• Kontributor
  • Daftar
  • Login
  • Register
Upgrade
Nuskha
Advertisement
  • Home
  • Artikel
    • Kajian Hadis
      • ulumul hadits
      • Sejarah Hadis
    • Artikel Ringan
    • Kajian Fikih
    • Review Literatur
    • biografi
    • tafsir dan ulum al-qur’an
    • Tekno
  • Agenda
  • download
    • Skripsi
    • powerpoint
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
    • Kajian Hadis
      • ulumul hadits
      • Sejarah Hadis
    • Artikel Ringan
    • Kajian Fikih
    • Review Literatur
    • biografi
    • tafsir dan ulum al-qur’an
    • Tekno
  • Agenda
  • download
    • Skripsi
    • powerpoint
No Result
View All Result
Nuskha
No Result
View All Result
Home Artikel

Jejak Literasi Hadis: Metode dan Perjalanan Pembukuannya (Part 1)

Vigar Ramadhan by Vigar Ramadhan
Januari 26, 2025
in Artikel, Sejarah Hadis, Uncategorized
0
Jejak Literasi Hadis: Metode dan Perjalanan Pembukuannya (Part 1)

Hadis merupakan salah satu sumber utama dalam ajaran Islam yang menjadi rujukan setelah Al-Qur’an. Keberadaan hadis tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga historis dan akademis, karena proses penghimpunannya melalui perjalanan panjang yang penuh kehati-hatian dan dedikasi. Salah satu topik penting dalam studi hadis adalah sejarah penulisan dan metodologi pembukuan hadis.

Menurut Prof. Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Kritik Hadis, terdapat kesalahpahaman yang sering muncul tentang anggapan bahwa orang pertama yang menulis hadis adalah Ibnu Syihab al-Zuhri. Namun, penelitian mutakhir telah meluruskan anggapan ini dengan mengungkap bahwa banyak sahabat Nabi Muhammad saw. telah menulis hadis sejak masa beliau hidup. Artikel ini akan membahas sedikit perkembangan metodologi pembukuan hadis dari masa Nabi saw. hingga periode ulama klasik, mengupas berbagai metode seperti juz’, atraf, muwatta’, mushannaf, musnad, jami’, mustakhraj, mustadrak, sunan, mu’jam, majma’, dan zawaid, yang menunjukkan betapa sistematis dan beragamnya cara ulama dalam menjaga warisan hadis.

Kesalahpahaman sementara orang bahwa orang yang pertama kali menulis hadis adalah Ibnu Syihab al-Zuhri (w. 123 H) telah diluruskan oleh pakar-pakar ilmu hadis kontemporer seperti Prof. Dr. Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib dan Prof. Dr. Muhammad Mustafa Azami. Hal itu karena menurut penelitian mutakhir terbukti bahwa tidak kurang dari 52 Sahabat Nabi saw. memiliki tulisan-tulisan hadis yang mereka lakukan pada masa Nabi saw. Prof. Dr. Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib bahkan menyatakan bahwa orang yang pertama kali menulis hadis di hadapan Nabi saw. dan atas restu beliau adalah ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash (w. 65 H), di mana tulisannya kemudian dibukukan dengan judul al-Shahifah al-Shahihah. Karenanya, al-Zuhri bukanlah orang yang pertama kali menulis hadis, melainkan, tepatnya beliau adalah orang yang pertama kali mengumpulkan tulisan-tulisan hadis.

Metode Juz’ dan Atraf 

Sejak masa Nabi saw. sampai kira-kira pertengahan abad ke-2 H, pembukuan hadis masih sangat sederhana. Kesederhanaan ini tampak dalam bentuk dan metodenya. Umumnya kitab-kitab hadis yang ditulis pada masa itu tidak diberi nama tertentu oleh penulisnya, sehingga kitab-kitab itu kemudian populer dengan penulisnya. Misalnya, Shahifah Amr al-Mu’minin Ali bin Abi Thalib, Shahifah Jabir bin Abdullah al-Anshari, dan lain-lain. Memang ada juga shahifah (kitab) yang diberi nama khusus oleh penulisnya seperti al-Shahifah al-Sadiqah dan al-Shahifah al-Shahihah milik Hammam bin Munabbih (w. 131 H). Namun, penamaan kitab seperti itu tidak mendominasi penulisan hadis pada masa itu.

Kesederhanaan yang lain juga tampak dalam metode pembukuannya, di mana matan-matan hadis disusun berdasarkan guru yang meriwayatkan hadis kepada penulis kitab. Metode ini disebut metode juz’ yang secara kebahasaan berarti bagian. Seperti kitab hadis tulisan Suhail bin Abu Shalih (w. 188 H), di mana ia hanya menyebutkan satu jalur sanad yang meriwayatkan hadis-hadis yang ditulisnya, yaitu Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi saw.

