Penulis: Viki Junianto

Beriring dengan perkembangan sarana teknologi modern, dan penyebaran program komputer. Muncul banyak berbagai aplikasi takhrij hadis baik di PC ataupun android yang semakin memudahkan para peneliti untuk menakhrij hadis. Dengan pertimbangan efisiensi yang ditawarkan tersebut, sebagian besar penelitipun lebih memilih untuk menggunakan metode ini dan mulai meninggalkan metode takhrij kovensional, yaitu metode takhrij dengan merujuk kepada kitab-kitab takhrij.

Di antara aplikasi yang sering digunakan oleh para peneliti dalam mentakhrij hadis adalah: Maktabah as-Syamilah, Jawami al-Kalim, Khadim al-Kharamain, aj-Jami’ al-Kabir, dan al-Kutub at-Tis’ah atau yang lebih dikenal dengan Maushuah al-Hadis.

Dr. Abdul Aziz bin Abdullah Sayi’, dosen jurusan hadis Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud dalam kitabnya, Takhrijul Hadis, menjelaskan kelebihan dan kekurangan mentakhrij dengan aplikasi komputer.
Keuntungan yang paling menonjol:

  1. Mempersingkat waktu. Hadis yang biasanya ditakhrij menggunakan metode kovensional menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari, bahkan setelah menghabiskan waktu lama tak kunjung ditemukan, dengan aplikasi, hadis tersebut dapat ditemukan hanya dengan beberapa detik.
  2. Menghemat tenaga, karena tidak membutuhkan waktu yang lama.
  3. Dapat menemukan banyak hadis dengan tanpa bersusah payah membuka kitabnya secara langsung. Seperti kitab tarikh, jarh wa ta’dil, dan kitab ilmu-ilmu hadis.

Kelemahan paling menonjol:

  1. Terdapat banyak refrensi dari cetakan komersial yang tidak akurat dalam aplikasi tersebut.
  2. Dalam beberapa aplikasi takhrij, terdapat kesalahan dalam penginputan teks. Beberapa halaman kitab, bahkan juz kitab tersilap dan tidak tercantum dalam aplikasi. Oleh karena itu, para peneliti harus memperhatikan masalah ini saat menggunakan aplikasi takhrij, khususnya dalam aplikasi Mausuah Syamilah. Saat menggunakan aplikasi ini, dianjurkan bagi peneliti untuk tetap merujuk kepada kitab asal, baik kitab yang sudah dicetak ataupun yang masih dalam bentuk manuskrip.
  3. Setiap kesalahan ejaan dalam penulisan kata, baik dari peneliti atau programmer, akan merubah hasil pencarian. Misalnya dalam hal berikut.
  • Seperti kata (عبدالله), jika peneliti menuliskannya dengan spasi di antara dua kata (عبد الله), spasi tersebut akan berdampak besar pada hasil yang dicari.
  • Dalam kaidah imla’ lafadz (ابن) jika terletak diantara dua nama, maka huruf alifnya harus dihilangkan, seperti pada lafadz (سعيد بن سهير). Namun dalam beberapa aplikasi takhrij, mereka menerapkan kaidah imla’ yang salah, yaitu menetapkan huruf alif pada saat lafadz (ابن) berada di antara dua nama, (سعيد ابن سهير). Hal itu akan berdampak pada hasil pencarian. Jika peneliti menuliskannya tidak dengan mencantunkan alif, maka dapat dipastikan biografi dari rawi yang dicari tidak akan muncul.

Dengan mempertimbangkan kelemahan metode takhrij dengan aplikasi di atas, maka dianggap penting bagi para user aplikasi, untuk meninjau refrensi asal, baik berupa kitab yang sudah dicetak ataupun yang masih berupa manuskrip.

Merujuk kepada kitab asal dianggap penting, karena bertujuan untuk memverifikasi hasil temuan dari aplikasi tersebut dan menvalidasi informasi saat peneliti menemukan kesulitan ataupun masalah.

Dan termasuk penyebab pentingnya merujuk ke kitab asal adalah karena para programer, walaupun telah mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya, mereka tentu tidak terlepas dari yang namanya kesalahan. Terkadang para programer menginput status hadis dari hasil penelitian komentator kitab (muhaqqiq kitab) dan meletakkannya di tubuh teks kitab, tidak di catatan kaki. Sehingga seringkali para peneliti mengira bahwa hukum hadis tersebut murni pendapat pengarang kitab, bukan dari muhaqqiq kitab.