المكتبة للمعهد العالي هاشم أشعري

Kategori: Artikel (Page 1 of 6)

Peringatan 1 Abad NU, ini Pesan Hadratussyaikh

Penulis: Viki Junianto

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi masyarakat terbesar yang ada di Indonesia. Organisasi yang dirintis oleh Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan beberapa ulama terkemuka tersebut akan genap mencapai usia 100 tahun jika mengacu pada kalender Hijriah yakni, 16 Rajab 1444 Hijriah yang berarti bertepatan pada tanggal 7 Februari 2023 mendatang.

Peringatan satu abad ini mengusung tema besar “Mendigdayakan Nahdlatul Ulama Menjemput Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru”. Namun ditengah-tengah maraknya pembaruan yang ada di tubuh NU, sangat penting untuk menjaga hal-hal yang prinsipil yang tak boleh hilang dan terganti. Sehingga antara al-akhdu dan al-mukhafadhah dapat berimbang dan tak timpang.

Untuk menjaga agar NU tidak sampai keluar dari pondasi yang telah dicanangkan oleh para pendahulu, maka dianggap penting untuk 𝑛𝑔𝑢𝑟𝑖-𝑛𝑔𝑢𝑟𝑖 nasihat-nasihat yang pernah diberikan oleh segenap muassis organisasi besar ini.

Hadratussyaikh KH. M Hasyim Asy’ari selaku pendiri sekaligus Rais Akbar NU pernah berpesan dalam momen pembukaan Muktamar NU ke-lima di Surabaya,

فأولا: الوفاق والوئام، لأداء افتك ولا اقتل لأمة مثل داء التفرق والتخالف. فإن أمة مهما بلغت من وفرة العدد وكثرة المدد، وإذا أصابها هذا الداء لأبدلها أن تضعف وتفشل وتضمحل فى آخر الأمر. قال تعالى: وأطيعوا الله ورسوله ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم.

ثانيا: تقوية الشعور بالمسؤولية. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته. الإمام راع ومسؤول عن رعيته. والرجل راع فى أهله ومسؤول عن رعيته. والمرأة راعية بيت زوجها ومسؤولة عن رعيتها. والخادم راع فى مال سيده ومسؤول عن رعيته. كلكم راع ومسؤول عن رعيته. رواه البخاري عن عبد الله بن عمر

وسيقف كل واحد منا بين أحكم الحاكمين ويسأل عما قدمت يداه فى هذه الدار. وأن علينا أن نؤدي هذه الأمانة على وجهها الصحيح، لا نخشى فى الله لومة لائم.

لطف الله بنا وبكم. ووفقنا وإياكم لما فيه رضاه ورضا رسوله. (هذا بالتلخيص)

Dalam pidato Hadratussyaikh tersebut setidaknya, terdapat dua pesan yang ingin beliau sampaikan.

  1. Hendaknya seluruh warga Nahdliyin selalu mengedapankan kerukunan dan persatuan. Sebab sebesar apapun organisasi akan bisa hancur dan musnah bila anggotanya selalu berpecah belah dan bercerai berai. Perpecahan adalah racun yang paling mematikan bagi sebuah organisasi.
  2. Semua warga Nahdliyin diharapkan untuk meningkatkan kesadaran akan tanggung jawab yang sedang diemban. Sebab pasti semua manusia nanti akan menghadap kepada hakimnya hakim, yaitu Allah SWT. Dan pada saat itu semua manusia akan ditanya perihal segala tanggung jawab yang telah diamanatkan kepadanya. Dan juga hendaknya warga Nahdliyin menjalankan amanat yang sudah diberikan dengan tetap melalui koridor-koridor yang telah canangkan (khittah NU).

Kalau amanat tersebut sudah dilakukan dengan semestinya, maka jangan terlalu memikirkan cacian ataupun hinaan dari orang-orang yang memang sedari awal tidak suka dengan organisasi yang penuh dengan barakah ini.

Kemudian pada penghujung pidatonya, Hadratussyaikh mendoakan segenap warga Nahdliyin,

“Semoga Allah senatiasa mengasihi serta menolong saya dan kalian untuk mendownload rida-Nya dan rida rasul-Nya”

Pembagian Khabar Ditinjau Dari Kuantitasnya

Penulis: Binti Masruroh

Seperti yang telah kita ketahui, pengertian khabar dalam ilmu hadits lebih general dari pengertian hadis. Khabar ialah sesuatu  yang disandarkan kepada Nabi saw maupun dari selain beliau, baik   berupa perkataan, perbuatan, dan ketetapannya (taqrir). Maksud dari selain beliau adalah sesuatu yang disandarkan tersebut bisa dari sahabat atau para tabiin.

