المكتبة للمعهد العالي هاشم أشعري

Tag: dirasat asanid

Transmisi Hadis (alfazh tahammul wa al-ada’)

Di antara nama guru dalam sanad, selalu diselipi oleh kata tertentu, seperti “dari”/‘an (عن), “berbicara pada kami”/haddatsanā (حدثنا), “mengkabari kami”/akhbaranā (أخبرنا), “dia berkata”/qāla (قال) dan sebagainya. Kata-kata ini disebut alfazh tahammul wa al-ada’ (ألفاظ التحمل والأداء).

Contohnya kata yang ditebali dalam hadits berikut:

4937 حَدَّثَنَا آدَمُ ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ ، قَالَ : سَمِعْتُ زُرَارَةَ بْنَ أَوْفَى ، يُحَدِّثُ عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ ، عَنْ عَائِشَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ، وَمَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ، وَهُوَ يَتَعَاهَدُهُ، وَهُوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ فَلَهُ أَجْرَانِ ” صحيح البخاري كتاب التفسير. | سورة عبس | صحيح مسلم ( 798 )، سنن أبي داود ( 1454 )، سنن الترمذي ( 2904 )، سنن ابن ماجه ( 3779 )، سنن الدارمي ( 3411 )، مسند أحمد ( 24211, 24634, 24667, 24788, 25365, 25591, 26028, 26296 ).

Perbedaan pilihan kata dalam transmisi (pengiriman/penerusan) hadis, mempunyai maksud yang berbeda. Misalnya:

  • Murid yang menyampikan hadis menggunaan kata “dia (Fulan) berkata”/qāla (قال) bukan berarti murid tersebut pernah mendengar langsung dari Fulan. Kata itu juga bukan berarti Fulan adalah gurunya (kecuali bila kata itu dipakai oleh sahabat Nabi). Dia hanya mengabarkan bahwa Fulan pernah berkata;
  • Murid yang menyampaikan hadis menggunakan kata “aku mendengar”/sami’tu (سمعت), berarti dia mendengar langsung dari gurunya, bukan dari orang lain atau dari kitab gurunya saja;
  • Murid yang menyampaikan hadis menggunakan kata “dia berbicara padaku”/haddatsani (حدثني), berarti dia mendengar dari gurunya dalam keadaan sendirian;
  • Murid yang menyampaikan hadis menggunakan kata “dia berbicara pada kami”/haddatsanā (حدثنا), berarti dia mendengar dari gurunya bersama siswa/orang lain;
  • Murid yang menyampaikan hadis menggunakan kata “dia mengabari kami”/akhbaranā (أخبرنا), berarti ada temannya yang ikut mendengar kabar itu dari gurunya, bisa juga ia atau temannya membaca hadis itu didepan sang guru sambil saling menyimak;
  • Murid yang menyampaikan hadis menggunakan kata “dia menginformasikan pada kami”/anba’anā (أنبأنا), berarti sama dengan akhbaranā. Namun, di era ulama muta-akhkhirin, akhbaranā lebih diperuntukkan pada pengijasahan dan bukan mendengar langsung saat belajar.

Walaupun kata haddatsanā, akhbaranā, dan sami’tu punya arti yang agak berbeda, tetapi ada pula ulama hadits yang menjadikannya sebagai sinonim (kata yang bermakna sama). Misalnya: Imam Malik dan Imam Bukhari.

Kesalahan dalam pemilihan kata berujung pada kebohongan. Orang yang hanya mendapat ijasah kitab hadis, tidak boleh berkata “guru bercerita pada kami” atau “kami mendengar guru kami”. Perbuatan ini disebut tadlis (penggelapan sanad/pemalsuan hubungan guru-murid). Hadisnya dikategorikan sebagai hadis dhaif. Perbuatan yang benar adalah berkata bahwa dia memberi informasi di kitab yang beliau ijasahkan (في كتابه).

Menurut Imam al-Dzahabi, Urutan kata transmisi hadis (alfazh ada‘) dari yang terendah hingga yang terbaik:

  • Qāla (قال)
  • an (عن)
  • Akhbaranā (أخبرنا), dzakara Lana (ذكر لنا), dan anba’anā (أنبأنا)
  • Haddatsanā (حدثنا), sami’tu (سمعت)

Catatan:

Hadits yang transimisinya menggunakan kata ‘an (عن), disebut hadits mu’an’an (معنعن). Hadits ini harus dipastikan ketersambungan para Rawinya. Menurut Imam Muslim, cukup ada kemungkinan mereka pernah menjadi guru-murid. Syarat selanjutnya, si murid tidak boleh punya sifat tadlis (menggelapkan/memalsukan sanad). Jika si murid diketahui pernah melakukan tadlis, maka hadits mu’an’an-nya ditolak.

Referensi: al-Dzahabi, almuqizhah fi ilm musthalah hadits (maktabah al-mathbu’ah al-islamiyyah: Halb. 1412 H), halaman 44-45 dan 55-59.

Perbedaan antara Takhrij dan Dirasat Asanid

Takhrij tidak lah sama dengan dirasat asanid. Status hadits shahih, hasan, dhaif juga bukan hasil dari takhrij, melainkan hasil dari dirasat asanid.

