• Kontributor
  • Daftar
  • Login
  • Register
Upgrade
Nuskha
Advertisement
  • Home
  • Artikel
    • Kajian Hadis
      • ulumul hadits
      • Sejarah Hadis
    • Artikel Ringan
    • Kajian Fikih
    • Review Literatur
    • biografi
    • tafsir dan ulum al-qur’an
    • Tekno
  • Agenda
  • download
    • Skripsi
    • powerpoint
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
    • Kajian Hadis
      • ulumul hadits
      • Sejarah Hadis
    • Artikel Ringan
    • Kajian Fikih
    • Review Literatur
    • biografi
    • tafsir dan ulum al-qur’an
    • Tekno
  • Agenda
  • download
    • Skripsi
    • powerpoint
No Result
View All Result
Nuskha
No Result
View All Result
Home Artikel Ringan

Riwayat Bil Makna: Validitas Hadis dalam Ilmu Nahwu

Husnu Widadi by Husnu Widadi
Februari 11, 2025
in Artikel Ringan, ulumul hadits
0
Riwayat Bil Makna: Validitas Hadis dalam Ilmu Nahwu

Setiap nabi utusan Allah Swt. datang dengan mu’jizat yang selaras dengan kaum yang ia datangi. Sebut saja Nabi Musa a.s. yang diutus kepada kaum yang kental dengan ilmu sihirnya, maka Nabi Musa a.s. diberi mu’jizat berupa tongkat yang bisa berubah menjadi ular, dengan itu kaumnya bisa membedakan mana yang di luar kemampuan manusia. Begitu juga dengan Nabi Muhammad saw. yang turun pada kaum yang mencintai bahasa.  Orang  Arab pada masa jahiliyah  memperjual-belikan syair-syair mereka di pasar. Pada saat itu orang Arab berada pada puncak keemasan dalam  syair-syair dan keindahan bahasa. Maka mu’jizat Nabi Muhammad saw. adalah sebagai manusia yang paling fasih dalam berbahasa dan paling tinggi balaghahnya.[1]

Rasulullah memiliki keistimewaan jawami’ul kalim yakni ucapan singkat dengan retorika sempurna dan sarat  makna. Keseimbangan struktur dan pemilihan kata yang baik  menjadikan hadis-hadis nabi sangat layak untuk dijadikan sebagai pedoman dalam bahasa Arab.

Para sahabat nabi berbeda-beda dalam meriwayatkan hadis, sebagian ada yang meriwayatkan hadis secara sempurna dari segi redaksi matannya yang dikenal dengan istilah riwayat bil lafdzi. Sedangkan sebagian yang lain meriwayatkan dengan  riwayat bil makna, yakni redaksi matan hadis tidak selalu sama dengan apa yang disampaikan nabi namun tetap sesuai dengan konteks yang ada dalam hadis tersebut. Di antara nama-nama sahabat yang memperbolehkan riwayat bil makna adalah Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Abu Hurairah dan beberapa dari kalangan tabiin seperti Hasan al-Bashri, Ibrahim an-Nakha’i, ‘Amr bin Dinar dan lain sebagainya.[2]

Imam Ibnu Sirrin berkata:

كنت أسمع الحديث من عشرة، المعنى واحد والألفاظ مختلفة

“Aku mendengar satu hadis dari sepuluh orang dengan makna yang sama namun redaksinya berbeda-beda”. Ibnu Sirrin merupakan ulama hadis yang  masuk dalam kategori  perawi mutasyaddid, beliau hanya menerima periwayatan hadis bil lafdzi. (Khatib al-Baghdadi 206)

Para ulama ahli nahwu kalangan muta’akhirin menilai bahwa kebolehan riwayat hadis bil makna inilah yang menyebabkan para ulama ahli nahwu generasi awal seperti Imam Sibawaih dan lainnya tidak menjadikan hadis nabi sebagai pedoman dalam teori kebahasaan dan memilih berpegangan pada Al-Qur’an dan syair-syair orisinil orang Arab.. Syekh Abdul Qodir al-Baghdadi berpandangan bahwa hadis-hadis macam itu telah banyak mengalami modifikasi karena kemungkinan para perawi hanya menyampaikan murodif (persamaan) dari suatu kata, banyak ditemukan  kesalahan kalimat dalam hadis apalagi kebanyakan perawi hadis berasal dari luar arab (‘ajami).[3]  Syekh Ahmad al-Iskandari mengatakan bahwa sejak era awal Abu Aswad ad-Duali sampai era Imam Ibnu Malik tidak pernah menjadikan hadis nabi sebagai rujukan dalam ilmu nahwu kecuali pada hadis mutawatir.[4]