Dilihat dari sisi sampainya kepada kita, khabar terbagi menjadi  khabar mutawattir dan khabar ahad. Khabar muttawatir adalah khabar yang diriwayatkan oleh banyak rawi (paling sedikit 10 perowi) dalam setiap thabaqat (tingkatan) sanadnya, yang menurut akal dan adat kebiasaan para perowi tersebut mustahil untuk bersepakat berdusta.

Sedangkan khabar ahad adalah khabar yang diriwayatkan oleh satu orang   atau khabar yang tidak terkumpul syarat-syarat khabar muttawatir. Khabar ahad menunjukkan kepada pengetahuan yang sifatnya teoritis, yaitu pengetahuan yang tegak karena adanya teori dan dalil. Khabar ahad sendiri jika ditinjau berdasarkan jumlah jalur hadits nya dibagi menjadi tiga; Hadis masyhur, Hadis ‘aziz, dan Hadis gharib.

Hadis Masyhur menurut bahasa merupakan isim maf’ul dari syahartu al-amra, yang berarti saya mengumumkan atau menampakkan suatu perkara. Disebut seperti itu karena penampakannya yang sangat jelas. Sedangkan menurut istilah hadis masyhur adalah hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi atau lebih disetiap tingkatannya, asal (jumlahnya) tidak mencapai derajat mutawatir.

Hukum hadis masyhur tidak dapat diklaim sebagai hadis yang shahih atau tidak shahih, melainkan ada yang shahih ada juga yang hasan, ada yang dhaif bahkan yang maudhu’. Kitab-kitab populer yang di dalamnya terdapat hadits yang masyhur di antaranya adalah: Al-Maqashid al-Hasanah fima ‘ala al-Alsinati  Karya as-Saknawi, Tamyizu at-Thayyib min al-Khabits fima Yaduru ‘ala Alsinati an-Nas min al-Hadits karya Ibnu ad-Daiba’ as-Syaibani, Kasyfu al-Khafa wa Muzail al-Ilbas fima isyhtahara min al-hadits ‘ala al-sinati an-nas karya al-Ajiluni.

Hadis Aziz adalah hadis yang diriwayatkan setidaknya oleh dua perowi pada tiap tingkatan sanadnya, menurut redaksi yang lain, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh dua orang perowi pada salah satu tingkatan sanadnya. Apabila hadis aziz memenuhi syarat sebagai hadis shahih, maka hadis tersebut masuk kategori hadis shahih karena hadits aziz itu belum tentu hadits shahih. Hadits aziz jika tidak memenuhi syarat-syarat hadits shahih secara sempurna maka hadits aziz tersebut bisa masuk kategori hasan bahkan dha’if.

Contoh hadits Aziz dalam  kitab shohih Bukhori :

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ : حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح وَحَدَّثَنَا آدَم، قَالَ : حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ، وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ”.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu ,dia berkata: Nabi Muhammad saw.bersabda “Tidaklah seorang di antara kalian beriman, sehingga aku menjadi orang yang paling dia cintai. Dibandingkan ayahnya, anaknya, dan seluruh umat manusia”.

Pada tingkat sahabat, hadis tersebut diriwayatkan oleh dua orang sahabat yaitu, sahabat Anas dan abu Hurairah. Lalu pada tingkat tabi’in oleh Anas diriwayatkan kepada Qatadah dan Abdul Aziz bin Shuhaib, Selanjutnya pada tingkatan tabi’ut tabiin hadits ini diriwayatkan dari Qatadah kepada dua orang perawi  yaitu Syu’bah dan Sa’id, dari Abdul aziz bin Shuhaib meriwayatkan kepada dua orang perowi juga yaitu Ismail bin ’Ulaiyah dan Abdul Warits. Lalu setelah itu, masing-masing dari para perawi itu diriwayatkan kepada banyak perawi.

Hadis Gharib adalah hadis yang diriwayatkan oleh seorang rawi sendirian. Bisa disetiap thabaqotnya dari seluruh thabaqot sanadnya, atau disebagian thabaqat sanad, bisa juga dalam satu thabaqat saja. Hadis gharib oleh para ulama juga disebut dengan alfardu keduanya memiliki arti yang sama. Tetapi sebagian ulama lainnya membedakan arti keduanya.

Ditinjau dari aspek tempat menyendirinya perawi, hadis gharib terbagi menjadi dua, yaitu: Hadis gharib mutlak (fard mutlak) dan hadis gharib nisbi (fard nisbi). Selain ditinjau dari aspek tempat menyendirinya perowi para ulama juga mengategorikan hadits gharib dari sisi gharibnya sanad dan matan, yaitu : hadis gharib matan dan sanad dan hadis gharib matan, bukan sanad.

Hadis gharib matan dan sanad adalah hadis yang matannya diriwayatkan oleh seorang rawi saja, Sedangkan definisi dari hadis gharib matan bukan sanad adalah hadis yang matannya diriwayatkan oleh sekelompok sahabat, namun diriwayatkan secara menyendiri dari sahabat lainnya. Terdapat beberapa kitab yang banyak memuat hadits gharib didalamnya, diantaranya yaitu Musnad al-Bazzar dan kitab Mu’jam al-Ausath-nya at-Thabrani.

