbihat Al-Wajibat, Dou’ul Al-Misbah, Ziyadut At-Ta’liqot, Al-Jasus, Al-Manasik As-Shugro dan lain sebagainya. Kitab-kitab tersebut berhubungan dengan syareat atau fiqh.

Hadratussyaikh juga memiliki fatwa yang fenomenal, yaitu Fatwa Resolusi Jihad. Fatwa tersebut mewajibkan jihad melawan penjajah dengan meng-extrax fiqh Masafatul Al-Qosr dalam bab Ibadah menuju fiqh Jihad. Menurut Kiai Musta’in, ini adalah fatwa terbaru yang belum pernah di temukan pada zaman sebelumnya.

Selain itu nama Hadratussyaikh masuk dalam kitab biografi Ulama Fiqh Syafi’iyah yang berjudul:

مفاتيح اﻷسمار في تراجم الشافعية اﻷقمار

Kitab itu ditulis oleh Syeikh Abdunnashir al-Malibari. Menurut Kiai Asep Jaelani, kemungkinan besar kitab itu adalah kitab thobaqot syafi’iyah pertama dalam bentuk nazhom. Penulis kitab tersebut, menyebutkan lebih dari 1000 ulama Syafi’iyah hingga tahun 1400 hijriyah. Sedangkan jumlah bait yang terkandung dalam kitab tersebut berjumlah lebih dari 2000 bait. Setiap satu tokoh madzhab Syafi’i terdokumentasikan dalam dua bait. Hebatnya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari satu dari seribu ulama Fiqh Madzhab Syafi’i yang tercantum dalam kitab tersebut.

Ini adalah dua bait untuk Hadratussyaikh yang di sebutkan dalam kitab tersebut:

محمدٌ هاشمٌ اشعريُّ * يُنْمَى لِجُمْبَانَ الفَتَى الجَرِيُّ
على إباءِ حربِ يَابانَ جَسَرْ * وحَطَّ مجدَهُ الزمانُ وَقَسَرْ

“Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, beliau tumbuh di Jombang menjadi seorang pemuda yang berani. Dan dia tokoh sentral penolakan terhadap penjajahan Jepang, berdiri dengan tegas dan berani, berakibat pada derajat keagungan jepang dan kekuatannya runtuh seiring berjalannya zaman”.

Dari itu, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari bukan hanya Muhaddist saja, tetapi juga Faqih Syafii.

Jaringan Tebuireng-Senori

Penulis: Ilham Zihaq

Siapa yang tidak kenal dengan Kiai Ahmad Abul Fadol Senori? Kiai yang tidak pernah belajar di Arab, namun memiliki puluhan kitab berbahasa Arab. Kiai yang tidak memiliki pesantren, namun memiliki santri-santri yang menjadi ulama’ besar. Kiai yang tidak bersorban, namun keilmuannya tidak diragukan lagi dan diakui oleh para ulama.

Kiai yang dilahirkan di Sedan Rembang ini, memulai belajar ilmu agama di bawah bimbingan ayahnya sendiri, Kiai Syakur. Semenjak wafat ayahnya tahun 1940, Kiai Fadol melanjutkan belajar kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng, hingga penyergapan Kiai Hasyim oleh penjajah Jepang, tahun 1942. Saat di Tebuireng, Kiai Fadol setiap harinya hanya memakan beberapa potong singkong sebagai bentuk riyadhoh dalam mencari ilmu.

Kiai Fadol sangat mencintai Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Maka semua harta warisan dari ayahnya, beliau berikan kepada gurunya tercinta, sebagai bentuk kecintaan terhadap ulama sebagai pewaris ilmunya para Nabi. Mungkin sebab inilah, hati Kiai Fadol ter-futuh dan mudah mendapat, menghapal, dan memahami ilmu saat mondok di Tebuireng. Tak heran, walaupun mondok di Tebuireng hanya sebentar, namun keilmuannya sangat berbobot dan matang.