Namun pandangan ini tidak sepenuhnya benar, sebab klaim yang mereka sandarkan kepada para ulama nahwu generasi awal yang tidak menjadikan hadis sebagai acuan dalam kaidah bahasa sebenarnya hanya propaganda belaka, para ahli nahwu mencari-cari alasan untuk menguatkan argumen mereka agar seolah-olah hadis nabi memang tidak layak digunakan sebagai pegangan dalam penerapan struktur kaidah kebahasaan.

Ada beberapa poin untuk menanggapi klaim tersebut. Pertama, hadis nabi lebih sahih sanadnya daripada syair-syair Arab, sebab hadis dikutip melalui perawi yang dabit dan adil hingga sampai pada nabi Muhammad saw. Sedangkan para ahli nahwu hanya mengutip syair dari seseorang yang bahkan tidak dikenali identitasnya.

Kedua, para ahli hadis yang memperbolehkan riwayat bil makna tentu sepakat bahwa riwayat bil lafdzi lebih utama. Kebolehan riwayat bil makna hanya pada yang belum pernah dibukukan dan hanya dalam keadaan mendesak.  Para ulama hadis memberikan persyaratan yang sangat ketat dalam penerapan riwayat bil makna, salah satunya adalah seorang perawi hadis harus benar-benar menguasai kaidah bahasa dan memahami setiap pergantian kata yang dilakukannya sehingga tidak mengubah makna yang terkandung di dalam hadis tersebut. Jika tidak demikian maka haram bagi seorang perawi untuk meriwayatkan hadis bil makna.[5]

Ketiga, jika memang ditemukan kesalahan pada sebagian redaksi hadis bukan berarti menjadikan hadis nabi tidak layak digunakan sebagai pegangan dalam tatanan bahasa secara keseluruhan, namun hanya berlaku pada hadis itu saja dan diarahkan kepada keterbatasan dabit seorang perawi secara khusus.

Keempat, jika memang benar bahwa para ulama ahli nahwu generasi awal tidak menjadikan hadis sebagai acuan dalam kaidah bahasa bukan berarti mereka tidak memperbolehkan hal tersebut. Karena bisa jadi para ulama nahwu meninggalkan hadis sebagai dalil dalam ilmu nahwu dikarenakan sulitnya mendapatkan hadis pada saat itu. Terbukti bahwa generasi awal para pakar nahwu mulai dari guru-gurunya Imam Sibawaih sampai lahirnya kitab Shahih Bukhari tidak banyak mengutip hadis karena waktu itu hadis nabi belum dibukukan.[6]

Maka kesimpulannya, semua tuduhan para ulama nahwu kalangan muta’akhirin yang memandang bahwa hadis tidak layak dipakai sebagai acuan dalam kaidah bahasa dengan alasan-alasan di  atas tidaklah benar. Hadis nabi merupakan salah satu mahakarya intelektual Islam yang sudah seharusnya menjadi dasar pokok segala macam keilmuan terutama dalam ilmu gramatikal Arab.


[1]Asy-Sya’rani, Tafsir Asy-Sya’rani 14/8727

[2] Jamaluddin al-Qasimi, Qowaid at-Tahdis 1/221

[3] Abdul Qodir al-Baghdadi, Khozinatul Adab 1/5-6

[4] Ahmad al-Iskandari, Majma’ al-Lughah al-Arabiyyah 1/299

[5] Syamsuddin as-Sakhawi, Fathul Mughits fi Syarhi Alfiyah al-Hadis 3/156

[6] Muhammad bin Thayyib al-Fasi, Syarh Kifayah al-Mutahaffidz 16


Penulis: Mahasantri M2 (Marhalah Tsaniyah)

Editor: Vigar Ramadhan Dano M.D.