Penulis merupakan mahasantri hadis angkatan ke-7

Penulisan dan Pembukuan Hadis pada Abad Pertama Hijriah

Penulis: Yusi Nur Laili Khabibah

Dianggap bangsa yang berberbudaya dan berperadaban apabila bangsa tersebut telah mengenal tulisan. Karena melihat dari definisi tulisan itu sendiri, yaitu peninggalan suatu masyarakat yang berbudaya. Sebagaimana bangsa Arab yang sebagian penduduknya telah mengenal tulisan, seperti Yaman yang kemudian berangsur hingga ke Mekkah.

Namun, kemampuan menulis tersebut tidak dimiliki oleh setiap individu penduduknya. Sedangkan penduduk yang yang jauh dari tulisan, mereka mengandalkan kemampuan hafalannya. Dan tidak heran jika bangsaArab menjadi bangsa yang paling kuat memorinya sepanjang sejarah.

Ketika islam datang, hanya ada tujuh belas orang yang mengenal tulisan di Makkah yang terdiri dari kaum laki-laki dan sebagian dari kaum perempuan, diantaranya adalah Umar bin Khottob, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Hafshoh binti Umar, Ummu Kultsum binti Uqbah, dan lain sebagainya. Sedangkan di Madinah, banyak dari kaum Aus dan Khazraj yang sudah mengenal tulisan yang mereka terima dari pengajaran kaum Yahudi yang lebih dulu mengenal tulisan.

Adanya agama islam sangat mendukung kemampuan tulis menulis yang memiliki peranan sangat besar dalam memelihara wahyu dan menyampaikan surat kepada raja dan penguasa di berbagai wilayah. Oleh karena itu, Nabi menugaskan beberapa sahabat dalam penulisan wahyu. Maka ketika ada ayat turun kepada Nabi, beliau langsung memanggil mereka untuk menunjukkan ayat atau surat yang harus ditulis.

Namun, berbeda dengan penulisan hadis yang didalamnya terdapat beberapa perkhilafan mengenai larangan dan pembolehan menulis dan membukukan hadis. Ada beberapa hal yang mendorong Nabi melarang para sahabat untuk menulis hadis dan membukukannya.

Pertama, khawatir Al-Quran akan tercampur dengan hadis Nabi yang menyebabkan adanya perubahan dan penggantian ayat Al-Quran. Kedua, khawatir akan berkurangnya kemampuan hafalan para sahabat apabila disandarkan pada tulisan, mengingat kemampuan mereka sangatlah tinggi dan bisa jadi hilang dengan seiring berkembangnya zaman. Ketiga, jumlah setiap individu yang memiliki kemampuan menulis masih terbatas. Sehingga jika mereka diberi tugas untuk menulis Al-quran dan hadis, maka khawatir akan tercampur. Berdasarkan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

عن أبي سعيد الخدريّ أنّ رسول الله ﷺ قال لا تكتبوا عنّي ومن كتب عنّي غير القران فليمحه

Dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Nabi S.A.W., beliau bersabda: “Janganlah kalian menulis sesuatu apapun yang berasal dariku selain Al-Quran, barang siapa yang menulis sesuatu yang berasal dariku selain Al-Quran hendaklah ia menghapusnya.” (HR. Muslim)

Di samping Nabi melarang penulisan hadis, di sisi lain beliau juga memberi izin untuk penulisannya. Adanya perizinan tersebut dengan berbagai pendapat, karena dianggap bertentangan dengan hadis adanya larangan Nabi untuk menulis hadis. Ada beberapa hal yang mendorong Nabi membolehkan hadis untuk ditulis.

Pertama, pada saat Al-Quran sudah tidak lagi diturunkan, sehingga tidak ada kekhawatiran Al-Quran tercampur dengan hadis Nabi. Kedua, diperbolehkan asalkan tidak pada satu lembaran yang sama dengan Al-Quran.

Ulama’ berbeda pendapat mengenai larangan dan pembolehan tersebut. Namun, mayoritas ulama’ memilih bahwa memang pada mulanya Nabi melarang, kemudian disusul dengan beberapa hadis yang menjelaskan bahwa Nabi memberi izin terhadap penulisan hadis, sehingga bisa dikatakan sebelum Nabi wafat, beliau sudah memberi izin penulisan hadis.

Salah satunya seperti hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Ibnu Abbas, ia berkata, “ketika sakit yang diderita Nabi semakin parah, beliau bersabda, “Bawalah kepadaku sebuah kitab, aku akan menuliskan pesan untuk kalian agar tersesat setelah sepeninggalku….” Dalam hal ini Nabi meninggalkan pesan tertulis bagi para sahabatnya, agar mereka tidak berselisih setelah beliau wafat.