Di samping metode juz’, pada masa klasik ini juga sudah dikenal metode atraf. Atraf berarti pangkal-pangkal. Metode atraf dalam ilmu hadis adalah pembukaan hadis dengan menyebutkan pangkalnya saja sebagai petunjuk matan hadis selengkapnya. Di antara ulama klasik yang menulis hadis dengan metode ini ialah Auf bin Abu Jamilah al-‘Abdi (w. 146 H). Namun, menurut Prof. Ali Mustafa tampaknya metode atraf ini lebih banyak berkembang pada abad ke-4 dan ke-5 H.

Klasifikasi Hadis

Sampai kira-kira pertengahan abad ke-2 H, pembukuan hadis belum mengenal klasifikasi berdasarkan topiknya atau yang populer disebut metode tabwib (klasifikasi hadis berdasarkan topik atau babnya). Baru sejak saat itu para penulis hadis dalam membukukan hadis menggunakan metode tabwib. Namun tidak ada kejelasan siapakah ulama yang pertama kali menggunakan metode itu. Ada yang menyebutkan nama Ibnu Juraij (w. 150 H), dan ada pula yang menyebutkan nama lain.

Metode klasifikasi ini pada tahap berikutnya berkembang menjadi berbagai metode, dan kemudian metode-metode itu menjadi populer sebagai nama kitab-kitab hadis. Karena, seperti disinggung di muka, pada umumnya para penulis hadis tidak memberikan nama tertentu untuk kitab-kitab tulisannya. Metode-metode itu adalah sebagai berikut:

Metode Muwatta’

Secara kebahasaan kata muwatta’ berarti sesuatu yang dimudahkan. Sedang menurut terminologi ilmu hadis, muwatta’ adalah metode pembukuan hadis yang berdasarkan klasifikasi hukum Islam (abwab fiqhiyah) dan mencantumkan hadis-hadis marfu’ (berasal dari Nabi saw.), mauquf (berasal dari Sahabat), dan maqtu’ (berasal dari Tabi’in). Dari kata muwatta’ timbul kesan bahwa motivasi pembukuan hadis dengan metode ini adalah untuk memudahkan orang dalam menemukan hadis. Barangkali pada masa itu orang-orang sudah mulai kesulitan untuk merujuk kepada suatu hadis.

Banyak sekali ulama yang menyusun kitab hadis dengan menggunakan metode muwatta’ ini. Antara lain Imam Ibnu Abi Dzi’b (w. 158 H), Imam Malik bin Anas (w. 179 H), Imam Abu Muhammad al-Marwazi (w. 293 H), dan lain-lain. Namun tampaknya kitab Imam Malik adalah yang paling populer di antara kitab-kitab muwatta’ yang lain, sehingga apabila disebutkan nama muwatta’, maka konotasinya selalu tertuju kepada kitab beliau.

Metode Mushannaf

Meskipun secara kebahasaan kata mushannaf berarti sesuatu yang disusun, namun secara terminologi kata mushannaf ini sama artinya dengan kata muwatta’, yaitu metode pembukuan hadis berdasarkan klasifikasi hukum Islam (abwab fiqhiyah) dan mencantumkan hadis-hadis marfu’, mauquf, dan maqtu’. Seperti halnya muwatta’, ulama yang menulis hadis dengan metode mushannaf ini juga banyak. Di antaranya, Imam Hammad bin Salamah (w. 167 H), Imam Waki’ bin al-Jarrah (w. 196 H), Imam ‘Abd al-Razzaq (w. 211 H), Imam Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H), dan lain-lain.

Dalam rangka pemeliharaan terhadap hadis Nabi saw., para ulama-ulama terdahulu memiliki banyak metode dalam pengodifikasian hadis. Berbagai metode tersebut tentu disusun guna mempermudah generasi-generasi berikutnya dalam mempelajari hadis. Pelajar hadis bisa memilih untuk mempelajari kitab-kitab hadis dengan metodologi imam tertentu disesuaikan dengan kebutuhannya. Contohnya saja, bagi mereka yang  ingin mempelajari hadis-hadis yang diriwayatkan oleh salah satu Sahabat Nabi saw., maka mereka bisa merujuk kitab-kitab hadis yang disusun dengan metode musnad atau metode mu’jam yang akan dibahas dalam tulisan selanjutnya.

Sekian dulu, kita lanjut ke part 2.


Penulis: Mahasantri semester 4 (Angkatan Syalmahat)

Editor: Mawil Hasanah Almusaddadah

Tags: artikelhadisMahasantriMetodelogi
Previous Post

Eksplorasi Teori Hadis Nabia Abbott: Explosive Isnad dan Isnad Family

Next Post

Jejak Literasi Hadis: Metode dan Perjalanan Pembukuannya (Part 2)

Vigar Ramadhan

Vigar Ramadhan

Saya Vigar, anak lelaki yang berasal dari keluarga baik-baik. Seorang manusia jelata yang bercita-cita menjadi rakyat biasa. Yang kadang baca, kadang nulis, seringnya ngopi.