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari menaruh simpatik besar terhadap santri asal Rembang ini, di usianya yang masih belia, dia sudah hafal Al-Qur’an dan berbagai macam nadzom. Serta didukung kemampuannya dalam memahami kitab-kitab turast yang hebat. Oleh karenanya, Hadratussyaikh menaruh harapan besar kelak menjadi ulama besar yang menghidupkan syiar agama di pesisir utara.

Sebagai pewaris keilmuan murid Syaikh Mahfudz, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pernah memberikan dan meng-ijazahkan semua riwayat sanad-sanad kitabnya kepada Kiai Fadol. Hal ini semata-mata bentuk kasih sayang guru, kecintaan guru, serta harapan guru agar meneruskan dakwah ta’lim watta’allum.

Ijazah semua sanad kitab ini, Kiai Fadol dapatkan setelah diroyah ilmunya matang, baru beliau mendapatkan riwayat ijazah sanad ilmu. Memang sebelum ke Tebuireng, Kiai Fadol sudah alim. Tak heran, jika Kiai Fadol pernah mengatakan, “Di Tebuireng, belajar sanad”. Hadratussyaikh memandang diroyah-nya sudah dapat, tinggal disempurnakan dengan riwayat-nya. Setiap harinya Kiai Fadol sorogan dan musyafahah langsung dengan Hadratussyaikh, setiap harinya beliau menulis sanad yang diijazahkan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Maka tak heran, jika Kiai Fadol terkenal sebagai santri “Jami’ Sanad” (pengumpul sanad).

Ijazah kitab plus sanadnya dari Hadratussyaikh ini, Kiai Fadol kumpulkan dalam satu buku. Dalamnya memuat sanad dari macam-macam kitab, baik fan tafsir, hadis, fikih, usul fiqh, nahwu, hingga talqin dzikir.

Beliau memiliki prinsip, kitab yang diajarkan kepada santri-santrinya harus kitab yang beliau miliki sanadnya hingga muallifnya. Beliau tidak mau mengajar kitab yang tidak memiliki sanadnya, seperti Mauidzotul Mu’minin, Idhotun Nasyiin, hingga kitab Nadzom Imrithi. Beliau tidak mengajarkannya. Ini bentuk Kehati-hatian nya dalam mengajarkan kitab. Malahan, karena tidak mengajarkan Imrithi, beliau sendiri mengarang nadzoman nahwu yang jumlah baitnya setara dengan Imrithi.

Fungsi Sanad menurut Kiai Fadol yang disampaikan putranya, Kiai Mafakhir,

“Sanad ibarat rantai, dimana dengannya kita dapat tersambung dengan para ulama-ulama mulia sebelum kita. Sehingga dengan itu, kita berharap nama kita ikut tercatut dan tersyaafaati oleh ulama-ulama yang thabaqatnya di atas kita”.

Penulis merupakan alumni hadis angkatan ke-2

Kedermawanan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari (2)

Oleh: Ilham Zihaq

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari memiliki jiwa Ketulusan dan keikhlasan yang tidak dapat diragukan lagi. Tulisan ini akan mengurai kedermawanan dan keikhlasan Hadratussyaikh sebagai panutan kita bersama. Dengan semangat berkorban dan pengabdian, Hadratussyaikh sejak mendirikan pesantren Tebuireng, beliau mengembangkan dan mengelola Pesantren Tebuireng dengan harta pribadinya. Jadi, Hadratussyaikh lebih banyak memberi daripada mengambil keuntungan material dari lembaga pendidikan yang diasuhnya. Beliau ikhlas lillahi ta’ala, tanpa mengharap upah di dunia. Beliau hanya mengharap upah atau balasan dari Allah Swt.  Sebagaimana pendirian yang dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul, firman Allah swt.

وَمَا أَسْلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِى إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Kenyataan keikhlasan dalam berkorban kiai disaksikan oleh Akarhanaf dalam tulisannya, bahwa Hadratussyaikh sering mengeluarkan harta pribadinya untuk kepentingan umat dan rakyat. Jika ada rombongan dari Masyumi, Hizbullah, DMPII, GPII, dan lain-lainnya datang sowan ke Tebuireng, Hadratussyaikh selalu menyambutnya dengan hangat, serta memberinya uang untuk bekal dalam pertempuran untuk menghadapi musuh dan untuk kepentingan umat yang lain.

