المكتبة للمعهد العالي هاشم أشعري

Tag: Syamsul Maarif

Polemik Kitab Syamsul Ma’arif (Bagian 2)

Saat kita membicarakan tentang ilmu thib, tentu kita akan bersepakat bahwa rujukan utamanya adalah kitab-kitab karangan Syekh Ahmad Ali al-Buni. Beliau banyak memiliki karangan-karangan yang membahas tentang ilmu thib, namun hanya dua kitab yang selama ini populer dan menjadi rujukan utama pengkajinya di pesantren-pesantren salaf, yaitu Syamsul Ma’arif Kubra dan Manba’ Ushul Hikmah.

Belakangan ini, nama kitab Syamsul Ma’arif ramai diperbicangkan khalayak luas karena diendors oleh Gus Udin. Beragam reaksi muncul. Tak sedikit pula para ustadz yang mengatakan bahwa kitab tersebut merupakan kitab sihir dan haram dipelajari. Dalam tulisan ini saya mengajak para pembaca untuk sedikit berkenalan dengan kitab tersebut.

Syamsul Ma’arif, Sebuah Kitab yang Eksklusif

Merupakan kebiaasan para ulama, yaitu mengkaji sebuah kitab secara utuh. Membaca kata demi kata, mulai halaman pertama hingga kitab berakhir. Dengan pembacaan serta penalaran secara utuh, kita akan mendapat pemahaman yang sempurna dan terselamatkan dari kesalahpahaman dan judgement yang tidak berdasar.

Berbicara kitab Syamsul Ma’arif, pengarangnya, Syekh Ali al-Buni dalam mukaddimah kitabnya telah memberi catatan penting bagi para pelajar yang ingin mempelajari kitab tersebut.

فَحَرَامٌ عَلَى مَنْ وَقَعَ كِتَابِيْ هَذَا فِيْ يَدَيْهِ أَنْ يُبْدِيَهُ لِغَيْرِ أَهْلِهِ أَوْ يُبَوِّحَ بِهِ فِيْ غَيْرِ مَحَلِّهِ فَإِنَّهُ مَهْمَا فَعَلَ ذَلِكَ أَحْرَمَهُ اللهُ تَعَالَى مَنَافِعَهُ وَمُنِعَتْ عَنْهُ فَوَائِدُهُ وَبَرَكَتُهُ. وَلَا تَمَسُّهُ إِلَّا وَأَنْتَ طَاهِرٌ وَلاَ تُقَرِّبهُ إِلَّا إِذَا كُنْتَ ذَاكِرًا لِتَفُوْزَ مِنْهُ بِمَا تُرِيْدُ وَلاَ تُصَرِّفهْ إِلَّا فِيْمَا يَرْضَى اللهُ تَعَالَى فَإِنَّهُ كِتَابُ اْلأَوْلِيَاءِ وَالصَالِحِيْنَ وَالتَابِعِيْنَ

“Haram bagi orang yang mengamalkan kitab ini untuk mengajarkan kepada orang yang tidak layak untuk mempelajarinya atau mengamalkannya pada hal yang bukan tempatnya. Karena sebab itu, Allah akan menutup dan mencegah faidah-faidah dan keberkahannya.”

Jangan memegang kitab ini kecuali dalam keadaan suci. Dan jangan kau tela’ah kitab ini kecuali dalam keadaan mengingat Allah, agar engkau mendapatkan apa yang diharapkan. Pun, jangan sampai mengamalkan isi kitab ini kecuali untuk hal-hal yang dirdai oleh Allah. Sebab kitab ini merupakan kitab para wali, orang salih, dan para tabi’in.”

Dari catatan muallif kitab, dapat kita simpulkan bahwa kitab Syamsul Ma’arif merupakan kitab yang eksklusif, tidak diperuntukkan untuk semua orang. Secara garis besar, ada beberapa yang syarat yang harus dipenuhi untuk dapat mempelajari kitab tersebut.

  1. Orang ingin belajar kitab tersebut paham betul dengan syariat dan seorang yang disiplin akan rambu-rambu syariat. Oleh karena itu, biasanya, di pesantren-pesantren salaf, kitab ini hanya diperuntukkan bagi santri pilihan, yang minimal sudah hatam kitab Alfiyah, dalam bidang bahasanya dan hatam kitab Fathu al-Muin, dalam bidang fikihnya.
  2. Selalu ingat kepada Allah dan meyakini bahwa apapun yang terjadi di dunia ini, semuanya atas izin-Nya. Meyakini bahwa doa-doa dan wifik dalam kitab tersebut tidak akan bekerja, kecuali atas izin Allah SWT.
  3. Mengamalkan kitab ini pada hal-hal yang diridai oleh Allah dan tidak mengamalkannya untuk hal-hal yang diharamkan oleh-Nya. Mengamalkannya untuk amar ma’ruf nahi munkar dan untuk membantu sesama, bukan untuk hal-hal yang mencelakakan dan merugikan orang lain.

 

Wallahu A’lam.

