Penulis : Viki Junianto

Karomah merupakan suatu keistimewaan yang berada di luar nalar dan adat kebiasaan (khawariqun lil adat). Allah hanya memberikan karomah kepada orang-orang yang dekat dan patuh pada-Nya. Sebagai kaum pesantren, kita meyakini bahwa karomah bukanlah sebuah bualan. Ia adalah sebuah realitas yang benar-benar ada dan tidak diberikan kepada semua orang.

Pada tulisan yang lalu saya telah menuliskan bahwa Kiai Habib memiliki sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan para pengkaji hadis. Beliau selalu mengkaji hadis dengan bermodalkan kitab yang sama sekali tidak terdapat makna di dalamnya.

Namun, di tengah-tengah ngaji kitab Bukhari yang berjumlah kurang lebih 7000 hadis dan 4000 hadis dalam Muslim tersebut, terkadang beliau menemukan satu atau dua lafadz yang beliau lupa maknanya. Kiai Habib mempunyai cara yang unik untuk mengetahui makna tersebut. Tidak dengan membuka kamus, ketika lupa, beliau langsung memejamkan mata dan bertawasul kepada guru-guru yang telah mengajarkan kitab tersebut.

Seperti mendapat bisikan, seketika beliau langsung tahu makna lafadz yang beliau tidak ingat. Hal ini pernah beliau sampaikan sendiri di salah satu pengajian beliau. Dan bagi santri yang istikamah ngaji dengan beliau pasti pernah menjumpai kejadian unik ini.

Kejadian ‘khawariqul adat’ juga pernah dialami oleh Kiai Shobari, guru Kiai Habib. Kiai Shobari dikenal dengan sosok yang ahli dengan ilmu alat. Hal ini tergambarkan dari sosok beliau yang ketika di Tebuireng selalu mengajar Mutammimah aj-Jurumiya, Alfiyah, Uqud al-Juman dan kitab-kitab ilmu alat lainnya. Beliau juga dikenal sebagai ulama yang alim dalam ilmu hikmah. Banyak masyarakat yang datang ke kediaman beliau untuk meminta doa, wirid, atau air yang telah didoakan oleh beliau.

Namun, jarang diketahui, ternyata anak dari Singo Tiko ini juga sosok yang ahli dalam ilmu hadis. Ya tidak heran, beliau adalah santri sekaligus abdi ndalem yang notabene dekat dengan Hadratussyaikh.

Agak mirip dengan Kiai Habib, Kiai Shobari mempunyai instrumen tersendiri untuk mengkritik rawi hadis (naqd ar-rawi). Ketika ngaji hadis dan tengah menjelaskan tentang kepribadian seorang rawi, Kiai Shobari tidak hanya dapat menjelaskan tentang sifat dan kepribadian rawi tersebut, tidak berhenti pada dhabit dan adilnya rawi, tapi Kiai Shobari juga dapat mengetahui bentuk fisik rowi tersebut secara mendetail.

Berapa tingginya, rambutnya panjang atau pendek, kulitnya putih atau hitam. Kiai Shobari mengetahuinya dengan sangat detail, seakan-akan rowi tersebut sedang berdiri di hadapan beliau. Cerita ini saya dapat dari kiai saya, KH Mustamir Hannan, cucu Kiai Shobari saat pengajian Shahih Muslim.

Semoga kita dapat meneladani dua ulama kharismatik ini. Dan semoga kita selalu dapat kucuran barakah dari beliau berdua.