Dalam tulisan lainnya, Akarhanaf menceritakan konon sewaktu ketika istri Hadratussyaikh yang ke-7 masih hidup, setiap harinya disediakan nasi beserta lauk-pauknya, untuk persedian menghormati tamu yang datang di Pesantren Tebuireng, paling sedikit cukup guna menjamu 50 orang tamu dalam tiap harinya.

Keterangan lain dari Kiai Shobari Mbogem, saat pengajian Sahih Bukhari dan Muslim pada bulan Ramadhan di Pesantren Tebuireng kira-kira mencapai jumlah 3000 santri dari seluruh penjuru tanah air. Dan jaminan makan untuk mereka semua telah ditanggung oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Subhanallah.

Oleh karenanya, Hadratussyaikh itu orang yang sangat berkecukupan atau kaya raya; kaya perbekalan dunia dan lebih kaya perbekalan akhirat, kaya pengaruh dan kaya pula pengikut. Hadratussyaikh merupakan sosok yang Shaleh spiritual sekaligus sosial. Dan tentu Allah lebih suka menyukai orang yang saleh secara sosial daripada ahli ibadah yang bersifat ritual.

Dalam hadis yang dinukil oleh Imam Qusyairi dalam kitabnya,

عن عائشة رضي الله عنهما قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم السخيّ قريب من الله تعالى، قريب من الناس، قريب من الجنة، بعيد عن النار. والبخيل بعيد من الله تعالى، بعيد من الناس، بعيد من الجنة، قريب من النار. والجاهل السخيّ أحب إلى الله تعالى من العابد البخيل.

Dari Aisyah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Sebaliknya, orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang dermawan lebih disukai oleh Allah daripada ahli ibadah yang kikir,”.

اللهم اجعلنا من الاغنياء الأسخياء
Sumber:
Heru Sukadri, Kiai Haji Hasyim Asy’ari Riwayat Hidup dan Pengabdiannya, (Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1985).

Akarhanaf, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari Bapak Umat Islam Indonesia, (Jombang: Pustaka Tebuireng, 2018),

Sikap KH. M. Hasyim Asy’ari Terhadap Hadis Maudu’

Penulis: Ilham Zihaq

Setiap perkataan bisa ditolak kecuali sabdanya Nabi Muhammad. Sehingga banyak golongan tertentu untuk memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Seperti beberapa Hadist yang di buat oleh golongan Syiah. Hadis-hadis yang dibuat oleh para penguasa, dsb. Hadis seperti ini di namakan Hadist Maudu’.

Hadits Maudu’ adalah; Hadist yang di buat oleh pemalsu, yang di nisbatkan kepada Nabi Muhammad. Ulama sepakat haram hukumnya membuat hadis Maudu’ dan termasuk dosa besar. Karena ada riwayat dari nabi,

من كذب علي متعمدا فليتبواء مقعده من النار

Barang siapa yang berbohong atas nama saya (nabi Muhammad), maka tempatilah tempatnya di api neraka”

Ini adalah ancaman nabi Muhammad bagi orang yang berani membuat hadis palsu dan dinisbatkan kepada Nabi. Dan juga haram untuk meriwayatkan hadis Maudu kepada orang lain. Kecuali jika bertujuan menjelaskan tentang kepalsuam hadis ini. Walaupun yang di riwayatkan itu Hadist yang berkaitan dengan Halal & Haram, Fadoilul A’amal, Targib, Tarhib dan lain sebagainya.

Dan orang yang meriwayatkan Hadist Maudu’ tanpa di sertai keterangan, maka dia berdosa dan termasuk orang yang berbohong atas nama Nabi. Sebab Ada riwayat dari Imam Muslim, “bahwasanya orang yang meriwayatkan hadis Maudu’, dia termasuk orang-orang yang berbohong.

