Penulis: Zumratus Jannah

Sepertinya sudah bebal ditelinga kita khususnya para penggiat hadis, bahwa sanad (urutan rantai perawi hadis) merupakan dasar yang sangat urgent dan selalu eksis dalam setiap pembahasan ilmu hadis, mulai dari apakah sanad itu bersambung atau tidak, apakah terdapat cacat dari rawi di sanad tersebut atau tidak dan lain sebagainya.

Bahkan Abdullah bin al Mubarak menyebutkan :

الإسناد من الدين، لو لا الإسناد لقال من شاء ما شاء

“Bagiku, sanad adalah bagian dari agama, seandainya tidak ada sanad maka setiap orang akan berbicara semaunya apa yang ia inginkan.”[1]

Hal ini disebabkan karena mengingat bahwa hadis merupakan suatu berita yang disampaikan oleh seseorang lalu disampaikan ulang oleh orang lain serta berlanjut pada orang lain lagi begitu seterusnya, maka seleksi ketat pada sanad hadis adalah solusi terbaik untuk menjamin keautentikannya.

Namun apakah ketentuan sanad ini memang diperketat sejak zaman para sahabat ataukah tidak? Karena seperti yang kita ketahui, para sahabat hidup sezaman dengan Rasulullah SAW, dan otomatis mereka bisa memastikan secara langsung kepada Rasullulah tentang kebenaran dari hadis yang mereka dapatkan.

Dalam muqaddimah Shahih Muslim, Ibnu Sirin mengatakan :

لم يكونوا يسألون عن الإسناد فلما وقعت الفتنة قالوا سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فلا يؤخذ حديثم

“Dahulu mereka tidak pernah menanyakan tentang sanad, namun setelah terjadinya fitnah, mereka mengatakan, ‘Sebutkanlah kepada kami perawi-perawi kalian’, maka dilihatlah riwayat ahlussunnah dan diterimalah hadis mereka, lalu dilihat riwayat ahlu bid’ah dan ditolaklah hadis merekamereka”.[2]

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa pernah ada masa dimana sanad tidak terlalu dibutuhkan, tepatnya pada masa sahabat sebelum munculnya ‘fitnah’ tersebut.

Dikarenakan Ibnu Sirin hidup antara tahun 30-110 H, maka fitnah yang dimaksud mengandung tiga kemungkinan :

  1. Pada saat dibunuhnya khalifah Utsman bin Affan pada tahun 36 H.
  2. Terbunuhnya Sayyidina Husain bersamaan dengan masuknya para tentara Yazid bin Muawiyah ke Madinah dan banyaknya kaum muslimin yang gugur pada perang Harrah (63 H).
  3. Pemberontakan al-Mukhtar bin Abi Ubaid al Tsaqafi terhadap bani Umayyah pada tahun 65 H dan berakhir sampai beliau terbunuh tahun 68 H.

Perlu diketahui bahwa Ibnu Sirin berasal dari Iraq serta beliau lahir dan meninggal disana, maka kemungkinan yang paling mendekati adalah fitnah pada masa al Mukhtar bin Abi Ubaid al Tsaqafi. Namun ada pendapat lain yang dinukil Ibnu Rajab dalam Syarah Ilal al Tirmidzi dari Ibrahim an-Nakha’i mengatakan bahwa dipertanyakannya sanad pada masa al-Mukhtar dikarenakan banyaknya fitnah terhadap Ali bin Abi Thalib. Wallahu a’lam[3]

Penulis merupakan mahasantri semester 5

 

[1] Muslim, Shahih Muslim (Beirut : Dar Ihya’ al Turats al Araby) 1/15

[2] Ibid

[3] https://majles.alukah.net/t149910/