المكتبة للمعهد العالي هاشم أشعري

Tag: hadis

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari Ahli Fikih (Faqih)?

Penulis: Ilham Zihaq

Judul yang agak aneh, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari adalah Ahli fiqih (Faqih). Tentu ini asing di telinga kita, seringnya kita dengar beliau adalah seorang ahli Hadis (Muhaddist) ternama dan tersohor. Buktinya, setiap bulan Hadratussyaikh selalu membaca kitab Kitab Bukhari dan Muslim, serta terkadang diselingi dengan membaca kitab-kitab kutub sittah yang lain. Bahkan yang menakjubkan, guru yang dihormatinya ikut dalam pengajian tersebut. Hal ini menandakan kealiman dan kepakaran beliau tentang Hadist.

Ada juga yang mengatakan bahwa Hadratussyaikh Hapal Kutubus sittah. Pengakuan Ulama Internasional tentang kepakaran dan keahliannya terhadap hadis, pernah diutarakan oleh Syaikh Yasin Al Fadani dalam kitabnya, yang berjudul:

أربعون حديثا من اربعين شيخا من أربعين بلدا

Di dalam kitab itu disebutkan bahwa Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari seorang Al Muhaddist.

Namun tidak bisa dipungkiri, bahwa Hadratussyaikh juga Ahli Fiqh (Faqih). Terbukti mayoritas karya tulisnya bertemakan fiqh, sebut saja diantaranya kitab Jami’atul Al-Maqosid, At-Tanbihat Al-Wajibat, Dou’ul Al-Misbah, Ziyadut At-Ta’liqot, Al-Jasus, Al-Manasik As-Shugro dan lain sebagainya. Kitab-kitab tersebut berhubungan dengan syareat atau fiqh.

Hadratussyaikh juga memiliki fatwa yang fenomenal, yaitu Fatwa Resolusi Jihad. Fatwa tersebut mewajibkan jihad melawan penjajah dengan meng-extrax fiqh Masafatul Al-Qosr dalam bab Ibadah menuju fiqh Jihad. Menurut Kiai Musta’in, ini adalah fatwa terbaru yang belum pernah di temukan pada zaman sebelumnya.

Selain itu nama Hadratussyaikh masuk dalam kitab biografi Ulama Fiqh Syafi’iyah yang berjudul:

مفاتيح اﻷسمار في تراجم الشافعية اﻷقمار

Kitab itu ditulis oleh Syeikh Abdunnashir al-Malibari. Menurut Kiai Asep Jaelani, kemungkinan besar kitab itu adalah kitab thobaqot syafi’iyah pertama dalam bentuk nazhom. Penulis kitab tersebut, menyebutkan lebih dari 1000 ulama Syafi’iyah hingga tahun 1400 hijriyah. Sedangkan jumlah bait yang terkandung dalam kitab tersebut berjumlah lebih dari 2000 bait. Setiap satu tokoh madzhab Syafi’i terdokumentasikan dalam dua bait. Hebatnya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari satu dari seribu ulama Fiqh Madzhab Syafi’i yang tercantum dalam kitab tersebut.

Ini adalah dua bait untuk Hadratussyaikh yang di sebutkan dalam kitab tersebut:

محمدٌ هاشمٌ اشعريُّ * يُنْمَى لِجُمْبَانَ الفَتَى الجَرِيُّ
على إباءِ حربِ يَابانَ جَسَرْ * وحَطَّ مجدَهُ الزمانُ وَقَسَرْ

“Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, beliau tumbuh di Jombang menjadi seorang pemuda yang berani. Dan dia tokoh sentral penolakan terhadap penjajahan Jepang, berdiri dengan tegas dan berani, berakibat pada derajat keagungan jepang dan kekuatannya runtuh seiring berjalannya zaman”.

Dari itu, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari bukan hanya Muhaddist saja, tetapi juga Faqih Syafii.

Memahami Sejarah Perkembangan Ulum al-Hadis

Penulis: Agustina Megawati

Sesuai dengan perkembangan hadis, ilmu hadis selalu mengiringinya sejak masa Rasulullah S.A.W, sekalipun belum dinyatakan sebagai ilmu secara eksplisit. Ilmu hadis muncul bersamaan dengan mulainya periwayatan hadis yang disertai dengan tingginya perhatian dan selektivitas sahabat dalam menerima riwayat yang sampai kepada mereka. Dengan cara yang sangat sederhana, ilmu hadis berkembang sedemikian rupa seiring dengan berkembangnya masalah yang dihadapi.