KH. Musta’in Syafi’i pernah menyampaikan bahwa Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sangat mewanti wanti terkait Hadist Maudu’ ini. Karena ancamannya yang sangat pedih dari Nabi. Dari itu, beliau melarang di pesantren Tebuireng mengadakan pengajian kitab-kitab yang di duga kebanyakan berisi Hadist-Hadist Maudu’. Seperti kitab Tanbihul Ghofilin, Durrotun Nasihin dll. Beliau tidak melarang 100% mengajarkan kitab-kitab tersebut, boleh diajarkan dengan syarat, sang Qori/pengajar bisa menjelaskan kualitas Hadist dalam kitab-kitab tersebut.

Khawatirnya jika tidak dijelaskan tentang kualitas hadis-hadisnya, banyak dari orang awam yang berpegangan dengan hadist palsu tersebut. Dan ini sangat membahayakan, sebab Hadist palsu tidak bisa di gunakan untuk Hujjah dalam hal apapun. Dari itu Hadratussyaikh melarang bagi Qori’ yang belum menguasai tentang Ilmu Hadist untuk mengajarkan kitab – kitab yang diduga berisi banyak Hadist-Hadist palsu atau Maudu’.

Perlu di perhatikan bahwa Hadratussyaikh tidak menafikan atau memusuhi kitab-kitab tersebut, tetapi hanya untuk berhati hati dalam mengamalkan hadis yang terkandung di dalamnya. Di takutkan bisa terjerumus dosa berbohong atas nama Nabi.

Guru penulis, Prof. Jamaluddin Miri pernah menyampaikan bahwa saat KH Abdurrahmsn Wahid (Gus Dur) masih menjabat menjadi ketum PBNU, beliau menginstruksikan kepada seluruh Kyai pesantren NU, untuk berhati hati dalam dalam menyampaikan hadis yang didapat dari kitab yang diduga kebanyakan hadisnya Maudhu’.

Hadratussyaikh pernah menulis artikel terkait landasan sebagian masyarakat awam dengan menggunakan hujjah hadis maudu’. Yaitu tentang hadis Sholat Hadiah yang dilakukan oleh keluarga ahli kubur agar siksanya diringankan. Hadits itu berbunyi, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bahwasanya tidak ada sesuatu kejadian yang menimpa mayyit yang lebih berat daripada malam pertama saat dia dikubur, maka kasihilah orang-orang yang telah meninggalkan kalian dengan cara bersedekah untuknya. Barangsiapa yang tidak menemukan barang yang bisa ia sedekahkan maka kerjakanlah sholat 2 rakaat dan disetiap rakaat membaca surat al-Fatihah, ayat kursi, al-Takatsur, dan al-Ikhlas 11 kali….. maka seketika itu Allah langsung mengirimkan 1000 malaikat, setiap malaikat membawa hadiah berupa cahaya yang dapat menenangkan dia dalam kuburnya sampai ditiupnya sangkakala, dan selama matahari masih terbit Allah akan memberi pahala kepada orang yang mengerjakan sholat itu seperti pahalanya 1000 orang mati syahid dan 1000 pakaian”’.

Hadratussyaikh mengomentari hadis tersebut, (Adapun hadits yang disebutkan dalam kitab Hasyiah al-Sittin itu merupakan hadits maudu’. Keterangan diambil dari kitab al-Qistholani ‘ala Al-Bukhari, [ Hadits Mukhtalaq juga dinamai dengan hadits Maudhu’, maka haram meriwayatkannya walaupun telah dijelaskan status hadisnya, dan haram pula beramal dengan berdasar kepadanya secara mutlak”. Sampai pada keterangan….. Bagi setiap orang tidak boleh berdalil dengan riwayat  yang shahih dari sabda Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam: sholat itu adalah sebaik-baiknya hal yang dikerjakan, barangsiapa yang ingin menambah maka perbanyaklah, dan barangsiapa yang ingin mengurangi maka kurangilah” Tidak boleh berdalil dengan hadits ini karena yang dimaksud dengan hadist ini yaitu hanya sholat-sholat yang telah dilegalkan oleh 
syariat.]