Polemik Kitab Syamsul Ma’arif (Bagian 1)

Konflik yang terjadi antara Gus Syamsudin dan pesulap merah menjadi berbuntut panjang. Seorang ustad muncul, berniat menjadi penguat atas hal-hal yang telah disampaikan oleh pesulap merah kepada khalayak luas.

Namun sayangnya, di tengah pembelaanya itu, sang ustadz mengeluatkan statement yang cukup membuat kaget banyak orang. Beliau mengtakan bahwa kitab-kitab karangan Syech Ahmad Ali al-Buni: Syamsul Ma;arif, Manba; Ushulul Hikmah yang notabene merupakan kitab thihb (kitab pengobatan) dan telah umum dikaji di pesantren-pesantren salaf adalah kitab sihir dan haram dipelajari.

lantas benarkah demikian?

Klaim hukum haram dalam mempelajari ilmu thib terkesan sangat terburu-buru. Kalaupun dipaksa untuk dihukumi haram, maka bisa dikatakan bahwa hukum haram tidaklah mutlak, namun patut diperinci (tafsil).

Menurut hemat kami mempelajari ilmu thib tidaklah haram, tentu dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi.

1. Pengamal Ilmu thib haruslah orang yang paham dan ahli syariat.

ومن أقسام السحر الإستعانة بالأرواح الأرضية بواسطة الرياضة وقراءة العزائم إلى حيث يخلق الله تعالى عقب ذلك على سبيل جري العادة بعض خوارق إلى أن قال – ثم التحقيق أن يقال إن كان من يتعاطى ذلك خيرا متشرعا في كامل ما يأتي وبدر وكان من يستعين به من الارواح الخيرة وكانت عزائمه لا تخالف الشرع وليس فيما يظهر على يده من الخوارق ضرر شرعي على أحد فليس ذلك من السحر بل من الاسرار والمعونة . إه

Dalam Kitab Sab’ah Kutub Mufidah dijelaskan bahwa, jika pengamal wifiq, azimat dan doa-doa merupakan sosok yang baik serta taat dengan syariat maka ilmu itu bukanlah ilmu sihir, melainkan ilmu asrar dan maunah yang tentunya akan membawa maslahat kepada banyak orang.

Oleh karena itu di pesatren salaf, walaupun marak pengajian ilmu thib, tidak semua santri diperbolehkan untuk mengikuti pengajian. Hanya santri yang dianggap sudah layaklah yang dapat mengikuti pengajian. Tentu dengan berbagai klasifikasinya.

2. Digunakan untuk kemaslahatan

والسحر يقع به تغییر احوال كتغيير حال الشخص من الصحة للمرض وصفات وقلب حقائق كقلب الإنسان حمارا ار تمساحار فإن وقع ماذكر بأيات قرأنية أو اسماء الهية فظاهر أن ذلك ليس بكفر لأنه ليس بسحر وإن حصل بها مايحصل بالسحر لكنه يحرم إن أدى إلى عداوة أي بين الزوجين االصديقين مثلا وفرقة بينهما أو ضرر في نفس, (قوله إن أدى إلى عداوة) أنه إن أدي العطف أو محبة بين الزوجين ونحوهما فلاحرمة فيه . إه

Dijelaskan dalam Khasiah Dasuqi bahwa, status keharaman Ilmu thib bergantung pada digunakan untuk apa ilmu tersebut.

karena ilmu ini hanyalah sebuah washilah (perantara dari sebuah tujuan). Kita sering mendengar kaidah, “lil wasail hukmul maqasid” hukum sebuah perantara adalah hukum dari tujuannya”.

Jika ilmu Thib digunakan untuk hal-hal yang baik seperti memisahkan pelakor dan selingkuhannya maka tentu hukumnya mubah bahkan dianggap ibadah. Namun jika sebaliknya, jika digunakan untuk memisahkan antara keluarga yang lagi sayang-sayangnya, tentu sangat diharamkan.

Istilah kata nih, ilmu thib itu seperti pisau. Kalau dipegang penjual daging akan jadi maslahat, kalau dipegang begal, akan jadi madharat.

3. Azimat atau Doa yang digunakan berasal dari sumber yang tidak berlawanan dengan syariat.

وكل عزيمة مقروة أو مكتوبة إن كان فيه إسم لايعرف معناه فهي محرمة الكتابة والقراءة سواء في ذلك المصروع أوغيره, وإن كانت العزيمة أو الرقيا مشتملة على أسماء الله تعالى وأياته والأقسام به وبأنبيائه وملائكته جازت قراءتها على المصروع وغيره وكتابتها كذلك . إه

Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawanya mengatakan bahwa, jika azimat (mantra) diambil dari nama-nama Allah, atau qosam yang diambil dari nama-nama Nabi dan Malaikat maka boleh hukumnya untuk diamalkan.

Jika ilmu thib tidak memenuhi syarat-syarat tersebut maka tentu hukum mempelajarinya akan dihukumi haram, karena akan menyebabkan darar (resiko).