المكتبة للمعهد العالي هاشم أشعري

Tag: ilmu hadis

Memahami Sejarah Perkembangan Ulum al-Hadis

Penulis: Agustina Megawati

Sesuai dengan perkembangan hadis, ilmu hadis selalu mengiringinya sejak masa Rasulullah S.A.W, sekalipun belum dinyatakan sebagai ilmu secara eksplisit. Ilmu hadis muncul bersamaan dengan mulainya periwayatan hadis yang disertai dengan tingginya perhatian dan selektivitas sahabat dalam menerima riwayat yang sampai kepada mereka. Dengan cara yang sangat sederhana, ilmu hadis berkembang sedemikian rupa seiring dengan berkembangnya masalah yang dihadapi.

Pada masa Nabi SAW masih hidup di tengah-tengah sahabat, hadis tidak ada persoalan karena jika menghadapi suatu masalah atau skeptis dalam suatu masalah mereka langsung bertemu dengan beliau untuk mengecek kebenarannya atau menemui sahabat lain yang dapat dipercaya untuk mengonfirmasinya. Setelah itu, barulah mereka menerima dan mengamalkan hadis tersebut.

Pada aspek etimologi, term ilmu hadis terdiri dari dua kata yakni ilmu dan hadis.  Secara sederhana, ilmu adalah pengetahuan, dan hadis adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw. baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapan-Nya. Pada ranah terminologi, para ulama hadis banyak memberikan definisi tentang ilmu hadis. Di antaranya Ibn Hajar al-Asqalani, mendefinisikan ilmu hadis sebagai berikut :

هو معرفة القواعد التي يتوصل بها الى معرفة الراوي والمراوي

“Adalah mengetahui kaidah-kaidah yang dijadikan sambungan untuk mengetahui (keadaan) periwayat dan yang diriwayatkan”.

Atau definisi yang lebih ringkas:

القواعد المعرفة بحال الرواي والمروي

“Kaidah-kaidah yang mengetahui keadaan periwayat dan yang diriwayatkannya”.

Berdasarkan definisi di atas dapat dijelaskan bahwa ilmu hadis adalah ilmu yang membicarakan tentang keadaan atau sifat para periwayat dan yang diriwayatkan. [1]

Menurut data sejarah, faktor utama munculnya Ulum Hadis, adalah disebabkan munculnya hadis-hadis palsu, yang telah mencapai klimaksnya pada abad III H. Atas  kasus ini, maka ulama hadis menyusun berbagai kaidah dalam ilmu hadis yang secara ilmiah dapat digunakan untuk penelitian hadis.[2]

Adapun orang yang pertama menyusun kitab Ulum Hadis secara sistematis adalah Abu Muhammad al Ramahurmuzi (360 H), sesudah itu ulama-ulama yang ada di abad IV H, ikut meramaikan arena Ulum Hadis, seperti al Hakim Muhammad ibn Abdillah al-Naysaburiy, Abu Nu’aim al Asfahani, al Khatib dan segenerasinya.[3]

Lihat: 

[1] Al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi

[2] Mustafa al-Siba‟I, al-Sunnah wa Makanatuha fiy Tasyri’ al-Islami, h.101.

[3] Hasbi Ash-Shiddiqiy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadist, h. 123.

Saat Anak Menjarh Ayahnya Sendiri

Penulis: Viki Junianto

Untuk mengetahui kredibilitas seorang rawi hadis, dibutuhkan informasi tentang kepribadian rawi tersebut, baik tentang kelebihan atau kekurangannya. Demi memenuhi informasi yang dibutuhkan tersebut, para ulama pun merumuskan cabang ilmu hadis yang diistilahkan dengan jarh wa ta’dil. Dr. Ajjaj Al-Khatib dalam Ushul al-Hadits mendefinisikan ilmu jarh wa ta’dil sebagai:

هو العلم الذي يبحث في أحوال الرواة من حيث قبول روايتهم أوردها

“Ilmu yang membahas seputar para perawi dari segi diterima atau ditolaknya periwayatan.”

Dalam memberikan informasi kepribadian rawi, para ulama jarh wa ta’dil sangat objektif dalam menilai satu persatu rawi. Hitam dibilang hitam, putih dibilang putih, tidak ada yang abu-abu. Tak jarang mereka juga men-jarh perawi yang juga kerabatnya sendiri. Hal ini merupakan salah satu bentuk teladan mereka dalam menjaga amanah ilmiah agar keontetikan hadis nabi tetap terjaga.