Maka sekiranya kesunnahan sholat Hadiah ini tidak bisa dihukumi dengan hadits  maudhu’, maka sholat rebo wekasan juga tidak bisa dihukumi hanya dengan perkataan atau penjelasan ulama yang ahli makrifat, bisa jadi nanti naik kepada hukum haram karena telah berani melakukan ibadah yang sifatnya rusak.

Kehati-hatian Hadratussyaikh mencerminkan bahwa beliau sangat menguasai tentang Hadist yang diperoleh ilmunya dari Syaikh Mahfudz Termas.
والله أعلم بالصواب

Alfaqir M. Ilham Zidal Haq

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan Sang Istri.

Penulis : Ilham Zihaq

Menurut data yang ditulis oleh Gus Ishom, Kiai Hasyim pernah menikah hingga 7 kali. Yang namanya terlacak hanya 5 orang saja. Namun yang mempunyai keturunan untuk meneruskan perjuangan Kiai hasyim hanya dari dua isteri. Nyai Nafiqoh dari Sewulan, dan Nyai Masruroh dari Kapurejo. Kiai Hasyim Asy’ari sangat mencintai dan menghormati istri-istrinya. Beliau sangat menjaga hak dan kewajibannya sebagai suami terhadap sang istri, serta ber-muasyaroh dengan makruf. Tercatat, beliau tidak pernah mufaroqoh dengan istrinya. Ini menunjukan bahwa beliau sebagai kepala keluarga sangat menjaga kelangsungan nikah yang merupakan mitsaqon gholidzon (Ikatan suci).

Kiai Hasyim juga mengarang kitab yang membahas tentang nikah, berjudul “Dhoul Misbah fi Ahkam Nikah”. Kitab ini berisi tiga pembahasan, Bagian pertama menjelaskan tentang hukum-hukum pernikahan. Bagian kedua, kiai Hasyim menjelaskan perihal rukun-rukun nikah sebagaimana yang ada di dalam literatur fikih klasik lainnya. Sedangkan bagian ketiga menjelaskan tentang hak-hak istri yang wajib dipenuhi oleh suami dan begitu pula sebaliknya.

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, sebagai pendiri dan pengasuh Pesantren Tebuireng. Beliau memimpin langsung pengajaran kitab kuning di pesantren. Kitab yang dikaji pun bermacam macam, dari kitab tipis hingga yang berjilid-jilid. Namun walaupun begitu,Hadratussyaikh juga suka guyon atau humor. Mungkin agar para santri tidak jenuh dan bosan.

Kiai Kholid Ali pernah menceritakan kepada kami, beliau mendapat cerita ini saat mengaji kepada Kiai Syansuri Badawi yang merupakan santri kesayangan Hadratussyaikh. Dikisahkan disaat Hadratussyaikh mengajar kitab kuning di masjid. Beliau ketika melihat santri-santrinya yang sudah merasa bosan, jenuh, dan ngantuk ketika ngaji. Dan diantara guyonan beliau membahas mengenai perempuan (Mungkin bahas perawan atau janda😁). Disaat beliau guyonan tentang perempuan, dan ibu Nyai atau Istri Hadratussyaikh mendengar hal itu. Maka tak segan bu nyai melempar semua bakiak/terompah ke depan masjid. Ketika Hadratussyaikh mendengar lemparan bakiak, beliau langsung menghentikan guyonan tentang perempuan itu.

Ada kisah menarik yang pernah disampaikan oleh Gus Sholah saat acara Mata Najwa, (Belajar dari KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan). Suatu saat Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari duduk istirahat di kursi, tiba-tiba oleh bu Nyai Hadratussyaikh diikat dengan stagen. Dan respon Hadratussyaikh sungguh mankjubkan, beliau hanya sabar dan tidak memarahi sang istri. Setelah beberapa saat, tali dari stagen itu dilepas oleh putri tertuanya, Nyai Khoiriyah Hasyim. Ini merupakan bentuk kesabaran, ketulusan sikap, dan menghormatinya kepada perempuan.

Hujjatul Islam Imam Ghozali dalam Ihya Ulum al-Din mengatakan:
الصبر على لسان النساء مما يمتحن به الأولياء
Sabar menghadapi omongan istri termasuk ujian para wali”

Untuk Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari Alfatihah.

