المكتبة للمعهد العالي هاشم أشعري

Tag: Tasawuf

Oknum Guru Tarekat dalam Pandangan KH. Hasyim Asy’ari

Penulis : Ilham Zihaq

Hadratussyaikh pernah menulis dalam majalah “Suara Nahdlatul Ulama” edisi 8, Sya’ban 1347/1929. Tulisan itu berjudul, Risalah at-Tanbih al-wajib Liawami al-Muslimin fi Amri  Dinihim (Peringatan bagi masyarakat awam dalam hal guru agama)

Di antara substansi isinya sebagai berikut ini:
Saya (Hadratussyaikh) memperingatkan Anda semua, saudara-saudara saya! Untuk tidak menjadi pengikut syaikh/guru yang tidak memiliki himmah kecuali untuk mengumpulkan harta benda yang fana‘. Beberapa dari mereka orang yang mengikuti thariqoh, serta dia mampu untuk mengarang dongeng, khotbah, dan kata mutiara, kemudian mencetaknya dan mendistribusikannya kepada para murid-muridnya dengan harga yang tinggi, dengan tujuan agar berangkas uangnya terisi dirham dan dinar.

Dan beberapa dari mereka mengklaim pernah bermimpi bertemu Nabi, dia mengaku bahwa Nabi mendekati, menyapa dan memerintahkannya untuk melakukan hal ini dan melarangnya dari hal itu. Juga ada yang mengaku melihat nabi saat dalam keadaan terjaga. Hal semacam ini sangat-sangat langka sekali, apalagi di zaman ini. Meskipun saya sendiri (Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari) tidak mengingkari akan terjadinya hal tersebut pada beberapa ulama sholihin, yang dipelihara Allah lahiriah dan batiniah mereka.

Dan di antara mereka adalah orang yang menjadikan tasbeh besar dan panjang, dan menggantungkannya di leher mereka serta menabuh rebana di pasar. Mereka juga memerintahkan pada murid-muridnya untuk melakukan hal semacam itu, dan meminta murid-muridnya untuk meminta-minta pada orang lain.

Mereka membuat hal semacam ini sebagi ladang pekerjaan, serta mengumpulkan pria dan wanita (ikhtilath) dan mengatakan, “bahwa mereka semua bersaudara“. Ada juga dari golongan ini yang mengatakan kepada murid-muridnya, “Harta ini adalah harta Allah dan kami adalah hamba-hamba Allah, maka tidak ada perbedaan antara kami dan pemilik harta itu, Kita boleh menikmati hartanya bersama mereka”.

Ini adalah kerusakan dan pelanggaran terhadap syariat yang murni, dan itu adalah fitnah yang besar. Ada berita yang mengejutkan dan aneh bahwa sebagian besar syaikh yang pernah memberikan baiat kepada murid-muridnya, kabarnya mereka sekarang tidak sempurna dalam melakukan wudhu, shalat atau kewajiban dan hal sunah lainya. Olehnya orang yang tidak bisa dipercaya dalam adab syariat maka dia jauh dan tidak bisa dipercaya dalam hal rahasia/sir atau hal gaib.

Inilah yang disebutkan dalam hadis:
“Ada yang lebih aku takutkan pada kalian dari pada Dajjal”. Mereka bertanya, siapa dia? Dijawab: “Para pemimpin yang menyesatkan. Mereka diangkat menjadi pemimpin oleh Allah menjelang hari kiamat. Mereka ditanya tentang hakikat dan syariat, maka mereka berfatwa tanpa dasar ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan”.

Saya serukan pada kalian semua, wahai saudaraku! ikutilah petunjuk Nabimu, cukuplah kalian berpegang pada Kitab Allah dan Sunah Nabi, selaku pemimpin keturunan Adnan, sebagaimana dijelaskan oleh ulama salafus saleh dan ulama yang konsisten mengamalkan ilmunya. Diantaranya seperti yang dijelaskan oleh sayid Abdullah bin Thohir dalam kitab Sullam Taufiq, maupun oleh Hujjatul Islam Al Ghazali dalam Kitab Bidayatul Hidayah. Berpeganglah kalian pada kedua kitab itu atau yang sejenis. Sebab kedua kitab tersebut, bila kalian mengamalkannya, akan mengantarkan kalian untuk berjumpa Allah, dan kenikmatan yang kekal di dekat Tuhan semesta alam)

Hadratussyaikh dalam masalah Thoriqoh ini sangat ketat sekali, ada beberapa tulisan Hadratussyaikh yang menyinggung tentang hal tersebut:

  1. Bab terakhir dalam kitab “Jamiatul Maqosid” disana dijelaskan mengenai pokok ajaran tasawuf.
  2. Kitab Durorul Muntasiroh, kitab ini berbentuk tanya jawab yang menghimpun 19 pertanyaan terkait dengan taswuf dan thoriqoh. Seperti siapa itu wali? dan apa saja syaratnya.
  3. Tamyizul Haq min al-Bathil, kitab ini berisi tenggapan atas ajaran salah satu thoriqoh di Kediri.
  4. Risalah fi Tasawuf, tulisan ini hanya berjumlah satu lembar saja. Namun sangat penting untuk diketahui.

