المكتبة للمعهد العالي هاشم أشعري

Tag: sanad

Jaringan Tebuireng-Senori

Penulis: Ilham Zihaq

Siapa yang tidak kenal dengan Kiai Ahmad Abul Fadol Senori? Kiai yang tidak pernah belajar di Arab, namun memiliki puluhan kitab berbahasa Arab. Kiai yang tidak memiliki pesantren, namun memiliki santri-santri yang menjadi ulama’ besar. Kiai yang tidak bersorban, namun keilmuannya tidak diragukan lagi dan diakui oleh para ulama.

Kiai yang dilahirkan di Sedan Rembang ini, memulai belajar ilmu agama di bawah bimbingan ayahnya sendiri, Kiai Syakur. Semenjak wafat ayahnya tahun 1940, Kiai Fadol melanjutkan belajar kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng, hingga penyergapan Kiai Hasyim oleh penjajah Jepang, tahun 1942. Saat di Tebuireng, Kiai Fadol setiap harinya hanya memakan beberapa potong singkong sebagai bentuk riyadhoh dalam mencari ilmu.

Kiai Fadol sangat mencintai Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Maka semua harta warisan dari ayahnya, beliau berikan kepada gurunya tercinta, sebagai bentuk kecintaan terhadap ulama sebagai pewaris ilmunya para Nabi. Mungkin sebab inilah, hati Kiai Fadol ter-futuh dan mudah mendapat, menghapal, dan memahami ilmu saat mondok di Tebuireng. Tak heran, walaupun mondok di Tebuireng hanya sebentar, namun keilmuannya sangat berbobot dan matang.

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari menaruh simpatik besar terhadap santri asal Rembang ini, di usianya yang masih belia, dia sudah hafal Al-Qur’an dan berbagai macam nadzom. Serta didukung kemampuannya dalam memahami kitab-kitab turast yang hebat. Oleh karenanya, Hadratussyaikh menaruh harapan besar kelak menjadi ulama besar yang menghidupkan syiar agama di pesisir utara.

Sebagai pewaris keilmuan murid Syaikh Mahfudz, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pernah memberikan dan meng-ijazahkan semua riwayat sanad-sanad kitabnya kepada Kiai Fadol. Hal ini semata-mata bentuk kasih sayang guru, kecintaan guru, serta harapan guru agar meneruskan dakwah ta’lim watta’allum.

Ijazah semua sanad kitab ini, Kiai Fadol dapatkan setelah diroyah ilmunya matang, baru beliau mendapatkan riwayat ijazah sanad ilmu. Memang sebelum ke Tebuireng, Kiai Fadol sudah alim. Tak heran, jika Kiai Fadol pernah mengatakan, “Di Tebuireng, belajar sanad”. Hadratussyaikh memandang diroyah-nya sudah dapat, tinggal disempurnakan dengan riwayat-nya. Setiap harinya Kiai Fadol sorogan dan musyafahah langsung dengan Hadratussyaikh, setiap harinya beliau menulis sanad yang diijazahkan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Maka tak heran, jika Kiai Fadol terkenal sebagai santri “Jami’ Sanad” (pengumpul sanad).

Ijazah kitab plus sanadnya dari Hadratussyaikh ini, Kiai Fadol kumpulkan dalam satu buku. Dalamnya memuat sanad dari macam-macam kitab, baik fan tafsir, hadis, fikih, usul fiqh, nahwu, hingga talqin dzikir.

Beliau memiliki prinsip, kitab yang diajarkan kepada santri-santrinya harus kitab yang beliau miliki sanadnya hingga muallifnya. Beliau tidak mau mengajar kitab yang tidak memiliki sanadnya, seperti Mauidzotul Mu’minin, Idhotun Nasyiin, hingga kitab Nadzom Imrithi. Beliau tidak mengajarkannya. Ini bentuk Kehati-hatian nya dalam mengajarkan kitab. Malahan, karena tidak mengajarkan Imrithi, beliau sendiri mengarang nadzoman nahwu yang jumlah baitnya setara dengan Imrithi.