Setelah Nabi wafat, hadis masih belum dibukukan sebagaimana Al-Quran karena tidak ingin hadis menjadi tandingan bagi Al-Quran yang menyebabkan adanya pencampuran dan kelalaian untuk membaca dan mempelajari Al-Quran. Begitu juga dengan Umar bin Khottob yang memiliki keinginan untuk menghimpun hadis Nabi, akan tetapi beliau khawatir al-Quran tercampur dengan hadis dan orang-orang akan melalaikannya.

Kemudian tibalah masa Umar bin Abdul Aziz yang memerintahkan agar hadis dihimpun dan dibukukan karena kondisi ummat islam sangat memungkinkan untuk dibukukan dan mampu memelihara Al-Quran agar tidak tercampur dengan hadis Nabi.

Sehingga Umar bin Abdul Aziz mengeluarkan fatwa kepada para ulama’ di wilayah islam untuk memulai pengumpulan dan pembukuan hadis disebabkan khawatir hilangnya ilmu dan wafatnya para ulama’. Dan orang yang pertama kali melakukan pembukuan hadis adalah Ibnu Syihab Az-Zuhri pada puncak seratus tahun pertama hijriah dengan perintah khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Dapat disimpulkan bahwa penulisan hadis sudah ada sejak zaman Nabi yang pada awalnya beliau melarangnya kemudian beliau membolehkannya. Namun hadis itu hanya ditulis dan disimpan oleh para sahabat, tidak dibukukan seperti halnya Al-Quran karena khawatir akan menandingi Al-Quran hingga pada masa sahabat.

Kemudian pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, barulah hadis Nabi dihimpun dan dibukukan karena khawatir hilangnya ilmu dan wafatnya para ualama’ oleh Ibnu Syihab Az-Zuhri pada ujung abad pertama hijriah.

Hal ini juga dapat menjadi bantahan bagi kaum orientalis yang meragukan keaslian hadis dengan tuduhan mereka menganggap bahwa hadis baru dibukukan pada tahun kedua hijriah, sehingga hadis Nabi yang dibukukan merupakan buatan pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Mereka berdalih bahwa pembukuan hadis dimulai sejak Imam Malik bin Anas dalam kitab Muwattha’ dan tidak ada penulisan hadis Nabi pada masa sahabat.

Penulis merupakan mahasantri semester 2

Kedudukan Sunnah dalam Agama Islam

Penulis : Indah Nur Azizah

Sunnah secara bahasa adalah jalan, baik itu jalan yang baik maupun jalan yang buruk. Sedangkan secara istilah sunnah adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. Baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, sifat, atau perjalanan hidup beliau.[1] Sunnah merupakan salah satu dari dua wahyu Ilahi yang dibawa oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw., dengan demikian sunnah adalah bagian dari wahyu Allah swt.

Selain itu, sunnah juga menjadi pilar kedua dalam sumber hukum Islam. Sebagai sumber kedua, sunnah memiliki beberapa fungsi. Fungsi tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Menguatkan apa yang telah disebutkan dalam al-Quran
  2. Menjelaskan apa yang telah disebutkan dalam al-Quran.Contohnya adalah dengan memberikan penjelasan terhadap ayat yang masih global, memberikan batasan terhadap hal-hal yang belum terbatas, memberikan kekhususan terhadap ayat yang masih umum, atau memberikan penjelasan terhadap hal-hal yang masih rumit dalam al-Quran
  3. Memberikan ketetapan hukum yang tidak disebutkan dalam al-Quran

Selain ketiga fungsi di atas, sunnah berfungsi menghapus hukumyang terdapat dalam al-Quran. Hal tersebut menurut ulama yang memperbolehkan naskh al-kitab bi al-sunnah.[2]

Demikianlah kedudukan sunnah dalam Islam dan fungsinya sebagai sumber hukum Islam yang kedua.

Lihat :

[1] Abd al-Majid al-Ghauri, al-Madhkhal ila Dirasah Ulum al-Hadis, hal. 42

[2] Abu Zahw, al-Hadis wa al-Muhadditsun, hal. 38

Bagaimana Proses Transmisi Khobar Mutawatir dan Khobar Ahad kepada kita?

Oleh : Alfiya Hanafiyah

Sebagai muslim, tentu kita sudah tak asing dengan sumber hukum kedua dalam syari’at Islam yaitu Khobar. Khobar sendiri merupakan sesuatu yang datang dari Nabi saw yang kemudian dinamakan Hadist, dan khobar yang datang dari Sahabat yang dinamakan ‘Atsar’. Tapi, tahukan kita bahwa tidak semua khobar menempati kedudukan Shahih? Oleh karena itu, perlunya kita mengetahui perbedaan khobar mutawatir dan ahad, sehingga kita bisa mengambilnya sebagai sebuah sandaran hukum (secara proporsional).

