Salah seorang cendikiawan masyhur dari tanah Melayu adalah Sayyid M. Naquib Al-Attas. Nama lengkapnya adalah Muhammad Naquib ibn Ali ibn Abdulllah ibn Muhsin Al-Attas. Ia lahir pada 5 September 1931 di Bogor, Jawa Barat. Jika ditarik ke atas, maka silsilah keluarganya terpaut dalam keluarga Ba’alawi di Hadramaut yang bersambung kepada Imam Hussein. Pada usia lima tahun ia dikirim ke Johor untuk belajar di Sekolah Dasar Ngee Heng (1936-1941). Saat pendudukan Jepang ia kembali ke Jawa, Sukabumi untuk meneruskan pendidikannya di Madrasah Al-‘Urwatu Al-Wuthqa (1941-1945). Setelahnya ia kembali lagi ke Johor dan menetap Georgetown, Pulau Pinang, Malaysia hingga kini.[1]
Ia merupakan pembaharu dalam dunia pendidikan Islam. Naquib Al-Attas memandang bahwa kesenjangan ekonomi, sains, dan teknologi dalam Islam bukan permasalahan inti dari pada umat Islam masa kini. Jika kebanyakan para pemimpin umat Islam hanya memperhatikan kulit luar dari pada inti permasalahan yang mengggiring umat ke dalam kancah ketidakberuntungan ini, maka Naquib Al-Attas melihat bahwa inti pokok permasalahan umat Islam yakni kehilangan adab (the loss of adab). Kehilangan adab tersebut disebabkan oleh kekeliruan dan kehilangan ilmu pengetahuan. Lebih rincinya:
- Kekeliruan dan kesilapan persepsi tentang ilmu pengetahuan, yang akan menciptakan:
- Kehilangan adab dalam masyarakat. Akibat yang timbul dari perkara pertama dan kedua yakni:
- Munculnya pemimpin yang bukan saja tidak layak memimpin umat, malah juga tidak memiliki akhlak yang luhur dan intelektual dan spiritual yang cukup.
Kekeliruan dan kesilapan dalam ilmu pengetahuan ini, bagi Al-Attas, adalah faktor paling bertanggungjawab.
Baginya, kebangkitan umat Islam tidak hanya diawali dengan memberikan perhatian besar terhadap penyediaan sarana pendidikan. Sesuatu yang lebih penting daripada itu adalah penyelesaian konsepsi ilmu yang benar. Konsepsi keilmuan yang benar akan melahirkan adab yang baik. Sebagai contoh, adab terhadap diri sendiri bermula ketika seseorang mengakui bahwa dirinya terdiri dari dua unsur; ‘aqli dan hayawani. Adab dalam konteks hubungan antara sesama manusia berarti norma etika sepatutnya. Dalam hal ini kedudukan seseorang bukan ditentukan oleh kekuatan, kekayaan, atau keturunan melainkan ditentukan oleh ilmu, akal, dan perbuatan mulia. Pada konteks ilmu, adab berarti disiplin intelektual yang mengetahui hirarki keilmuan. Misal; bahwasannya fardu ‘ain lebih utama dari pada fard al-kifayah.
Itulah alasan Naquib Al-Attas menamakan pendidikan dengan istilah ta’dib. Ia mendasarinya dengan hadis:
أَدَّبَنِي ربِّي، فأَحْسَنَ تَأْدِيبِي
Al-Attas menerjemahkan dengan: “Tuhanku telah mendidikku, maka sangat baiklah mutu pendidikanku”
Lalu, bagaimana hasil investigasi dari hadis tersebut menurut ilmu hadis? Ini penting karena kita akan tahu proses living hadis yang berasal dari teks, hingga menjadi falsafah pendidikan Islam bagi Naquib Al-Attas. Sebelum itu, artikel ini memperkenalkan sumber hadis, kualitas, seta pemahaman para ulama’ terkait hadis tersebut. Hal ini diinvestigasi melalui perangkat ilmu hadis; takhrij, dirasah sanad dan matan, serta fiqh al-hadis.