Pada masa Nabi SAW masih hidup di tengah-tengah sahabat, hadis tidak ada persoalan karena jika menghadapi suatu masalah atau skeptis dalam suatu masalah mereka langsung bertemu dengan beliau untuk mengecek kebenarannya atau menemui sahabat lain yang dapat dipercaya untuk mengonfirmasinya. Setelah itu, barulah mereka menerima dan mengamalkan hadis tersebut.

Pada aspek etimologi, term ilmu hadis terdiri dari dua kata yakni ilmu dan hadis.  Secara sederhana, ilmu adalah pengetahuan, dan hadis adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw. baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapan-Nya. Pada ranah terminologi, para ulama hadis banyak memberikan definisi tentang ilmu hadis. Di antaranya Ibn Hajar al-Asqalani, mendefinisikan ilmu hadis sebagai berikut :

هو معرفة القواعد التي يتوصل بها الى معرفة الراوي والمراوي

“Adalah mengetahui kaidah-kaidah yang dijadikan sambungan untuk mengetahui (keadaan) periwayat dan yang diriwayatkan”.

Atau definisi yang lebih ringkas:

القواعد المعرفة بحال الرواي والمروي

“Kaidah-kaidah yang mengetahui keadaan periwayat dan yang diriwayatkannya”.

Berdasarkan definisi di atas dapat dijelaskan bahwa ilmu hadis adalah ilmu yang membicarakan tentang keadaan atau sifat para periwayat dan yang diriwayatkan. [1]

Menurut data sejarah, faktor utama munculnya Ulum Hadis, adalah disebabkan munculnya hadis-hadis palsu, yang telah mencapai klimaksnya pada abad III H. Atas  kasus ini, maka ulama hadis menyusun berbagai kaidah dalam ilmu hadis yang secara ilmiah dapat digunakan untuk penelitian hadis.[2]

Adapun orang yang pertama menyusun kitab Ulum Hadis secara sistematis adalah Abu Muhammad al Ramahurmuzi (360 H), sesudah itu ulama-ulama yang ada di abad IV H, ikut meramaikan arena Ulum Hadis, seperti al Hakim Muhammad ibn Abdillah al-Naysaburiy, Abu Nu’aim al Asfahani, al Khatib dan segenerasinya.[3]

Lihat: 

[1] Al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi

[2] Mustafa al-Siba‟I, al-Sunnah wa Makanatuha fiy Tasyri’ al-Islami, h.101.

[3] Hasbi Ash-Shiddiqiy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadist, h. 123.

Hadis Mu’an’an, Termasuk Muttashil atau Munqothi’ ?

Penulis: Athiyah Maziah

Secara istilah, hadis mu’an’an adalah hadis yang dalam periwayatannya menggunkan redaksi عن (dari) dengan tanpa menjelaskan bahwa ia mendengarkan langsung dari gurunya atau ia telah dikabarkan. Bentuk shigotut tahammulnya menggunakan lafadz عن.

(فلان عن فلانٍ عن فلانٍ)

Ulama’ berbeda pendapat mengenai hadis mu’an’an termasuk muttashil (bersambung sanadnya) ataukah munqothi’ (terputus sanadnya) ? karena dalam ketersambungan atau keterputusan sanad, dapat mempengaruhi derajat hukum suatu hadis.
Dalam kitab Taisir Musthalah Al-Hadis disebutkan, mengenai hal ini ulama’ berbeda pendapat :

  1. Pendapat pertama mengatakan, hadis mu’an’an termasuk munqothi’ (terputus) hingga terlihat jelas ketersambungannya.
  2. Sahih untuk diamalkan. Ulama’ Jumhur dari kalangan ahli hadis, ahli fiqh dan ushul mereka menyetujui bahwa hadis mu’an’an termasuk kategori hadis muttashil (bersambung sanadnya) dengan memenuhi beberapa syarat.