Dilihat dari aspek tersampaikannya kepada kita, khobar dapat dibagi menjadi dua :

  1. Bila suatu hadist memiliki beberapa jalan (jalur) yang jumlahnya tidak terbatas, maka itu dinamakan Mutawatir
  2. Bila suatu hadist memiliki jalan (jalur) yang terbatas, maka itu dinamakan Ahad.

Yang pertama, khobar Mutawatir. Khobar ini memiliki beberapa syarat yang cukup ketat untuk proses diterimanya, diantaranya jumlah rowi yang banyak (menurut pendapat yang terpilih, paling sedikit ada 10), jumlah bilangan rowi tersebut terdapat pada seluruh tingkatan (thobaqat) sanad, rowi mustahil bersepakat untuk berdusta, dan khobar yang datang diterima dengan panca indera.

Khobar Mutawatir juga memiliki karakter ‘al-ilmu ad-dhoruri’, artinya secara sifat manusia dipaksa untuk meyakinkannya dan membenarkannya yang kemudian melahirkan hukum diterimanya khobar mutawatir. Hal ini tidak perlu diragukan lagi pembahasan mengenai kondisi perawinya.

Secara kontekstual, khobar mutawatir terbagi menjadi 2. Mutawatir lafdzhi dan mutawatir maknawi. Mutawatir lafzhi adalah hadist yang makna dan lafadzh nya memang mutawatir, seperti contoh hadist berikut

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ جَامِعِ بْنِ شَدَّادٍ عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ لِلزُّبَيْرِ إِنِّي لَا أَسْمَعُكَ تُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا يُحَدِّثُ فُلَانٌ وَفُلَانٌ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أُفَارِقْهُ وَلَكِنْ سَمِعْتُهُ يَقُولُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ  مِنْ النَّارِ – رواه بضعة وسبعون صحابيا

Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Walid] berkata, telah menceritakan kepada kami [Syu’bah] dari [Jami’ bin Syaddad] dari [‘Amir bin ‘Abdullah bin Az Zubair] dari [Bapaknya] berkata, “Aku berkata kepada [Az Zubair], “Aku belum pernah mendengar kamu membicarakan sesuatu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana orang-orang lain membicarakannya?” Az Zubair menjawab, “Aku tidak pernah berpisah dengan beliau, aku mendengar beliau mengatakan: “Barangsiapa berdusta terhadapku maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka.” (Hadis tersebut diriwayatkan oleh lebih dari 70 sahabat).

Sedangkan mutawatir maknawi adalah maknanya yang mutawatir, namum lafadzhnya tidak mutawatir. Contohnya, hadist-hadist tentang menangkat kedua tangan ketika berdoa. Karena pada kasus ini ditemukan banyak keadaan perbedaan saat menggambarkan keadaan Rasulullah saw kala itu. Masing-masing perkara itu tidak bersifat mutawatir. Namun karena pertimbangan digabungkannya berbagai jalur hadist tersebut, maka ditetapkan sebagai mutawatir.

Sehingga, keberadaan hadist mutawatir sangat terbatas jumlahnya. Untuk mengetahui kumpulan hadist mutawatir, kita bisa membaca kitab-kitab yang telah diklasifikasikan oleh para ulama, diantaranya : Al-Azhar al-Mutanatsiroh fi al-Akhbar al-Mutawatiroh. Karya Imam Suyuthi, yang tersusun menurut bab per-bab. Kemudian ada Quthafu al-Azhar. Karya Imam Suyuthi, yang merupakan ringkasan dari kitabnya terdahulu. Dan kitab Nadhamu al-Mutanatsir min al-Hadits al-Mutawatir. Karya Muhammad bin Ja’far al-Kattani.

Berbeda dengan khobar ahad. Sebagaimana telah disinggung di awal, khobar ahad adalah hadist yang datang dengan jalur sanad yang terbatas jumlahnya. Ditinjau berdasarkan jumlah jalur hadistnya, khobar ahad dibagi menjadi tiga, yaitu hadist masyhur, hadist ‘aziz, dan hadist ghorib. Masing-masing memiliki jumlah jalur hadist yang berbeda-beda.

Imam as-Suyuthi memberi definisi hadist masyhur dalam kitab Tadrib ar-Rawi bahwa hadist masyhur adalah hadist yang diriwayatkan 3 orang atau lebih –disetiap tingkatannya-, dengan syarat tidak mencapai derajat mutawatir. Menghukumi hadist masyhur tidak dapat diklaim sebagai hadist yang shohih atau tidak shohih, melainkan ada yang shohih, ada juga yang hasan, dlo’if bahkan yang maudlu. Hadist masyhur yang shahih memiliki kriteria lebih kuat dari hadist ‘aziz dan hadist ghorib.