Takhrij

Secara bahasa takhrij adalah masdar dari kata kharraja. Artinya, proses mengeluarkan. Kata takhrij mempunyai makna yang berbeda-beda tergantung penggunaannya. Dalam ilmu ushul fiqh misalnya, takhrij al-manath berarti mencari alasan dari suatu hukum dengan perantara nash atau ijma’. Dalam ilmu hadits, takhrij berarti menyebutkan sanad suatu hadits.1

Secara istilah, tahkrij adalah menunjukkan letak hadits di kitab sumber aslinya dengan sanad kitab tersebut beserta kualitas hadits tersebut, jika diperlukan. Kitab yang menjadi rujukan takhrij harus merupakan kitab primer. Misalnya: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Muwaththa’ Malik, Musnad Ahmad, Mustadrak Hakim, atau musnad yang lain. Takhrij juga bisa menggunakan kitab indeks seperti tuhfatul athraf. Adapun kitab tafsir, fiqih, dan sejarah, tidak bisa dipakai rujukan takhrij kecuali kitab yang mencantumkan sanad haditsnya sendiri. Misalnya: Tafsir Thabari, Al-umm karya Imam Syafi’i, dan tarikh karya Imam Thabari. Beda halnya dengan menyebut sumber hadits dari bulughul maram atau riyadhus sholihin. Ini bukan disebut takhrij tapi hanya ‘azw (عزو)/citation.2

Contoh takhrij kitab ihya’ oleh Syekh al-Iraqi:

إحياء علوم الدين (1/ 5)

وَأَمَّا الْأَخْبَارُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَيُلْهِمْهُ رُشْدَهُ (1)

_________
(1) حديث مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدين ويلهمه رشده متفق عليه من حديث معاوية دون قوله ويلهمه رشده وهذه الزيادة عند الطبراني في الكبير

Terdapat lima cara untuk men-Takhrij (mengetahui suber primer dari suatu hadits):

  • mencari tahu letak hadits dari nama sahabat yang meriwayatkan. Misalnya: hadits Umar bin Khattab yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, maka dicari di kitab musnad ahmad pada bagian musnad umar;
  • mencari tahu letak hadits dari kata pertamanya. Misalnya: hadits yang awalnya adalah al-ulama’, maka dicari di tuhfatul athraf pada huruf ‘ain;
  • mencari tahu letak hadits dari kata yang terkandung dalam matannya. Misalnya hadits cintailah kekasihmu sewajarnya, maka kita mencari hadits itu dengan kata cinta/hubb di mu’jam mufahras pada huruf ha’;
  • mencari tahu letak hadits dari topik/temanya. Misalnya hadits tentang tayammum, maka dicari di kitab primer pada sub judul tayammum;
  • mencari tahu letak hadits dari sifat khusus hadits tersebut. Misalnya: hadits tersebut adalah hadits qudsi, maka dicari di kitab khusus hadits qudsi.

Dirasat Asanid

Secara bahasa, dirasat asanid berarti study/penelitian sanad (silsilah periwayatan hadits). Secara istilah,  dirasat asanid adalah mempelajari rangkaian hubungan perawi suatu hadits dengan

  • melihat tarjamah/biografi mereka;
  • memilah mana perawi yang kualitasnya baik dan yang buruk beserta penyebabnya;
  • memastikan hubungan guru-murid di antara mereka dengan menganalisa tahun lahir/wafatnya, menandai orang yang menyamarkan/mengubah (tadlis) profil gurunya, dan mencari penjelasan para ulama jarh wa ta’dil tentang riwayat pendidikan para perawi hadits tersebut;
  • menganalisa dan mencari keganjilan yang samar dalam sanad hadits tersebut;
  • Menandai mana yang sahabat dan tabi’in untuk mengetahui apakah hadits tersebut mursal/mawsul, mawquf/maqthu’, dan sebagainya.3

Contoh:

Setelah saya buka-buka file lama, saya dapat beberapa file makalah takhrij ma’had aly lama dengan Profersor Jamaluddin Miri. Klik untuk download:

makalah takhrij semester 2 Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng tahun 2013 (tanpa penelitian jarh wa ta’dil) dan rasm taraquminya

powerpoint takhrij untuk presentasi kelas

makalah takhrij semester 2 Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng tahun 2013  (dengan penelitian jarh wa ta’dil seadanya) Saya ingat saat itu, pembahasan takhrij dengan profesor biasanya hanya satu jam setengah, berubah jadi tiga jam lebih dikit.

Di tahun-tahun berikutnya, sistematika makalah takhrij ma’had aly semakin baik. Dalam tabel, ditambahkan kolom ratbatuhu ‘inda ibni hajar dan adz-dzahaby. (saya tidak punya filenya)

 

 

Powerpoint Cara Takhrij Hadits

Bingung cara mentakhrij hadits? Lupa cara menggunakan maktabah shamela untuk takhrij? Pengen kejelasan bagaimana hadits bisa shahih, hasan, dan dhaif? Silahkan download presentasi powerpoint berikut ini: pptx.

Di dalam file tersebut, terdapat pembahsan tentang:

  1. Perbedaan antara takhrij dan dirasat asanid;
  2. Tahapan dirasat asanid;
  3. Perbedaan antara hukum sanad, hukum matan, dan hukum hadits;
  4. Syarat-syarat hadits maqbul dalam kritik sanad dan kritik matan;
  5. Sifat perawi dan dampaknya pada hadits;
  6. Rumus hadits shahih, hasan, dan dhaif;
  7. Penjelasan singkat tentang thabaqat rawi;
  8. Simulasi praktik takhrij hadits.

Slide teori berjumlah 11 buah. Sedangkan slide simulasi/praktik, 20 buah screenshoot/printscreen. Presentasi ini pernah disampaikan dalam diskusi mingguan DEMA Ma’had Aly Hasyim Asy’ari pada September 2019 dan sosialisasi aplikasi perpustakaan. Presentasi ini disajikan dalam Bahasa Arab. Alasannya karena Ma’had Aly Hasyim Asyari Tebuireng diwajiban berbahasa Arab.  Setelah download, buka filenya dan tekan F5 pada keyboard laptop atau sentuh play pada menu Powerpoint di Android.