Mereka sepakat atas dua syarat dibawah ini, dan berbeda pendapat pada syarat lainnya :

  1. Al-Mu’an’in (perawi yang menyampaikan dengan shighot ‘an) bukanlah Mudallis.
  2.  Kemungkinan adanya pertemuan antara rawi mu’an’in dengan gurunya (orang yang ia riwayatkan hadisnya secara ‘an’anah)

Adapun syarat tambahan yang mereka berbeda pendapat didalamnya :

  1.  Kepastian pertemuan antara rawi mu’an’in dengan gurunya. (pendapat Imam Bukhari, Ibn al-Madini dan para Ahli Tahqiq).
  2. Lamanya persahabatan antara rawi mu’an’in dengan gurunya. (pendapat Abi al-Mudzoffar al-Sam’ani)

 Mengetahui terhadap apa yang diriwayatkan dari rawi yang ia riwayatkan secara ‘an’anah. (pendapat Abi ‘Amr al-Dani)

Contoh hadis mu’an’an (Sunan Ibnu Majah/212) adalah :

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفْضَلُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Terdeteksi dalam hadis diatas yang menjadi pelaku mu’an’an (Al-Mu’an’in) adalah; Sufyan, ‘Alqomah Ibn Martsad, dan ‘Abi ‘Abd al-Rahman al-Sulamy. Dalam penilitian takhrijnya, ketiganya mencapai pada derajat Tsiqqoh dan ketiganya bertemu dengan gurunya masing-masing, maka dalam kitab Mursyid Dzawi Al-Haja wa Al-Hajah disebutkan bahwa hadis diatas dihukumi sahih, dan adanya ketersambungan dalam sanad. Dan juga hadis diatas memiliki beberapa hadis tawabi’ yang salah satunya terdeteksi dalam kitab Sahih Bukhari. Wallahu a’lam.

Penulis merupakan mahasantri semester 5

Model Periwayatan Hadis Sahabat Nabi

Penulis: Farhan Syahputra

Pada masa turunnya, hadis tidak langsung ditulis oleh para sahabat, berbeda dengan Al-Qur’an yang ditulis bersamaan dengan turunnya. Hal itu dikarenakan adanya larangan menulis hadis pada masa sahabat karena dikhawatirkan akan bercampur antara Al-Qur’an dan hadis. Tetapi larangan tersebut tidak bersifat mutlak. Menurut Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki dalam kitabnya Manhalul Latif, hadis larangan menulis hadis telah di-naskh oleh hadis kebolehan menulis hadis. Tetapi tentu ada perbedaan usaha dalam memperoleh hadis nabawi sesuai dengan tempat dan media yang tersedia di setiap zamannya.

Pada masa sahabat setidaknya ada 2 model usaha dalam menjaga dan memperoleh hadis nabawi.

1. Model pada masa Rasulullah SAW masih hidup.

  • Para sahabat bergantian dalam mengikuti kajian ilmiah yang diadakan oleh Baginda Nabi sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat umar dengan tetangganya dari golongan Anshor, Bani Umayyah bin Zaid

فهذا عمر بن الخطاب رضي الله عنه يقول – فيما أخرجه عنه البخاري -: كنت أنا وجارٌ لي من الأنصار في بني أمية بن زيد – وهي من عوالي المدينة – وكنا نتناوب النزول على رسول الله صلى الله عليه وسلم، ينزل يوما وأنزل يوماً، فإذا نزلت جئته   بخبر ذلك اليوم، وإذا نزل فعل مثل ذالك

Dan inilah Umar bin Khattab berkata -yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Aku dan tetanggaku dari Anshar berada di desa Banu Umayyah bin Zaid dia termasuk orang kepercayaan di Madinah, kami saling bergantian menimba ilmu dari Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, sehari aku yang menemui Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan hari lain dia yang menemui Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, Jika giliranku tiba, aku menanyakan seputar wahyu yang turun hari itu dan perkara lainnya. Dan jika giliran tetanggaku tiba, ia pun melakukan hal yang sama”.

  • Para sahabat mempraktekkan langsung apa yang mereka pelajari dari Rasulullah

أخرج البخاري عن ابن عمر – رضي الله عنهما – قال: “اتخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتماً من ذهب، فاتخذ الناس خواتيم من ذهب، ثم نبذه النبي صلى الله عليه وسلم وقال: إني لن ألبسه أبداً، فنبذ الناس خواتيمهم

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu umar RA berkata, “Rasulullah SAW memakai cincin dari emas, kemudian para sahabat lantas ikut memakai cicin emas mereka. (Setelah beberapa saat) Nabi pun melepas cincin tersebut. Lantas para sahabatnya pun ikut melepasnya”.

2. Model pada masa Rasulullah telah wafat

Para sahabat tidak langsung menyampaikan hadis-hadis yang mereka dengar kecuali setelah dikaji ulang kesahihan dan keotentikan hadisnya.