Fungsi Sanad menurut Kiai Fadol yang disampaikan putranya, Kiai Mafakhir,

“Sanad ibarat rantai, dimana dengannya kita dapat tersambung dengan para ulama-ulama mulia sebelum kita. Sehingga dengan itu, kita berharap nama kita ikut tercatut dan tersyaafaati oleh ulama-ulama yang thabaqatnya di atas kita”.

Penulis merupakan alumni hadis angkatan ke-2

Kapankah Sanad Mulai Dipertanyakan?

Penulis: Zumratus Jannah

Sepertinya sudah bebal ditelinga kita khususnya para penggiat hadis, bahwa sanad (urutan rantai perawi hadis) merupakan dasar yang sangat urgent dan selalu eksis dalam setiap pembahasan ilmu hadis, mulai dari apakah sanad itu bersambung atau tidak, apakah terdapat cacat dari rawi di sanad tersebut atau tidak dan lain sebagainya.

Bahkan Abdullah bin al Mubarak menyebutkan :

الإسناد من الدين، لو لا الإسناد لقال من شاء ما شاء

“Bagiku, sanad adalah bagian dari agama, seandainya tidak ada sanad maka setiap orang akan berbicara semaunya apa yang ia inginkan.”[1]

Hal ini disebabkan karena mengingat bahwa hadis merupakan suatu berita yang disampaikan oleh seseorang lalu disampaikan ulang oleh orang lain serta berlanjut pada orang lain lagi begitu seterusnya, maka seleksi ketat pada sanad hadis adalah solusi terbaik untuk menjamin keautentikannya.

Namun apakah ketentuan sanad ini memang diperketat sejak zaman para sahabat ataukah tidak? Karena seperti yang kita ketahui, para sahabat hidup sezaman dengan Rasulullah SAW, dan otomatis mereka bisa memastikan secara langsung kepada Rasullulah tentang kebenaran dari hadis yang mereka dapatkan.

Dalam muqaddimah Shahih Muslim, Ibnu Sirin mengatakan :

لم يكونوا يسألون عن الإسناد فلما وقعت الفتنة قالوا سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فلا يؤخذ حديثم

“Dahulu mereka tidak pernah menanyakan tentang sanad, namun setelah terjadinya fitnah, mereka mengatakan, ‘Sebutkanlah kepada kami perawi-perawi kalian’, maka dilihatlah riwayat ahlussunnah dan diterimalah hadis mereka, lalu dilihat riwayat ahlu bid’ah dan ditolaklah hadis merekamereka”.[2]

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa pernah ada masa dimana sanad tidak terlalu dibutuhkan, tepatnya pada masa sahabat sebelum munculnya ‘fitnah’ tersebut.

Dikarenakan Ibnu Sirin hidup antara tahun 30-110 H, maka fitnah yang dimaksud mengandung tiga kemungkinan :

  1. Pada saat dibunuhnya khalifah Utsman bin Affan pada tahun 36 H.
  2. Terbunuhnya Sayyidina Husain bersamaan dengan masuknya para tentara Yazid bin Muawiyah ke Madinah dan banyaknya kaum muslimin yang gugur pada perang Harrah (63 H).
  3. Pemberontakan al-Mukhtar bin Abi Ubaid al Tsaqafi terhadap bani Umayyah pada tahun 65 H dan berakhir sampai beliau terbunuh tahun 68 H.

Perlu diketahui bahwa Ibnu Sirin berasal dari Iraq serta beliau lahir dan meninggal disana, maka kemungkinan yang paling mendekati adalah fitnah pada masa al Mukhtar bin Abi Ubaid al Tsaqafi. Namun ada pendapat lain yang dinukil Ibnu Rajab dalam Syarah Ilal al Tirmidzi dari Ibrahim an-Nakha’i mengatakan bahwa dipertanyakannya sanad pada masa al-Mukhtar dikarenakan banyaknya fitnah terhadap Ali bin Abi Thalib. Wallahu a’lam[3]

Penulis merupakan mahasantri semester 5

 

[1] Muslim, Shahih Muslim (Beirut : Dar Ihya’ al Turats al Araby) 1/15

[2] Ibid

[3] https://majles.alukah.net/t149910/