Penulis: Viki Junianto

Untuk mengetahui kredibilitas seorang rawi hadis, dibutuhkan informasi tentang kepribadian rawi tersebut, baik tentang kelebihan atau kekurangannya. Demi memenuhi informasi yang dibutuhkan tersebut, para ulama pun merumuskan cabang ilmu hadis yang diistilahkan dengan jarh wa ta’dil. Dr. Ajjaj Al-Khatib dalam Ushul al-Hadits mendefinisikan ilmu jarh wa ta’dil sebagai:

هو العلم الذي يبحث في أحوال الرواة من حيث قبول روايتهم أوردها

“Ilmu yang membahas seputar para perawi dari segi diterima atau ditolaknya periwayatan.”

Dalam memberikan informasi kepribadian rawi, para ulama jarh wa ta’dil sangat objektif dalam menilai satu persatu rawi. Hitam dibilang hitam, putih dibilang putih, tidak ada yang abu-abu. Tak jarang mereka juga men-jarh perawi yang juga kerabatnya sendiri. Hal ini merupakan salah satu bentuk teladan mereka dalam menjaga amanah ilmiah agar keontetikan hadis nabi tetap terjaga.

وقد سئل علي بن المدينى عن ابيه فقال اسألوا غيرى فقالوا سألناك فأطرق ثم رفع رأسه وقال هذا هو الدين .ابي ضعيف

Saat Ali bin Madini pernah ditanya tentang kredibiltas ayahnya, beliau pun menjawab, “tanyalah kepada selain aku”. Para ulama mengulangi, “kami bertanya padamu”. Kemudian Ali bin Madini pun menundukkan wajahnya, lalu mengangkatnya seraya berkata, “ilmu ini (jarh wa ta’dil) adalah termasuk agama. Bapakku adalah orang yang lemah periwayatannya.[1]

Hal yang sama juga dilakukan oleh Su’bah bin Hajjaj. Kali ini dia men-jarh anak kandungnya sendiri yang bernama Sa’ad.

سميت ابنى سعدا فما سعد ولا فلح

Anakku aku beri nama Sa’ad, namun sayangnya dia sama sekali tidak bahagia (saida) dan beruntung (faliha).[2]

Zaid bin Abi Unaisah juga men-jarh yahya bin Abi Unaisyah yang notabene adalah adik kandunya sendiri.

قال لى زيد بن ابي انيسة: لا تحدث عن آخى يحيى بن ابي انيسة لأنه كذاب

Telah berkata kepadaku: Zaid bin abi Unaisah, “Jangan kalian meriwayatkan hadis dari adikku, Yahya bin Abi Anisah karena dia adalah seorang pembohong.[3]

Pertemanan bukanlah penghalang bagi ulama hadis untuk tetap menjaga objektifitas dalam kajian hadis. Seperti yang dilakukan Yahya bin Main misalnya, dimana dia memberanikan diri untuk men-jarh teman dekatnya sendiri.

قال ابن الجنيد قال لى يحيى بن معين : عبيد بن اسحاق العطار كذاب ،وكان صديقا لى

Yahya bin Main berkata, “Ubaid bin Ishaq adalah seorang pembohong. Sedangkan dia adalah temanku sendiri”.[4]

Lebih jauh lagi, objektifitas ulama hadis ini memberikan teladan kepada kita untuk mengatakan bahwa perkara yang salah itu salah, walaupun ternyata kesalahan itu kita temukan pada diri kita sendiri atau bahkan golongan kita sendiri. Juga mengatakan bahwa yang benar itu benar, walaupun kebenaran itu kita temukan pada orang lain atau bahkan golongan lain.

Sumber:

[1] Ibnu Hibban, Kitab al-majruhin min al-Muhadisin, hlm 15 vol 2

[2] Imam Uqaili, ad-Duafa’, hlm 18 vol 2

[3] Ibu Hatim ar-Razi, Jarh wa Ta’dil, hlm 130 vol 9.

[4] Ibnu Main, as-Sualat, hlm 471