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sosok yang dermawan

Penulis: Ilham Zihaq

Pada saat panen ketéla, jagung atau lainnya, oleh hadratussyaikh hasil panen tersebut di taruh di depan ndalem kesepuhan, dan dibagikan kepada seluruh santri Tebuireng. Hingga semua santri Tebuireng telah mengambilnya, baru Hadratussyaikh Hasyim memasukkan panennya tersebut ke ndalem untuk dikonsumsi oleh keluarga. Cerita ini didapat dari KH. Kholid Aly, menantu KH. Syansuri Badawi.

Kedermawanan KH. Hasyim Asy’ari juga diceritakan oleh KH. Mahfudz Anwar yang ditulis dalam Majalah Tebuireng. Bahwa KH. Mahfudz Anwar Seblak ditugaskan oleh Hadratussyaikh untuk mendata seluruh santri Tebuireng. Dan dengan dasar data itu, Hadratussyaikh menyediakan bungkusan ketan serta minumannya, dibagikan ke kamar-kamar setiap menjelang maghrib untuk sebagai ta’jil buka puasa. Itu dilakukan se-bulan penuh dan setiap bulan Ramadhan.

Perhatian khusus Hadratussyaikh itu membuat hubungannya tidak saja sebagai Kyai dan santri, tetepi lebih dari itu sehingga menimbulkan rasa rela dalam artian yang sebenarnya. Santri merasa bahwa Hadratussyaikh itu lebih dari orang tuanya sendiri.

Ini adalah tindakan nyata dari Hadratussyaikh, dari pengalaman hadis ini;

حدثنا مُحَمَّدٍ الْوَرَّاقُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنْ النَّارِ وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنْ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنْ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنْ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنْ النَّارِ وَلَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَالِمٍ بَخِيلٍ. أخرج الترمذي

“Orang dermawan itu dekat dgn Allah, dekat dgn surga, dekat dgn manusia, & jauh dari neraka. Sedangkan orang yg bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari menusia, & dekat dgn neraka. Sesungguhnya orang bodoh yg dermawan lebih Allah cintai dari pada seorang ‘alim yg bakhil” HR. Tirmidzi

Semoga kita semua bisa meniru jejak langkah pendiri NU dan Pesantren Tebuireng.

 

(Khosois lan Sifat Nabi), Sifat Khusus Baginda Nabi Muhammad Menurut KH. Hasyim Asy’ari

Penulis: Ilham Zihaq

Satu tahun lalu, kami bertiga bermaksud silaturahim dan meng-ces hati dan pikiran kepada cucu Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, Gus Zaki. Sekaligus kami menghantarkan coretan-coretan pendek untukI ditashih dan saran oleh beliau. Saat pamit undur diri, tiba-tiba almarhum Gus Zaki meminta kami bertiga untuk menyalin ulang Sifat Khusus Nabi yang tercantum dalam bundel mahakarya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, bernama “Irsyad as-Sari”.

Beliau ndawuhi kami, “Ayo bareng-bareng kita amal jariyah, sampean seng nulis, aku seng nge-share. Mungkin sebab ini, kita mendapatkan syafa’at agung Kanjeng Nabi dan kita semua terhindar dari wabah, khususnya virus Korona”.

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sosok yang sangat mencintai dan meneladani Kanjeng Rasul Muhammad. Kecintaan beliau kepada sosok nabi akhir zaman bukan hanya sekedar ucapan “Saya mencintai Nabi”, melainkan lebih dari itu. Semua ahwal dan teladan Nabi Muhammad beliau lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi Hadratussyaikh seorang Muhaddis/ahli hadis, sehari-harinya bermesraan dengan kalam Rasulullah yang penuh hikmah dan kebijaksanaan.