Apa yang Tidak Selesai di Bumi, akan Selesai di Langit

Pada suatu saat, daerah Maghrabi atau yang sekarang lebih dikenal dengan Maroko mengalami paceklik yang berkepanjangan. Hujan sudah tidak turun bertahun-tahun lamanya. Akibatnya, banyak ternak warga mati, tumbuhan-tumbuhan gersang, dan banyak warga yang kelaparan.

Para ahli pangan diundang untuk mengatasi masalah ini. Siang malam mereka mencurahkan fikiran mereka untuk menemukan solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah yang sekarang mereka hadapi. Namun, setelah berusaha sekian lama, tak satu pun ahli pangan tersebut yang berhasil menemukan formula untuk menyelesaikan masalah ini.

Setelah para ahli pangan sudah tidak sanggup, tampillah sosok ulama sufi yang ingin membantu menyelesaikan masalah tersebut. Beliau adalah Syekh Ibrahim At-Tazi. Beliau mengintruksikan kepada para penduduk Maroko untuk berkumpul seraya membaca shalawat yang beliau karang.

Shalawat tersebut merupakan shalawat yang masyhur di kalangan Nahdliyin. Shalawat tersebut biasa kita kenal dengan sebutan Shalawat Nariyah, atau Shalawat Tafrijat.

أللّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

Artinya : “Wahai Allah, limpahkanlah rahmat dan salam yang sempurna kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Semoga terurai dengan berkahnya segala macam buhulan dilepaskan dari segala kesusahan, tunaikan segala macam hajat, dan tercapai segala macam keinginan dan husnul khotimah, di curahkan air hujan kepada orang-orang yang bersedih dengan berkah dzatnya yang mulia. Semoga rahmat dan salam yang sempurna itu juga tetap tercurah kepada para keluarga dan sahabat beliau, setiap kedipan mata dan hembusan nafas, bahkan sebanyak pengetahuan bagiMu.”

Ketika beliau ditanya, kenapa harus shalawat, tidak yang lain, kan banyak ibadah-ibadah lain?


Beliau pun kemudian menjawab, dengan mengutip satu ayat dalam Al-Quran,

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ

“Allah tidak akan menyiksa suatu kaum, sedangkan Engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka”

Syekh Ibrahim at-Tazi meneruskan penjelasannya, Allah tidak akan menyiksa kita dengan masa paceklik sekarang ini, jika Nabi Muhammad berada di antara kita. Salah satu warga pun menyela, “Tapi Nabi kan sudah wafat?” Syekh Ibrahim menjawab, “Memang Nabi Muhammad telah wafat, makanya kita bacakan shalawat agar beliau berkenan untuk hadir di tengah-tengah kita”. Ketika sampai pada lafadz,

ويُستسقى الغمام

“(Dengan Shalawat itu) orang-orang yang bersedih akan dicurahi air hujan,”

orang-orang sangat serius dalam melafalkannya.


Subhanallah, tidak memerlukan waktu yang lama, hujan pun turun, paceklik pun berakhir, perekonomian masyarakat pun membaik dengan berkah shalawat kepada Nabi saw. Ini membuktikan kepada kita bahwa, apa yang tidak selesai di bumi akan selesai di langit.

Kurikulum Langit

Pada salah satu ceramahnya, KH. Mustain Syafii, pakar tafsir Tebuireng pernah dawuh,

“Ketika kita sebagai seorang hamba tengah terkena masalah yang sangat berat. Masalah yang mustahil untuk diselesaikan dengan cara-cara bumi, kurikulum-kurikulum bumi. Ke kanan tidak bisa, ke kiri tidak bisa, ke kanan tidak bisa, maju apalagi, maka yang hanya bisa kita lakukan adalah mengangkat masalah itu ke langit. Karena apa yang tidak selesai dengan kurikulum bumi akan selesai dengan kurikulum langit”.

Beliau menamai teori ini dengan teori kurikulum langit.