Tags: artikelhadisMahasantrinahwu
Previous Post

Menggali Makna Tradisi Nyekar: Dari Sunnah Nabi SAW Hingga Kearifan Lokal

Next Post

Kajian Hadis: “Dimanakah Allah? Allah Di Langit”

Husnu Widadi

Husnu Widadi

Mahasantri Marhalah Tsaniyyah Ma'had Aly Hasyim Asy'ari, sedang menggeluti ilmu keagamaan terkhusus yang berbasis turots hadis

Related Posts

Pentingnya Memahami Perbedaan Antara Flexing dan Tahadduts bi An-Ni’mah
Artikel Ringan

Pentingnya Memahami Perbedaan Antara Flexing dan Tahadduts bi An-Ni’mah

by Irma Nurdin
Desember 31, 2025
Allah Open House Lima Kali, Manusia Open Excuse
Artikel Ringan

Allah Open House Lima Kali, Manusia Open Excuse

by Ridwan GG
November 27, 2025
Memahami Pemikiran Syekh Yusuf al-Qardhawi secara Metodologis Dalam Kitab Kayfa Nata’amal Ma’a as-Sunnah an-Nabawiyyah
Artikel

Memahami Pemikiran Syekh Yusuf al-Qardhawi secara Metodologis Dalam Kitab Kayfa Nata’amal Ma’a as-Sunnah an-Nabawiyyah

by Naufal Afif
November 9, 2025
Memahami Pemikiran Prof. Ali Musthafa Ya’kub secara Metodologis
Artikel

Memahami Pemikiran Prof. Ali Musthafa Ya’kub secara Metodologis

by Naufal Afif
November 9, 2025
Meluruskan Kesalahpahaman Hadis “Salat Orang Mabuk Tidak Diterima 40 Hari”
Artikel Ringan

Meluruskan Kesalahpahaman Hadis “Salat Orang Mabuk Tidak Diterima 40 Hari”

by Ridwan GG
Oktober 13, 2025
Next Post
Kajian Hadis: “Dimanakah Allah? Allah Di Langit”

Kajian Hadis: "Dimanakah Allah? Allah Di Langit”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

register akun perpus maha

Premium Content

Ingkar Sunnah Modern: Narasi yang Dipersoalkan dan Tokoh-Tokohnya (Bagian II)

Ingkar Sunnah Modern: Narasi yang Dipersoalkan dan Tokoh-Tokohnya (Bagian II)

Mei 20, 2025
Konsep Imsakiyah dalam Perspektif Hadis

Konsep Imsakiyah dalam Perspektif Hadis

Maret 19, 2025
Peran Sentral Ummul Mukminin dalam Pewarisan Hadis-Hadis Rumah Tangga

Peran Sentral Ummul Mukminin dalam Pewarisan Hadis-Hadis Rumah Tangga

Mei 18, 2025

Browse by Category

  • Artikel
  • Artikel Ringan
  • Berita
  • biografi
  • Feminisme
  • Fikih Ibadah
  • Fikih Muamalah
  • Fiqhul Hadis
  • Hadis Tematik
  • Hasyimian
  • Kajian Fikih
  • Kajian Hadis
  • Library Management System
  • Opini
  • Orientalis
  • powerpoint
  • Resensi
  • Review Literatur
  • Sejarah Hadis
  • tafsir dan ulum al-qur'an
  • Tasawuf dan Tarekat
  • Tekno
  • ulumul hadits
  • Uncategorized

Browse by Tags

agama ahli fiqih Alam artikel bumi demonstrasi dirasat asanid fikih hadis hadist Hasyim Asy'ari ilmu hadis islam jurnal Kajianhadis kajian hadis kajianhadist kitab kritik hadis lingkungan ma'hadaly ma'had aly ma'hadalyhasyimasy'ari MAHA mahad aly mahad aly hasyim asyari Mahasantri masyayikh Tebuireng Metodelogi Muhaddis musthalah hadits Nabi Muhammad Nuskha OJS orientalis pesantren Puasa Ramadhan sanad santri sejarah Shalat takhrij Tarawih Tebuireng
Nuskha

© 2023 Nuskha - powered by Perpustakaan Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng.

Navigate Site

  • Account
  • Edit Profile
  • Game Hadis
  • Koleksi Kitab Digital
  • Kontributor
  • Login
  • Login
  • Logout
  • My Profile
  • NUSKHA
  • Password Reset
  • Password Reset
  • Pendaftaran Akun Penulis
  • Perpus MAHA
  • Register
  • جدول مراتب الجرح والتعديل

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Kajian Hadis
  • Kajian Fikih
  • Berita
  • Mulai menulis

© 2023 Nuskha - powered by Perpustakaan Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?