Begitulah perhatian dan usaha para sahabat dalam menjaga dan mengamalkan hadis Nabi. Mereka melakukan apa yang Nabi sampaikan secara sempurna dan juga tidak sembrono dalam menyampaikan dan mengamalkan hadis nabawi sehingga keotentikan hadis nabawi dapat terjaga hingga sekarang.

Penulis merupakan Mahasantri semester 5

 

Otentitas Hadis Menurut Ahli Sufi

Penulis : Viki Junianto

Dalam mengetahui otentitas hadis, ternyata instrumen kritik ahli hadis bukanlah satu-satunya metode. Dalam kitab al-Hadis as-Sahih wa Manhaju Ulama al-Muslimin fi at-Tashih, Syekh Abdul Karim Ismail as-Sabbah menjelaskan bahwa, selain metode hadis, terdapat metode lain yang digunakan oleh kaum muslimin untuk mengetahui otentitas sebuah hadis.

Tidak semua kaum muslimin sepakat dan mengamini instrumen yang dirumuskan oleh ahli hadis. Perbedaan metodologis tersebut disebabkan oleh latarbelakang diskursus keilmuan yang berbeda. Di antara banyak metode dalam mengetahui otentitas sebuah hadis, motode ahli sufi lah yang dipandang sebagai metode yang kontroversional. Metode ahli sufi dianggap tidak mempunyai dasar epistimologi yang kuat dan dapat dibenarkan secara rasional.

Perlu diketahui bahwa istilah ahli sufi di atas tidak dimaksudkan untuk keseluruhan ahli sufi. Para ahli sufi terklasifikasi menjadi tiga golongan: Pertama, sufi pengikut tasawuf akhlaki, yaitu tawasuf yang berfokus pada perbaikan moral, dan di antara tokohnya adalah Imam Ghazali. Kedua, sufi pengikut tasawuf amaly, sebuah aliran tasawuf yang berfokus pada amal kebajikan, Hasan al-Bashri adalah salah satu tokohnya. Dan yang ketika adalah sufi yang mengikuti tasawuf falsafi, aliran tasawuf yang menggabungkan sisi mistis dan nalar rasio, Ibnu Arabi didaulat sebagai tokohnya.

Dan yang sufi yang dimaksud dalam tulisan ini adalah sufi yang mengikuti aliran tasawuf falsafi.

Setelah meneliti beberapa kitab karangan sufi falsafi, setidaknya ada dua metode yang ditempuh oleh mereka untuk mengetahui otentitas sebuah hadis yaitu: kasf dan tajribah.

  1. Kasf

Kasf seperti yang dikatakan oleh al-Jurjani:

الإطلاع على ما وراء الحجاب  من المعانى الغيبة والأمور الحقيقة وجودا وشعورا.

“Melihat sesuatu yang berada dibelakang penghalang berupa esensi-esensi yang tersembunyi dan perkara hakikat, baik secara nyata ataupun intuitif”

Para sufi menganggap bahwa kasf merupakan metode yang pang worth it untuk memperoleh kebenaran. Atas dasar itulah, untuk mengetahui otentitas sebuah hadis, mereka menggunakan motode ini.

Dalam prakteknya, untuk mengetahui kualitas sebuah hadis, mereka akan menanyakannya langsung kepada Nabi Muhammad SAW, baik dalam keadaan terjaga ataupun dalam mimpi.

Abu Mawahib merupakan tokoh yang terlacak pernah menggunakan metode ini:

قال أبو المواهب الشاذلى :”رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فسألته عن أحاديث المشهور- اذكرو الله حتى يقولوا:مجنون-وفى صحيح ابن حبان- اكثروا من ذكر الله حتى يقولوا- مجنون فقال: صدق ابن حبان فى روايته وصدق راوي.

Abu Mawahib berkata as-Syadili berkata: “Aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah, kemudian aku bertanya kepada beliau tentang hadis masyhur riwayat ibnu Hibban. Lantas Nabi menjawab: ‘Benar apa yang dikatakan oleh Ibnu Hibban dan rawi hadis itu”.

Lebih jauh lagi, dalam kitabnya Futuhat al-Makkiyah, Ibnu Arabi mempertentangkan antara metode yang dipakai oleh ahli sufi dan ahli hadis. Beliau berpendapat bahwa jika ada pertentangan antara ahli sufi dan ahli hadis dalam menyikapi suatu hadis, maka yang harus dimenangkan adalah metode ahli sufi yaitu kasf, dikarenakan kasfh merupakan penjelasan langsung dari Tuhan.