Related Posts

Wakaf: Lebih dari Sekadar Ubudiyyah, Refleksi Hadis Nabi dan Pemikiran M.A. Mannan
Artikel

Wakaf: Lebih dari Sekadar Ubudiyyah, Refleksi Hadis Nabi dan Pemikiran M.A. Mannan

by Ridwan GG
Desember 31, 2025
Pentingnya Memahami Perbedaan Antara Flexing dan Tahadduts bi An-Ni’mah
Artikel Ringan

Pentingnya Memahami Perbedaan Antara Flexing dan Tahadduts bi An-Ni’mah

by Irma Nurdin
Desember 31, 2025
Allah Open House Lima Kali, Manusia Open Excuse
Artikel Ringan

Allah Open House Lima Kali, Manusia Open Excuse

by Ridwan GG
November 27, 2025
Menimbang antara Upaya Melestarikan Tradisi Tabarruk dalam Periwayatan Hadis Musalsal dan Tuntutan Keabsahan Sanad Ilmiah dalam Kajian Hadis
Artikel

Menimbang antara Upaya Melestarikan Tradisi Tabarruk dalam Periwayatan Hadis Musalsal dan Tuntutan Keabsahan Sanad Ilmiah dalam Kajian Hadis

by Ma’sum
November 24, 2025
Bank Konvensional vs Bank Syari’ah : Kajian Komprehensif atas Interest Rate (Suku Bunga) dan konsep Riba’
Artikel

Bank Konvensional vs Bank Syari’ah : Kajian Komprehensif atas Interest Rate (Suku Bunga) dan konsep Riba’

by Dhion Rahmadi Fajar
November 15, 2025
Next Post
Jejak Literasi Hadis: Metode dan Perjalanan Pembukuannya (Part 1)

Jejak Literasi Hadis: Metode dan Perjalanan Pembukuannya (Part 2)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

register akun perpus maha

Premium Content

Formula Hadis Menyikapi Insecure

Formula Hadis Menyikapi Insecure

Agustus 22, 2024
Membaca Sikap Khulafa’ ar-Rasyidin saat Hadapi Kritik Rakyat: Refleksi Konstruktif terhadap Respons ‘Tone-Deaf’ Pemerintah Hingga ‘Insult Politics’ Pejabat Negara

Membaca Sikap Khulafa’ ar-Rasyidin saat Hadapi Kritik Rakyat: Refleksi Konstruktif terhadap Respons ‘Tone-Deaf’ Pemerintah Hingga ‘Insult Politics’ Pejabat Negara

September 11, 2025
Tabayyun di Era Digital

Tabayyun di Era Digital

September 23, 2023

Browse by Category

  • Artikel
  • Artikel Ringan
  • Berita
  • biografi
  • Feminisme
  • Fikih Ibadah
  • Fikih Muamalah
  • Fiqhul Hadis
  • Hadis Tematik
  • Hasyimian
  • Kajian Fikih
  • Kajian Hadis
  • Library Management System
  • Opini
  • Orientalis
  • powerpoint
  • Resensi
  • Review Literatur
  • Sejarah Hadis
  • tafsir dan ulum al-qur'an
  • Tasawuf dan Tarekat
  • Tekno
  • ulumul hadits
  • Uncategorized

Browse by Tags

agama ahli fiqih Alam artikel bumi demonstrasi dirasat asanid fikih hadis hadist Hasyim Asy'ari ilmu hadis islam jurnal Kajianhadis kajian hadis kajianhadist kitab kritik hadis lingkungan ma'hadaly ma'had aly ma'hadalyhasyimasy'ari MAHA mahad aly mahad aly hasyim asyari Mahasantri masyayikh Tebuireng Metodelogi Muhaddis musthalah hadits Nabi Muhammad Nuskha OJS orientalis pesantren Puasa Ramadhan sanad santri sejarah Shalat takhrij Tarawih Tebuireng
Nuskha

© 2023 Nuskha - powered by Perpustakaan Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng.

Navigate Site

  • Account
  • Edit Profile
  • Game Hadis
  • Koleksi Kitab Digital
  • Kontributor
  • Login
  • Login
  • Logout
  • My Profile
  • NUSKHA
  • Password Reset
  • Password Reset
  • Pendaftaran Akun Penulis
  • Perpus MAHA
  • Register
  • جدول مراتب الجرح والتعديل

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Kajian Hadis
  • Kajian Fikih
  • Berita
  • Mulai menulis

© 2023 Nuskha - powered by Perpustakaan Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?