وقد سئل علي بن المدينى عن ابيه فقال اسألوا غيرى فقالوا سألناك فأطرق ثم رفع رأسه وقال هذا هو الدين .ابي ضعيف

Saat Ali bin Madini pernah ditanya tentang kredibiltas ayahnya, beliau pun menjawab, “tanyalah kepada selain aku”. Para ulama mengulangi, “kami bertanya padamu”. Kemudian Ali bin Madini pun menundukkan wajahnya, lalu mengangkatnya seraya berkata, “ilmu ini (jarh wa ta’dil) adalah termasuk agama. Bapakku adalah orang yang lemah periwayatannya.[1]

Hal yang sama juga dilakukan oleh Su’bah bin Hajjaj. Kali ini dia men-jarh anak kandungnya sendiri yang bernama Sa’ad.

سميت ابنى سعدا فما سعد ولا فلح

Anakku aku beri nama Sa’ad, namun sayangnya dia sama sekali tidak bahagia (saida) dan beruntung (faliha).[2]

Zaid bin Abi Unaisah juga men-jarh yahya bin Abi Unaisyah yang notabene adalah adik kandunya sendiri.

قال لى زيد بن ابي انيسة: لا تحدث عن آخى يحيى بن ابي انيسة لأنه كذاب

Telah berkata kepadaku: Zaid bin abi Unaisah, “Jangan kalian meriwayatkan hadis dari adikku, Yahya bin Abi Anisah karena dia adalah seorang pembohong.[3]

Pertemanan bukanlah penghalang bagi ulama hadis untuk tetap menjaga objektifitas dalam kajian hadis. Seperti yang dilakukan Yahya bin Main misalnya, dimana dia memberanikan diri untuk men-jarh teman dekatnya sendiri.

قال ابن الجنيد قال لى يحيى بن معين : عبيد بن اسحاق العطار كذاب ،وكان صديقا لى

Yahya bin Main berkata, “Ubaid bin Ishaq adalah seorang pembohong. Sedangkan dia adalah temanku sendiri”.[4]

Lebih jauh lagi, objektifitas ulama hadis ini memberikan teladan kepada kita untuk mengatakan bahwa perkara yang salah itu salah, walaupun ternyata kesalahan itu kita temukan pada diri kita sendiri atau bahkan golongan kita sendiri. Juga mengatakan bahwa yang benar itu benar, walaupun kebenaran itu kita temukan pada orang lain atau bahkan golongan lain.

Sumber:

[1] Ibnu Hibban, Kitab al-majruhin min al-Muhadisin, hlm 15 vol 2

[2] Imam Uqaili, ad-Duafa’, hlm 18 vol 2

[3] Ibu Hatim ar-Razi, Jarh wa Ta’dil, hlm 130 vol 9.

[4] Ibnu Main, as-Sualat, hlm 471

Hadis Mu’an’an, Termasuk Muttashil atau Munqothi’ ?

Penulis: Athiyah Maziah

Secara istilah, hadis mu’an’an adalah hadis yang dalam periwayatannya menggunkan redaksi عن (dari) dengan tanpa menjelaskan bahwa ia mendengarkan langsung dari gurunya atau ia telah dikabarkan. Bentuk shigotut tahammulnya menggunakan lafadz عن.

(فلان عن فلانٍ عن فلانٍ)

Ulama’ berbeda pendapat mengenai hadis mu’an’an termasuk muttashil (bersambung sanadnya) ataukah munqothi’ (terputus sanadnya) ? karena dalam ketersambungan atau keterputusan sanad, dapat mempengaruhi derajat hukum suatu hadis.
Dalam kitab Taisir Musthalah Al-Hadis disebutkan, mengenai hal ini ulama’ berbeda pendapat :

  1. Pendapat pertama mengatakan, hadis mu’an’an termasuk munqothi’ (terputus) hingga terlihat jelas ketersambungannya.
  2. Sahih untuk diamalkan. Ulama’ Jumhur dari kalangan ahli hadis, ahli fiqh dan ushul mereka menyetujui bahwa hadis mu’an’an termasuk kategori hadis muttashil (bersambung sanadnya) dengan memenuhi beberapa syarat.

Mereka sepakat atas dua syarat dibawah ini, dan berbeda pendapat pada syarat lainnya :

  1. Al-Mu’an’in (perawi yang menyampaikan dengan shighot ‘an) bukanlah Mudallis.
  2.  Kemungkinan adanya pertemuan antara rawi mu’an’in dengan gurunya (orang yang ia riwayatkan hadisnya secara ‘an’anah)

Adapun syarat tambahan yang mereka berbeda pendapat didalamnya :

  1.  Kepastian pertemuan antara rawi mu’an’in dengan gurunya. (pendapat Imam Bukhari, Ibn al-Madini dan para Ahli Tahqiq).
  2. Lamanya persahabatan antara rawi mu’an’in dengan gurunya. (pendapat Abi al-Mudzoffar al-Sam’ani)