ورب حديث يكون صحيحا من طرق رواته يحصل لهذا المكاشف الذى قد عاين هذا المظهر فسأل النبى صلى الله عليه وسلم عن هذا الحديث الصحيح فأنكر وقال صلى الله عليه وسلم لا أقله ولا جكمت به فيعلم ضعفه فيترك العمل به عن بينة من ربه وإن كان قد عمل به أهل النقل لصحة طريقه.

Banyak sekali hadis sahih dalam segi periwayatannya, namun setelah ditanyakan langsung kepada Nabi SAW melalui kasyf, beliau mengingkarinya seraya berkata “Aku tidak pernah mengatakannya dan aku tidak mengakuinya”. Pada akhirnya hadis itu pun diketahui kedaifannya dan ditinggalkan atas penjelasan dari Tuhan, walaupun hadis itu diamalkan oleh ahli hadis karena sahih riwayatnya.

  1. Tajribah

Metode kedua yang digunakan oleh ahli hadis dalam menilai suatu hadis adalah tajribah atau aplikatif. Tajribah dalam pengertian ahli sufi di sini adalah menguji isi kandungan hadis dengan mempraktekkannya. Jika kadungan hadis tersebut terbukti benar, maka hadis tersebut dianggap sahih. Namun jika tidak terbukti, maka akan hadis tersebut akan ditinggalkan.

Di antara contoh dari praktek metode ini adalah,

“ماء زمزم ملا شرب له” هذا حديث مختلف فى صحته بين المتقدمين والمتأخرين من المحدثين. قال السخاوي: وقد جربه جماعة من الصوفية فذكروا : أنه صحيح.

Hadis keutamaan air zam-zam merupakan hadis yang diperselisihkan oleh ahli hadis akan kesahihannya. Imam Sakhawi berkata: “Golongan ahli sufi telah mempraktekkan hadis ini, lantar mereka berkata bahwa hadis ini sahih.

Dari keterangan tersebut bisa diambil lesimpulan bahwa ahli sufi menyimpulkan kualitas sebuah sanad tidak melalui tinjaan kajian sanad, melainkan dari kebenaran konten dan kandungan hadis tersebut. contoh lain,

 حديث ابن عباس مرفوعا : من وسع على نفسه وعياله يوم عاشورا وسع الله عليه ورزقه ذلك العام. قال جابر وابن الزبير وشعبة بن الحجاج : جربناه فصح

Hadis Marfu Ibnu abbas tentang keutamaan bersedekah kepada keluarga pada hari Asyura. Jabir, Ibnu Zubair, dan Syu’bah bin hajjaj berkata: Kami telah mempraktekkannya dan hadis itu sahih.

Lantas, apakah metode sufi ini bisa dipertanggung jawabkan kredibilitasnya, bagaimana pendapatmu?

Bagi yang masih penasaran, bisa ngintip hasil penelitian penulis dalam masalah ini.

http://repository.tebuireng.ac.id/index.php?p=show_detail&id=151&keywords=

 

 

 

Benarkah Sawad al-A’dham itu Mayoritas? Telaah pendapat Ust. Ubaidy Hasbillah

Penulis : Yuniar Indra

Kalangan pesantren pasti tidak asing lagi dengan ungkapan Sawad al-A’dham dan Ghuraba’. Makna keduanya secara teks boleh dibilang adalah mayoritas dan minoritas. Tentu mayoritas dan minoritas yang kaitannya dengan kuantitas. Tapi apakah hal tersebut memang demikian adanya?

Kedua hadis itu sering kali digunakan sebagai modal pembentukan opini publik. Hadis Sawad al-A’dam dipakai mereka yang punya masa banyak. Karena yang seharusnya mereka ikuti adalah kaum muslim yang berjumlah mayoritas. Sementara hadis ghuraba’ digunakan oleh kelompok yang merasa minoritas untuk membentuk opini publik agar tidak merasa kalah dengan yang mayoritas.

Redaksi pertama sawad al-a’dham ditemukan dalam hadis berikut:

أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ، فَإِذَا رَأَيْتُمُ اخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ بالسواد الأعظم

“Umatku tidak akan berkumpul-sepakat dalam kesesatan. Karena itu, jika kslian melihat ada perbedaan (dalam beragama ini), maka kalian harus tetap pada al-sawad al-a’dham”.