Hadratussyaikh juga tidak egois dalam membuktikan rasa cintanya kepada Kanjeng Rasul. Beliau menularkan ilmu, pengetahuan, tata cara bagaimana menjadi pecinta hakiki Nabi Muhammad.  Beliaupun menulis beberapa karya yang berkaitan dengan jasad suci, Nabi Muhammad. Karya-karya tersebut berikut ini:

  1. Kitab “An-Nur Al-Mubin”, di dalamnya, Hadratussyaikh menjelaskan siroh perjalanan hidup Nabi Muhammad, dari masa kelahiran, Keluarga, istri-istri, putra-putra, ahlak mulianya hingga kewafatan baginda Nabi.
  2. Kitab “At-Tanbihat al-Wajibat“, kitab refleksi perayaan Maulid Nabi Muhammad. Dituturkan di dalamnya, tata cara merayakan maulid Nabi yang sesuai dengan syariat.
  3. Catatan “Khosois lan Sifat Nabi“. Terakhir ini, yang akan dibahas dalam catatan kecil ini.

Catatan “Khosois lan Sifat Nabi” ini ditulis oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pada Ahad, 8 Sya’ban 1359 H atau 15 Sep 1940 M. Catatan ini hanya berjumlah satu lembar, namun isinya sangat berbobot. Hadratussyaikh menulis di dalamnya hadis riwayat Abu Hurairah yang bertanya kepada Sayyidina Ali tentang karakteristik Nabi Muhammad.

Jika diteliti lebih lanjut, hadis ini disebutkan oleh guru pengarang kitab Fathul Mu’in yaitu Imam al-Faqih Ibnu Hajar al-Haitami (W. 974 H) dalam karya monumentalnya “an-Ni’mat al-Kubra ‘ala al-‘ Alam fi Maulidi Sayyid al-‘Anam” (Nikmat Terbesar di Alam Semesta Raya, dalam Menjelaskan Lahirnya Pemimpin Manusia, Nabi Muhammad). Tercantum pada halaman 15, Cetakan Kitabevi Turki, salah satu penerbit Aswaja di Turki.

Sifat karakteristik Nabi Muhammad yang tercantum pada hadis tersebut mencakup sifat sensualitas (Hissiyah), sifat moralitas (Khuluqiyyah), dan sifat Rohani (Ma’nawiyyah).

Salah satu hal yang dikemukakan hadis tersebut -yang dinukil Hadratussyaikh– adalah, Nabi Muhammad itu sosok yang (حلو الكلام) manis gaya bertuturnya, tidak kasar, tidak menyakiti orang lain. Baginda Rasul sosok yang (واسع الصدر) lapang dada, hatinya selalu bergembira. Kanjeng Rasul juga sosok (غافر العثرات) pemaaf kesalahan dan keluputan orang lain. Ini diantara sifat khuluqiyyah yang sepatutnya diamalkan oleh kita semua.

Adapun yang tertulis di pinggiran hadis tersebut adalah sebagian intisari syair yang termaktub dalam kitab “Maraq Al-‘Ubudiyyah” Syarah Bidayah Hidayah karya Syaikh Nawawi Banten.

Faidah syair tersebut -seperti yang dituturkan oleh Syaikh Nawawi- adalah:

هَذِه الْخَصَائِصَ فَاحْفَظْهَا تَكُنْ أٰمِنًا # مِنْ شَرِّ نَـارٍ وَسُرَّاقٍ وَمِـنْ مِحَنِ

Ini semua merupakan keistimewaan beliau, hendaknya engkau hapalkan bait tersebut, niscaya engkau mendapat perlindungan dari bahaya kebakaran, pencurian dan musibah.”

Maka, pada bagian bawah catatan ini, Hadratussyaikh menuliskan faidah catatan ini.
Barang siapa yang meletakkan (catatan ini) di rumahnya dengan tujuan mahabbah/cinta dan memuliakan Nabi Muhammad. Insya Allah terselamatkan dari bala’ dunia dan rizki dan pekerjaannya diberkahi, serta mendapat syafa’at Kanjeng Nabi Muhammad di dunia dan akhirat.”

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد صلاة أهل السموات والأرضين أجر يارب لطفك الخفي في أمري وأمر المسلمين.

al-Fatihah untuk Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan Gus Zaki.

