Penulis: Farhan Syahputra

Pada masa turunnya, hadis tidak langsung ditulis oleh para sahabat, berbeda dengan Al-Qur’an yang ditulis bersamaan dengan turunnya. Hal itu dikarenakan adanya larangan menulis hadis pada masa sahabat karena dikhawatirkan akan bercampur antara Al-Qur’an dan hadis. Tetapi larangan tersebut tidak bersifat mutlak. Menurut Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki dalam kitabnya Manhalul Latif, hadis larangan menulis hadis telah di-naskh oleh hadis kebolehan menulis hadis. Tetapi tentu ada perbedaan usaha dalam memperoleh hadis nabawi sesuai dengan tempat dan media yang tersedia di setiap zamannya.

Pada masa sahabat setidaknya ada 2 model usaha dalam menjaga dan memperoleh hadis nabawi.

1. Model pada masa Rasulullah SAW masih hidup.

  • Para sahabat bergantian dalam mengikuti kajian ilmiah yang diadakan oleh Baginda Nabi sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat umar dengan tetangganya dari golongan Anshor, Bani Umayyah bin Zaid

فهذا عمر بن الخطاب رضي الله عنه يقول – فيما أخرجه عنه البخاري -: كنت أنا وجارٌ لي من الأنصار في بني أمية بن زيد – وهي من عوالي المدينة – وكنا نتناوب النزول على رسول الله صلى الله عليه وسلم، ينزل يوما وأنزل يوماً، فإذا نزلت جئته   بخبر ذلك اليوم، وإذا نزل فعل مثل ذالك

Dan inilah Umar bin Khattab berkata -yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Aku dan tetanggaku dari Anshar berada di desa Banu Umayyah bin Zaid dia termasuk orang kepercayaan di Madinah, kami saling bergantian menimba ilmu dari Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, sehari aku yang menemui Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan hari lain dia yang menemui Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, Jika giliranku tiba, aku menanyakan seputar wahyu yang turun hari itu dan perkara lainnya. Dan jika giliran tetanggaku tiba, ia pun melakukan hal yang sama”.

  • Para sahabat mempraktekkan langsung apa yang mereka pelajari dari Rasulullah

أخرج البخاري عن ابن عمر – رضي الله عنهما – قال: “اتخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتماً من ذهب، فاتخذ الناس خواتيم من ذهب، ثم نبذه النبي صلى الله عليه وسلم وقال: إني لن ألبسه أبداً، فنبذ الناس خواتيمهم

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu umar RA berkata, “Rasulullah SAW memakai cincin dari emas, kemudian para sahabat lantas ikut memakai cicin emas mereka. (Setelah beberapa saat) Nabi pun melepas cincin tersebut. Lantas para sahabatnya pun ikut melepasnya”.

2. Model pada masa Rasulullah telah wafat

Para sahabat tidak langsung menyampaikan hadis-hadis yang mereka dengar kecuali setelah dikaji ulang kesahihan dan keotentikan hadisnya.

Begitulah perhatian dan usaha para sahabat dalam menjaga dan mengamalkan hadis Nabi. Mereka melakukan apa yang Nabi sampaikan secara sempurna dan juga tidak sembrono dalam menyampaikan dan mengamalkan hadis nabawi sehingga keotentikan hadis nabawi dapat terjaga hingga sekarang.

Penulis merupakan Mahasantri semester 5