 Mengetahui terhadap apa yang diriwayatkan dari rawi yang ia riwayatkan secara ‘an’anah. (pendapat Abi ‘Amr al-Dani)

Contoh hadis mu’an’an (Sunan Ibnu Majah/212) adalah :

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفْضَلُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Terdeteksi dalam hadis diatas yang menjadi pelaku mu’an’an (Al-Mu’an’in) adalah; Sufyan, ‘Alqomah Ibn Martsad, dan ‘Abi ‘Abd al-Rahman al-Sulamy. Dalam penilitian takhrijnya, ketiganya mencapai pada derajat Tsiqqoh dan ketiganya bertemu dengan gurunya masing-masing, maka dalam kitab Mursyid Dzawi Al-Haja wa Al-Hajah disebutkan bahwa hadis diatas dihukumi sahih, dan adanya ketersambungan dalam sanad. Dan juga hadis diatas memiliki beberapa hadis tawabi’ yang salah satunya terdeteksi dalam kitab Sahih Bukhari. Wallahu a’lam.

Penulis merupakan mahasantri semester 5

Kapankah Sanad Mulai Dipertanyakan?

Penulis: Zumratus Jannah

Sepertinya sudah bebal ditelinga kita khususnya para penggiat hadis, bahwa sanad (urutan rantai perawi hadis) merupakan dasar yang sangat urgent dan selalu eksis dalam setiap pembahasan ilmu hadis, mulai dari apakah sanad itu bersambung atau tidak, apakah terdapat cacat dari rawi di sanad tersebut atau tidak dan lain sebagainya.

Bahkan Abdullah bin al Mubarak menyebutkan :

الإسناد من الدين، لو لا الإسناد لقال من شاء ما شاء

“Bagiku, sanad adalah bagian dari agama, seandainya tidak ada sanad maka setiap orang akan berbicara semaunya apa yang ia inginkan.”[1]

Hal ini disebabkan karena mengingat bahwa hadis merupakan suatu berita yang disampaikan oleh seseorang lalu disampaikan ulang oleh orang lain serta berlanjut pada orang lain lagi begitu seterusnya, maka seleksi ketat pada sanad hadis adalah solusi terbaik untuk menjamin keautentikannya.

Namun apakah ketentuan sanad ini memang diperketat sejak zaman para sahabat ataukah tidak? Karena seperti yang kita ketahui, para sahabat hidup sezaman dengan Rasulullah SAW, dan otomatis mereka bisa memastikan secara langsung kepada Rasullulah tentang kebenaran dari hadis yang mereka dapatkan.

Dalam muqaddimah Shahih Muslim, Ibnu Sirin mengatakan :

لم يكونوا يسألون عن الإسناد فلما وقعت الفتنة قالوا سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فلا يؤخذ حديثم

“Dahulu mereka tidak pernah menanyakan tentang sanad, namun setelah terjadinya fitnah, mereka mengatakan, ‘Sebutkanlah kepada kami perawi-perawi kalian’, maka dilihatlah riwayat ahlussunnah dan diterimalah hadis mereka, lalu dilihat riwayat ahlu bid’ah dan ditolaklah hadis merekamereka”.[2]

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa pernah ada masa dimana sanad tidak terlalu dibutuhkan, tepatnya pada masa sahabat sebelum munculnya ‘fitnah’ tersebut.

Dikarenakan Ibnu Sirin hidup antara tahun 30-110 H, maka fitnah yang dimaksud mengandung tiga kemungkinan :

  1. Pada saat dibunuhnya khalifah Utsman bin Affan pada tahun 36 H.
  2. Terbunuhnya Sayyidina Husain bersamaan dengan masuknya para tentara Yazid bin Muawiyah ke Madinah dan banyaknya kaum muslimin yang gugur pada perang Harrah (63 H).
  3. Pemberontakan al-Mukhtar bin Abi Ubaid al Tsaqafi terhadap bani Umayyah pada tahun 65 H dan berakhir sampai beliau terbunuh tahun 68 H.

Perlu diketahui bahwa Ibnu Sirin berasal dari Iraq serta beliau lahir dan meninggal disana, maka kemungkinan yang paling mendekati adalah fitnah pada masa al Mukhtar bin Abi Ubaid al Tsaqafi. Namun ada pendapat lain yang dinukil Ibnu Rajab dalam Syarah Ilal al Tirmidzi dari Ibrahim an-Nakha’i mengatakan bahwa dipertanyakannya sanad pada masa al-Mukhtar dikarenakan banyaknya fitnah terhadap Ali bin Abi Thalib. Wallahu a’lam[3]

Penulis merupakan mahasantri semester 5

 

[1] Muslim, Shahih Muslim (Beirut : Dar Ihya’ al Turats al Araby) 1/15

[2] Ibid

[3] https://majles.alukah.net/t149910/