Imam as-Suyuthi menambahi perihal ‘aziz dan ghorib. Uniknya, kedua pembahasan ini tertuang khusus dalam bab al-ghorib dan al-aziz. Dimana perowi hadist ‘aziz jumlahnya tidak mencapai jumlah perowi hadist masyhur, yakni satu, dua atau tiga. Sedangkan hadist ghorib, perowinya hanya seorang saja. Dalam aspek penambahan riwayat di dalam matan dan sanad, hadist ghorib terbagi menjadi 2, yaitu shohih dan tidak shohih. Agar mudah difahami secara global, kita dapat menganalisa dengan memperhatikan matan dan sanadnya.

Syaikhul Islam Imam Ibnu Hajar al-Asqalaniyy turut berkomentar terkait hadist masyhur, tatkala terdapat tiga perowi atau lebih dengan adanya unsur ‘penguatan’ dari jalan lain sehingga hadist tersebut bisa diterima, maka itu termasuk masyhur lidzatihi. Begitupun dengan hadist ‘aziz.

Penulis Merupakan Mahasantri Semester 2

Memahami Sejarah Perkembangan Ulum al-Hadis

Penulis: Agustina Megawati

Sesuai dengan perkembangan hadis, ilmu hadis selalu mengiringinya sejak masa Rasulullah S.A.W, sekalipun belum dinyatakan sebagai ilmu secara eksplisit. Ilmu hadis muncul bersamaan dengan mulainya periwayatan hadis yang disertai dengan tingginya perhatian dan selektivitas sahabat dalam menerima riwayat yang sampai kepada mereka. Dengan cara yang sangat sederhana, ilmu hadis berkembang sedemikian rupa seiring dengan berkembangnya masalah yang dihadapi.

Pada masa Nabi SAW masih hidup di tengah-tengah sahabat, hadis tidak ada persoalan karena jika menghadapi suatu masalah atau skeptis dalam suatu masalah mereka langsung bertemu dengan beliau untuk mengecek kebenarannya atau menemui sahabat lain yang dapat dipercaya untuk mengonfirmasinya. Setelah itu, barulah mereka menerima dan mengamalkan hadis tersebut.

Pada aspek etimologi, term ilmu hadis terdiri dari dua kata yakni ilmu dan hadis.  Secara sederhana, ilmu adalah pengetahuan, dan hadis adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw. baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapan-Nya. Pada ranah terminologi, para ulama hadis banyak memberikan definisi tentang ilmu hadis. Di antaranya Ibn Hajar al-Asqalani, mendefinisikan ilmu hadis sebagai berikut :

هو معرفة القواعد التي يتوصل بها الى معرفة الراوي والمراوي

“Adalah mengetahui kaidah-kaidah yang dijadikan sambungan untuk mengetahui (keadaan) periwayat dan yang diriwayatkan”.

Atau definisi yang lebih ringkas:

القواعد المعرفة بحال الرواي والمروي

“Kaidah-kaidah yang mengetahui keadaan periwayat dan yang diriwayatkannya”.

Berdasarkan definisi di atas dapat dijelaskan bahwa ilmu hadis adalah ilmu yang membicarakan tentang keadaan atau sifat para periwayat dan yang diriwayatkan. [1]

Menurut data sejarah, faktor utama munculnya Ulum Hadis, adalah disebabkan munculnya hadis-hadis palsu, yang telah mencapai klimaksnya pada abad III H. Atas  kasus ini, maka ulama hadis menyusun berbagai kaidah dalam ilmu hadis yang secara ilmiah dapat digunakan untuk penelitian hadis.[2]

Adapun orang yang pertama menyusun kitab Ulum Hadis secara sistematis adalah Abu Muhammad al Ramahurmuzi (360 H), sesudah itu ulama-ulama yang ada di abad IV H, ikut meramaikan arena Ulum Hadis, seperti al Hakim Muhammad ibn Abdillah al-Naysaburiy, Abu Nu’aim al Asfahani, al Khatib dan segenerasinya.[3]

Lihat: 

[1] Al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi

[2] Mustafa al-Siba‟I, al-Sunnah wa Makanatuha fiy Tasyri’ al-Islami, h.101.

[3] Hasbi Ash-Shiddiqiy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadist, h. 123.

Jika Gurumu Killer

Penulis: Viki Junianto

Bagi pelajar hadis, nama Sulaiman bin Mihran al-A’masy (148 H) tentu bukanlah nama yang asing. Muhaddis yang lebih dikenal dengan Imam al-A’masy ini termasuk dalam jajaran tabiin yang banyak meriwayatkan dan menghafalkan hadis. Oleh sebab itu, bukanlah hal yang mengherankan jika Imam Syamsuddin ad-Dzahabi memberinya gelar sebagai, Syaikh al-Muhaddisin, guru para ahli hadis.

Namun dibalik nama besarnya itu, ternyata Imam al-A’masy merupakan sosok guru killer.

سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عُبَيْدٍ، قَالَ: كَانَ الْأَعْمَشُ لَا يَدَعُ أَحَدًا يَقْعُدُ بِجَنْبِهِ. فَإِنْ قَعَدَ إِنْسَانٌ، قَطَعَ الْحَدِيثَ وَقَامَ. وَكَانَ مَعَنَا رَجُلٌ، يَسْتَثْقُلُهُ. قَالَ: فَجَاءَ، فَجَلَسَ بِجَنْبِهِ، وَظَنَّ أَنَّ الْأَعْمَشَ لَا يَعْلَمُ. وَفَطِنَ الْأَعْمَشُ، فَجَعَلُ يَتَنَخَّمُ، وَيَبْزُقَ عَلَيْهِ، وَالرَّجُلُ سَاكِتٌ، مَخَافَةَ أَنْ يَقْطَعَ الْحَدِيثَ

Diriwayatkan oleh Muhammad bin Ubaid, saat pengajian Imam al-A’masy tidak menyukai santri yang duduk terlalu dekat dengan beliau. Saat ada santri yang mencoba duduk mendekat, beliau akan langsung berhenti ngaji hadis, lalu pulang. Pada suatu saat, ada seorang santri merasa kesulitan dalam mendengar hadis. Dia pun mendekat kearah Imam al-A’masy. Dia menyangka Imam al-A’masy tidak menyadarinya. Sialnya, ternyata sang Imam menyadari kehadiran santri tersebut di dekatnya. Apa yang dilakukan Imam al-A’masy? Beliau mengumpulkan dahaknya, lantas meludahkannya kearah santri tersebut. Si santri pun hanya diam tanpa protes, karena takut memotong hadis yang disampaikan sang Imam.[1]

Cerita kekileran Imam al-A’masy tidak berhenti di situ

سَأَلَ حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ الْأَعْمَشَ عَنْ إِسْنَادِ، حَدِيثٍ، فَأَخَذَ بِحَلْقَهِ، فَأَسْنَدَهُ إِلَى حَائِطٍ، وَقَالَ: هَذَا إِسْنَادُهُ

Pada suatu saat Hafs bin Ghiyas bertanya kepada Imam al-A’masy sanad sebuah hadis (sanad secara bahasa berarti sandaran). Lalu Imam al-A’masy pun memcekiknya dan menyeretnya ke tembok, seraya berkata: “Ini sanad (sandaran) hadis itu”[2].

Di balik kekileran Imam al-A’masy, Imam Abu Bakar menekankan sebuah pelajaran penting yang dapat kita ambil cerita tersebut.

قَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَأَخْبَارُ الْأَعْمَشِ فِي هَذَا الْمَعْنَى كَثِيرَةٌ جِدًّا. وَكَانَ مَعَ سُوءِ خُلُقِهِ، ثِقَةٌ فِي حَدِيثِهِ، عَدْلًا فِي رِوَايَتِهِ، ضَابِطًا لِمَا سَمِعَهُ، مُتْقِنًا لِمَا حِفْظَهُ , فَرَحَلَ النَّاسُ إِلَيْهِ، وَتَهَافَتُوا فِي السَّمَاعِ عَلَيْهِ. فَكَانَ أَصْحَابُ الْحَدِيثِ رُبَّمَا طَلَبُوا مِنْهُ أَنْ يُحَدِّثَهُمُ، فَيَمْتَنِعُ عَلَيْهِمْ، وَيُلِحُّونَ فِي الطَّلَبِ، وَيُبْرِمُونَهُ بِالْمَسْأَلَةِ، فَيَغْضَبُ وَيَسْتَقْبِلُهُمْ بِالذَّمِّ حَتَّى إِذَا سَكَنَتْ فَوْرَتُهُ، وَذَهَبَتْ ضَجْرَتُهُ، أَعْقَبَ الْغَضَبَ صُلْحًا، وَأَبْدَلَ الذَّمَّ مَدْحًا

“Cerita tentang kekileran Imam al-A’masy sangat banyak sekali. Dan walaupun Imam al-A’masy berperangai seperti itu, beliau merupakan sosok yang tsiqoh dalam hadisnya, adil dalam periwatannya, dhabith terhadap apa yang beliau dengar, serta kuat hafalannya. Banyak santri berbondong-bondong pergi kepada beliau untuk meriwayatkan hadis. Tak jarang saat mereka datang, Imam al-A’masy menolak untuk mengajar. Para santri itu pun tetap bersikeras untuk meminta ngaji. Mengetahui itu, Imam al-A’masy pun keluar dari rumahnya dengan marah dan mengucapkan kata kotor. Namun saat emosi Imam al-A’masy mereda, kemarahan akan bertukar dengan kebaikan dan cacian akan berganti dengan pujian”[3]

Dari kisah tersebut dapat kita tarik sebuah pelajaran penting, kekileran Imam al-A’masy sama sekali tidak mengurangi rasa semangat dan hormat santri-santrinya kepada beliau. Iniliah sebuah teladan indah yang diberikan oleh para santri hadis zaman dulu kepada kita. Lantas gimana kita sebagai santri hadis jaman now. Bisa menirunya?