Istilah-istilah yang digunakan dalam hadis tersebut memang sepintas dapat dimaknai “mayoritas” , jika dilihat dari aspek lahiriah teksnya saja.

Kedua, redaksi al-ghuraba’ ditemukan pada hadis berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

“Islam itu muncul pertama kali secara asing, dan akan kembali asing lagi. Sangat beruntung bagi para ghuraba”.

Secara teks orang Islam yang beruntung menurut hadis di atas adalah mereka yang merasa terasing. Lebih-lebih merasa terasing dalam jumlah. Artinya mereka merasa jumlahnya minoritas.

Lalu, apakah mayoritas dan minoritas itu benar-benar dapat mewakili kedua hadis tersebut? Ustaz Ubaidy Hasbillah menggunakan metode ikhtilaf al-hadis dalam memahami kedua hadis tersebut. Secara sederhana ada dua langkah untuk menyelesaikan perbedaan dalam hadis itu.

Uji Keberadaan dan Keadaan Hadis

Berdasar takhrij syamil, hadis pertama tentang sawad al-a’dham ini sedikitnya menurunkan 16 sanad turunan (mutabi’). Hadis ini juga memiliki populasi syawahid sebanyak 64 sanad yang bermuara kepada 9 orang sahabat Nabi. Total ada 80 sanad yang membawa hadis ini. Ia tergolong hadis masyhur jika melihat banyaknya sanad.

Terkait, kesahihan dari 80 sanad itu, hanya ada 3 sanad sahih, 12 hasan, 20 hasan lighairihi. Dengan demikian jumlah populasi periwayatan yang maqbul dari hadis ini adalah 35 sanad atau setara 43,75%.

Sementara hadis kedua secara turunan terdapat 43 sanad turunan (mutabi’) dari Abi Hurairah. Secara menyeluruh populasi hadis ini mencapai 233 sanad syahid. Praktis, hadis ini dapat dinyatakan mutawatir, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Kattani.

Kesahihannya pun tidak diragukan, didapati ada 26 sanad sahih, 103 sanad hasan, 66 sanad hasan li ghairihi, 81 mardud. Tingkat ke-maqbul-annya mencapai 70,7%.

Uji Makna Hadis dan Keberadaan Ikhtilaf

Setelah dikumpulkan seluruh versi matannya, hadis sawad al-a’zham memiliki makna, setia pada komunitas umat Islam yang ada pada masa Nabi (ma ana ‘alaihi wa ashabih al-yaum). Tidak menyimpang dari ajaran Islam, itulah al-sawad al-a’zham.

Lebih jelas lagi, Rasulullah langsung menafsirkan makna al-sawad al-a’zham dengan makna, “kebenaran dan pada pengamalnya.” (fa ‘alaikum bi al-sawad al-a’zham, al-haqqi wa ahlih). Riwayat ini ditemukan dalam kitab Al-Sunnah karya Ibn Abu Ashim (w. 287 H)

Dengan demikian, al-sawad al-a’zham bukanlah mayoritas. Kata a’zham  di ini tidak bermakna besar secara kuantitas, melainkan besar dalam arti kualitas, yakni jamaah umat Islam teragung. Jamaah teragung itu jamaah Nabi dan para sahabat-nya yang selalu bertahan dalam kebenaran.

Bagaimana dengan makna ghuraba’?. Setelah pengumpulan versi riwayat dijumpai makna ghuraba’ sesuai dengan penjelasan Rasul adalah:

  1. Orang-orang yang berani berhijrah, menjauh, dan meninggalkan sukunya yang penuh kezaliman
  2. Orang yang senantiasa berbuat baik saat orang-orang berbuat kerusakan
  3. Orang yang berpegang teguh pada sunah

Dari sini jelas sekali bahwa yang dimaksud ghuraba’ itu bukanlah asing dalam arti jarang atau sedikit jumlahnya. Melainkan asing dalam arti kualitasnya, alias dianggap aneh.

Alhasil, tidak ada tanaqudh (kontradiksi) dalam hadis-hadis di atas. Dugaan kontradiksi tersebut hanya berada pada tataran pemaknaan teksnya saja. Namun, makna sebenarnya tidak seperti itu.

Lalu, jika kembali pada masalah mana yang harus diikuti, mayoritas atau minoritas? Jawabannya tidak keduanya. Yang harus diikuti adalah kebenaran sesuai petunjuk Nabi.