 

Bisa didownload, di link bawah ini
https://drive.google.com/file/d/1PIRY1CFmXUpnpQ-W6SjaKH-nJNR1g6i-/view?usp=drivesdk

10 Rabiul Awal 1443 H,
Alfaqir Ilham Zihaq 

Koleksi Kitab Hadrotussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari

Penulis : Ilham Zihaq

Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, menurut Sayyid Muhammad Asad Shahab, bukan hanya sosok yang memiliki perhatian besar terhadap dunia perkembangan dakwah Islam dan perjuangan, tetapi juga sosok yang memiliki kecintaan tinggi terhadap dunia literatur dan pustaka.

Terkait perpustakaan pribadi hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, Muhammad Asad Shahab menuliskan:

تعد مكتبة الحاج محمد هاشم أشعري من أغنى المكتبات لاحتوائها على أنفس الكتب العلمية الإسلامية من مطبوعات ومخطوطات أثرية قديمة. وتضم هذه المكتبة جل الكتب المؤلفة باللغة العربية والإندونيسية والجاوية والماليزية وبعض اللغات الأجنبية الأخرى. وهي تضاهي مكتبة هيئة البحوث الإسلامية.

(Perpustakaan pribadi Haji Muhammad Hasyim As’ari terhitung sebagai salah satu perpustakaan terkaya dan terlengkap, karena menghimpun koleksi kitab-kitab ilmiyah Islam yang langka, baik itu kitab cetak atau manuskrip kuno. Perpustakaan tersebut menghimpun koleksi literatur ditulis dalam bahasa Arab, Indonesia, Jawa, dan Melayu, serta sebagian bahasa asing lainnya. Perpustakaan ini bisa dikatakan menandingi koleksi perpustakaan Dewan Kajian Islam di Jakarta)

Hal ini bisa dibuktikan dengan salah satu rujukan Kiai Hasyim Asy’ari dalam menulis kitab “Ziyadat Ta’liqot” :

1- تعريف طريقة التيقظ والانتباه لما يقع في مسائل الكفاة
Karya Syeikh Afifuddin Abdulloh bin Muhammad Basudan
2- مطلب اﻹيقاظ في الكلام على شيء من غرر اﻷلفاظ
Karya Habib Abdulloh bin Husein Balfaqih.

Menurut Ust. Asep Jaelani, kitab yang pertama belum dicetak sampai sekarang atau masih berupa manuskrip, sedangkan kitab yang kedua baru dicetak tahun 2005 di Hadromaut.

Artinya, kiai Hasyim -kemungkinan besar- pulang ke Jawa dari Mekkah membawa manuskrip kedua kitab tersebut. Luar biasa, benar apa yang dikatakan oleh Sayyid Asad Syihab bahwa Kiai Hasyim sangat gemar mengumpulkan kitab-kitab langka.

Muhammad Asad Shahab menulis:

يهتم العلامة محمد هاشم أشعري بجمع الكتب العلمية وينفق الأموال الكثيرة لاقتناء وشراء الكتب، بل قد يضطر الى دفع مبالغ باهظة للحصول على كتاب واحد أثري قديم. ولذلك فإن لديه مجموعة كبيرة من هذه الكتب

(KH. Hasyim Asy’ari memiliki perhatian yang besar untuk mengoleksi kitab-kitab ilmiah dan mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk membeli dan merawat kitab-kitab tersebut. Bahkan, beliau tak segan-segan untuk mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk bisa mendapatkan sebuah kitab kuno yang dipandang penting. Karena itulah, tidak mengherankan jika beliau memiliki koleksi kitab yang sangat besar)

Ini salah satu bukti, hadratussyaikh memiliki jaringan dengan ulama Hadromaut. Sebab, di antara gurunya adalah Sayyid Alawi bin Ahmad As-seggaf dan Sayyid Husein bin Muhammad Al-Habsyi, begitu juga Habib Ahmad bin Hasan Al-attos. Jadi tidak aneh jika Kiai Hasyim sering merujuk ke kitab-kitab ulama Hadromaut.

Tabik,
Alfaqir Ilham Zihaq

« Older posts