Ada sebuah kutipan menarik dari Imam Syafii

اِصبِر عَلى مُرِّ الجَفا مِن مُعَلِّمٍ  فَإِنَّ رُسوبَ العِلمِ في نَفَراتِهِ

Bersabarlah terhadap kekerasan seorang guru
karena kegagalan mencari ilmu terletak pada ketidak sanggupan menghadapi hal itu

Lihat:

[1] Khatib al-Baghdadi, Syarufu Ashab al-Hadis, hlm 133.

[2] Ibid; hlm 134

[3] Ibid; hlm 135

Saat Anak Menjarh Ayahnya Sendiri

Penulis: Viki Junianto

Untuk mengetahui kredibilitas seorang rawi hadis, dibutuhkan informasi tentang kepribadian rawi tersebut, baik tentang kelebihan atau kekurangannya. Demi memenuhi informasi yang dibutuhkan tersebut, para ulama pun merumuskan cabang ilmu hadis yang diistilahkan dengan jarh wa ta’dil. Dr. Ajjaj Al-Khatib dalam Ushul al-Hadits mendefinisikan ilmu jarh wa ta’dil sebagai:

هو العلم الذي يبحث في أحوال الرواة من حيث قبول روايتهم أوردها

“Ilmu yang membahas seputar para perawi dari segi diterima atau ditolaknya periwayatan.”

Dalam memberikan informasi kepribadian rawi, para ulama jarh wa ta’dil sangat objektif dalam menilai satu persatu rawi. Hitam dibilang hitam, putih dibilang putih, tidak ada yang abu-abu. Tak jarang mereka juga men-jarh perawi yang juga kerabatnya sendiri. Hal ini merupakan salah satu bentuk teladan mereka dalam menjaga amanah ilmiah agar keontetikan hadis nabi tetap terjaga.

وقد سئل علي بن المدينى عن ابيه فقال اسألوا غيرى فقالوا سألناك فأطرق ثم رفع رأسه وقال هذا هو الدين .ابي ضعيف

Saat Ali bin Madini pernah ditanya tentang kredibiltas ayahnya, beliau pun menjawab, “tanyalah kepada selain aku”. Para ulama mengulangi, “kami bertanya padamu”. Kemudian Ali bin Madini pun menundukkan wajahnya, lalu mengangkatnya seraya berkata, “ilmu ini (jarh wa ta’dil) adalah termasuk agama. Bapakku adalah orang yang lemah periwayatannya.[1]

Hal yang sama juga dilakukan oleh Su’bah bin Hajjaj. Kali ini dia men-jarh anak kandungnya sendiri yang bernama Sa’ad.

سميت ابنى سعدا فما سعد ولا فلح

Anakku aku beri nama Sa’ad, namun sayangnya dia sama sekali tidak bahagia (saida) dan beruntung (faliha).[2]

Zaid bin Abi Unaisah juga men-jarh yahya bin Abi Unaisyah yang notabene adalah adik kandunya sendiri.

قال لى زيد بن ابي انيسة: لا تحدث عن آخى يحيى بن ابي انيسة لأنه كذاب

Telah berkata kepadaku: Zaid bin abi Unaisah, “Jangan kalian meriwayatkan hadis dari adikku, Yahya bin Abi Anisah karena dia adalah seorang pembohong.[3]

Pertemanan bukanlah penghalang bagi ulama hadis untuk tetap menjaga objektifitas dalam kajian hadis. Seperti yang dilakukan Yahya bin Main misalnya, dimana dia memberanikan diri untuk men-jarh teman dekatnya sendiri.

قال ابن الجنيد قال لى يحيى بن معين : عبيد بن اسحاق العطار كذاب ،وكان صديقا لى

Yahya bin Main berkata, “Ubaid bin Ishaq adalah seorang pembohong. Sedangkan dia adalah temanku sendiri”.[4]

Lebih jauh lagi, objektifitas ulama hadis ini memberikan teladan kepada kita untuk mengatakan bahwa perkara yang salah itu salah, walaupun ternyata kesalahan itu kita temukan pada diri kita sendiri atau bahkan golongan kita sendiri. Juga mengatakan bahwa yang benar itu benar, walaupun kebenaran itu kita temukan pada orang lain atau bahkan golongan lain.

Sumber:

[1] Ibnu Hibban, Kitab al-majruhin min al-Muhadisin, hlm 15 vol 2

[2] Imam Uqaili, ad-Duafa’, hlm 18 vol 2

[3] Ibu Hatim ar-Razi, Jarh wa Ta’dil, hlm 130 vol 9.

[4] Ibnu Main, as-Sualat, hlm 471

« Older posts