Investigasi Pondasi Hadis Addabani Rabbi fa Ahsana Ta’dibi
Ibn Taimiyah menilai bahwa hadis Addabani Rabbi fa Ahsana Ta’dibi merupakan hadis hadis yang tidak diketahui sumber aslinya, meski demikian makna hadis tersebut sahih. Demikian disebutkan oleh Ibn Taimiyah dalam kitab Ahadis al-Qussas.[2] Sementara Al-Sakhawi menyebutkan dalam al-Maqashid al-Hasanah bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh Ali ibn Abi Thalib. Hanya saja hadis tersebut bersanad sangat dhaif (dhaif jiddan). Alasan kedaifannya disebabkan oleh sifat gharib daripada hadis tersebut. Riwayat teks:
عَنْ أَبِي عُمَارَةَ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَدِمَ بَنُو نَهْدِ بْنِ زَيْدٍ عَلَى النَّبِيِّ فَقَالُوا: أَتَيْنَاكَ مِنْ غَوْرَيْ تُهَامَةَ، وَذَكَرَ خُطْبَتَهُمْ، وَمَا أَجَابَهُمْ بِهِ النَّبِيُّ قَالَ: فَقُلْنَا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، نَحْنُ بَنُو أَبٍ وَاحِدٍ، وَنَشَأْنَا فِي بَلَدٍ وَاحِدٍ، وَإِنَّكَ لَتُكَلِّمُ الْعَرَبَ بِلِسَانٍ مَا نَفْهَمُ أَكْثَرَهُ، فَقَالَ: «إنَّ اللَّهَ أَدَّبَنِي فَأَحْسَنَ أَدَبِي، وَنَشَأْتُ فِي بَنِي سَعْدِ بْنِ بَكْرٍ»
Dari Abi ‘Umarah, dari Ali RA menceritakan: bahwa bani Nahd ibn Zaid mendatangi Nabi seraya berkata. “Kami mendatangimu dari lembah Tuhamah”. Lalu mereka menuturkan keperluannya, namun Nabi tidak menjawabnya. Kemudian mereka berkata, “Wahai Nabi Allah, kita ini satu turunan, hidup di daerah yang sama, tetapi engkau berbicara kepada orang-orang Arab dengan bahasa yang kebanyakan kami tidak memahaminya.” Lalu Nabi menjawab, “Sesungguhnya Allah mendidikku, sehingga baguslah pendidikanku. Dan aku hidup di bani Sa’ad ibn Bakr.”
Riwayat lain juga disebutkan oleh Abu Sa’ad ibn Al-Sam’ani dalam Adab al-Imla’ dengan sanad munqathi’.
قال رسول اللَّه: «إن اللَّه أدبني فأحسن تأديبي، ثم أمرني بمكارم الأخلاق
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mendidikku, sehingga baguslah pendidikanku. Sekaligus memerintahkanku untuk berakhlak baik.”
Tentu dapat dipahami bahwa apa yang dinilai oleh Ibn Taimiyah terhadap hadis di atas adalah tepat. Sebab tidak ada sumber utama yang menyebutkan sanadnya secara jelas dan tersambung. Meski demikian ia tidak menafikan bahwa makna daripada hadisnya ialah sahih. Sehingga pada kasus ini kita harus memegang nasihat Al-Sakhawi yakni “kami harap kita dapat membedakan antara kesahihan ungkapan dari segi maknanya dan penisbatannya kepada Rasulullah.”[3]
Pada ranah pemahaman penulis menukil hasil fiqh al-hadis dari ulama’ tafsir isyari. Usai dilakukan pelacakan teks hadis tersebut, penulis menjumpai hadis tersebut banyak terkutip dalam tafsir-tafsir isyari. Di antaranya terdapat dalam Ghara’ib al-Qur’an karya Nidzamuddin Al-Naisaburi ketika menafsiri surah Al-Najm ayat 3-5; wa ma yanthiqu ‘an al-hawa, in huwa illa wahyun yuha, ‘allamahu syadid al-quwa. Ayat tersebut dipahami oleh mufasir sebagai argumen bahwa Nabi Saw. tidak mungkin diajari oleh manusia. Hal tersebut dikuatkan oleh mufasir dengan hadis Addabani Rabbi fa Ahsana Ta’dibi.[4]
Selain itu Ismail Haqqi dalam Ruh al-Bayan juga mengutip hadis tersebut untuk menguatkan argumentasi dalam ayat 53 surah Al-Ahzab tentang aturan masuk rumah seseorang hingga pemilik rumah mengizinkan. Menurutnya adab itu puncak dari pengamalan dan permulaan dari sebuah hal (keadaan batin) dalam sisi Allah Swt. Sehingga setiap anggota zahir itu wajib memiliki adab, begitu pun anggota batin.[5]
Dari sini dapat dipahami bahwa apa yang dipahami oleh Naquib Al-Attas terhadap hadis tersebut selaras dengan pemahaman para ulama. Keduanya; baik Naquib dan para ulama’ tafsir yang disebutkan di atas tidak mengomentari tentang kesahihan penisbatan hadis tersebut kepada Nabi Saw. Mereka hanya menggunakan hadis tersebut untuk mengambil maknanya. Artinya, hadis Addabani Rabbi fa Ahsana Ta’dibi masih banyak digunakan sebagai argumentasi oleh para ahli dari segi makna, meski penisbatannya kepada Nabi Saw. tidak sah.
[1] Wan Mohd Nor Wan Daud, Falsafah dan Amalan Pendidikan Islam S. M. Naquib Al-Attas, (Penerbit Universiti Malaya, Kuala Lumpur: 2023).
[2] ابن تيمية, أحاديث القصاص تحقيق: محمد بن لطفي الصباغ. 92-93
[3] السخاوي, المقاصد الحسنة في بيان كثير من الأحاديث المشتهرة على الألسنة.
[4] نظام الدين الحسن بن محمد بن حسين القمي النيسابوري, غرائب القرآن ورغائب الفرقان تحقيق: زكريا عميرات (بيروت: دار الكتب العلمية, 1996) 6/199
[5] إسماعيل حقي بن مصطفى الحنفي الخلوتي البروسي, روح البيان في تفسير القرآن تحقيق: عبد اللطيف حسن عبد الرحمن (بيروت: دار الكتب العلمية، 2018) 7/215
Editor: Vigar Ramadhan Dano Muhamad Daeng










